tebuireng.online—Video penyambukan terhadap tiga santri yang beredar serentak membuat banyak opini dari berbagai kalangan masyarakat. Termasuk juga tanggapan yang disampaikan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Dr(Hc). Ir. KH. Salahuddin Wahid.

Dihubungi melalui twitter beliau menyampaikan penyesalan yang mendalam kalau saja video tersebut benar adanya.” Kalau itu benar, amat disesalkan. Hukuman seharusnya mendidik”, terang beliau melalui akun twitter @Gus_Sholah.

Menurut mantan wakil Komnas Ham ini hukum cambuk kepada santri yang melanggar aturan bukanlah sebuah tindakan yang manusiawi. Sebab untuk sekedar menghukum santri masih banyak pilihan hukuman yang jauh lebih mendidik. Jalur kekerasan menurutnya adalah jalur yang tidak tepat.

Gus Sholah mengaku belum pernah melihat video yang ramai diberitakan di dunia maya bahkan sudah menjadi topik hangat di media cetak dan elektronik tersebut. “Selain kaget, ya prihatin” kata alumni Insitut Teknologi Bandung tersebut, Minggu (7/12/2014).

“Sekali lagi, hukuman cambuk sangat tidak manusiawi,” ujarnya menegaskan. Di Ponpes Tebuireng yang dipimpinya, dengan ribuan santrinya, tidak ada kebijakan yang menghukum santri dengan kekerasan, baik kekerasan fisik maupun mental.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Adik Gus Dur tersebut juga memberikan saran apabila ada santri yang melanggar dan diperingatkan masih melakukan pelanggaran, maka yang paling berat adalah “pemboyongaan”. “Kalau ada santri melakukan pelanggaran, kita peringatkan. Tapi kalau sudah keterlaluan, terpaksa kita keluarkan dari pesantren”, ujar cucu Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari itu.

Video yang diduga berlokasi di sebuah pesantren di Jombang Jawa Timur tersebut berdurasi 5 menit 21 detik yang memperlihatkan tiga santri yang diikat menghadap pohon. Lalu dengan mata tertutup secara bergantian sejumlah orang berbaju muslim mencambuk hingga 35 kali cambukan. Naasnya prosesi penyambukan tersebut dipertontonkan di depa santri lainnya. (abror)