Prof. Dr. Tholchah Hasan saat mengajukan usulan atas pengembangan ilmu falak di Indonesia pada acara Mudzakarah Falaqiyah Nasional dan Diskusi Nasional Ilmu Falak di Pesantren Seblak pada Kamis (07/09/2017). (Foto: Anshori)

Tebuireng.online— Dalam acara Mudzakarah Falaqiyah Nasional dan Diskusi Nasional Ilmu Falak pada Kamis (07/09/2017) di Pesantren Salafiyah Seblak, Prof. Dr. KH. Tholchah Hasan, yang juga hadir turut memberikan komentar terkait ilmu falak. Beliau menganggap, ilmu falak di Indonesia, tergolong ilmu pengetahuan yang belum dinamik.

“Ilmu Falak sekarang hampir mati, karena sampai sekarang di Indonesia belum mendapatkan nobel penghargaan. Akan tetapi ilmu astronomi sudah mendapatkan nobel penghargaan,” ungkap Menteri Agama RiI era Presiden KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur itu.

Untuk itu, menurut beliau, diperlukan aset kerja sama  antar pesantren, Kemenag, dan lembaga-lembaga ilmu falak untuk mewujudkan potensi ilmu falak agar lebih berkembang. “Harusnya juga merevitalisasi pembelajaran ilmu falak,” tambah mantan Rektor Universitas Merdeka Malang itu.

Kiai Tholchah juga memberikan usul agar pelembagaan tradisi akademik ilmu falak yang dulu menjadi ciri pesantren, digalakkan. Namun, lanjut beliau, tradisi itu sekarang mungkin menurun karena beberapa hal. “Untuk meningkatkannya dengan menyadarkan edukasi falaqiyah yang perlu dikembangkan di beberapa daerah,” lanjut beliau.

Peserta seminar yang berjumlah sekitar 150 orang datang dari berbagai daerah, seperti Mataram, Jakarta, Surabaya, dan beberapa daerah lain. Mereka adalah perwakilan dari Direktorat PD Pontren Kemenag RI, pewakilan lembaga penelitian atau observatorium ilmu falak, pondok pesantren dengan kajian Ilmu falak, perguruan tinggi dengan jurusan/prodi ilmu falak/astronomi, beberapa ilmuwan falak, santri, mahasiswa, siswa, awak media massa.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Selain, Prof. Dr. KH. Tholchah Hasan beberapa tokoh dan pakar ilmu falak hadir di antaranya Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama RI,  DR. Ahmad Zayadi, Alumni Pesantren Salafiyah Seblak dan pendiri Observatorium Imah No’ong, Bandung, Hendro Setyanto, Msc., dan peneliti di Observatorium Bosscha Bandung, Prof. DR. Moedji Raharto.

Selain itu hadir pula, Dr. Ahmad Izzuddin pakar ilmu falak dari UIN Walisongo Semarang, Kepala Observatorium Ilmu Falak (OIF) Universitas Muhammadiyah Sumetera Utara, Dr. Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar, pakar astronomi ITB dan Kepala Observatorium Bosscha Bandung, DR. Mahasena Putra, M.Sc. dan DR. Bambang Setiahadi dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan).


Pewarta:            Anita Nur Laili Mahbubah

Editor/Publisher: M. Abror Rosyidin