Foto: Raihan Bagas Mahardika

Oleh: Yayan Musthofa*

Ada tebakan yang lumayan menggelitik dari Syaikh Ibn Athaillah al-Sakandari, “Kalau misalkan Abror bersedekah 250 ribu rupiah setiap bulan, dibanding dengan Sujarwo yang bersedekah lima juta rupiah setiap bulan, banyak mana?” Betul. Sekilas secara nominal besar lima juta rupiah. Namun, pertimbangan tasawuf tidak hanya sekedar nominal yang disedekahkan, melainkan dari berapa jumlah total yang dimiliki.

Jika 250-nya Abror ini diambilkan dari 1 juta rupiah yang dia hasilkan, sedangkan lima jutanya Sujarwo diambilkan dari 100 juta yang dia hasilkan, maka tentu besar jumlah yang disedekahkan Abror. Tentang ikhlas, tunggu dulu. Alasan manusia bisa dibuat-buat sesuai dengan kebutuhan, “Lima juta yang penting ikhlas, ketimbang tidak sama sekali.”

Begitu juga dengan amal perbuatan baik manusia lainnya. Sebanyak apapun shalat, puasa, dan haji yang dijalankan oleh seseorang, tidak berarti bahwa perbuatan itu banyak (berat) dalam timbangan tasawuf. Bisa jadi, perbuatan baik yang sedikit dilakukan seseorang itu lebih banyak (berat) dengan pertimbangan kualitas dan totalitas yang dikorbankan. Inilah yang diungkapkan oleh Syaikh Ibn Athaillah al-Sakandari, “mā qalla ‘amalun baraza min qalbi zāhidin, wa lā katsura ‘amalun baraza min qalbi rāghibin,” tidak dihitung sedikit kebaikan yang diperbuat oleh hati seorang zāhid (hatinya tidak bergelayut dengan dunia), dan tidak dihitung banyak kebaikan yang diperbuat oleh orang yang mencintai dunia (rāghib).

Yang menjadi berat kemudian, Syaikh al-Muḥāsibi, Syaikh Ibn Athaillah, dan al-Ghazali menitikberatkannya pada “dawāmu zuhdi”, keberlangsungan zuhud. Sedekah 250-nya Abror bisa menjadi keropos ketika pada suatu detik, menit, atau jam berikutnya ia mengungkit-ungkit, menyakiti yang disedekahi, atau menceritakan kepada orang lain. Begitu juga dengan si Sujarwo bisa menjadi kebalikannya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Syaikh al-Muḥāsibi dan al-Ghazali mengumpamakan hal ini dengan halaman yang bersih dari rumput (zuhud di permulaan). Bisa jadi di kemudian hari ditumbuhi rerumputan yang menjadi hama (penyakit hati seperti riyā’, thalabu riyāsah, dan seterusnya). Apakah rumput di halaman itu setelah kita cabut, maka halaman akan bersih dari rumput selamanya? Pada suatu hari pasti akan tumbuh rumput lagi, dan tugas pemilik rumah adalah membersihkannya lagi kemudian.

Dari warisan para syaikh di atas, bisa kita simpulkan bahwa apa pun yang kita korbankan untuk mendekatkan diri kepada Allah; baik dengan harta, ilmu, pengetahuan, kekuatan, jasa, kekuasaan, dan lain sebagainya, melalui personal ataupun lembaga, banyak atau sedikit prosentasenya dari jumlah total yang kita miliki, berat atau ringan dalam timbangan tasawufnya, setidaknya masih membutuhkan harapan untuk bisa dawām, keberlangsungan dan berusaha untuk terus menambah berat bobot perbuatan baik kita.


*Alumni Ma’had Aly Tebuireng dan aktif di Unit Penerbitan Pesantren Tebuireng

SebelumnyaHadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari, Ulama Superstar Indonesia
BerikutnyaUlama, Penanggung Jawab Keumatan, Kebangsaan, dan Kenegaraan