sumber gambar: id.berita.yahoo.com

Oleh: Umdatul Fadhilah*

“Apa yang kita ekspektasikan belum tentu menjadi realita. Sebaliknya, apa yang telah menjadi realita tanpa diekspektasikan, akan menjadi suatu kebahagiaan yang mengejutkan.”

Sudah manusiawi bila memiliki banyak keinginan. Entah cita-cita maupun obsesi terhadap suatu hal yang ingin dimiliki, sehingga wajar bila muncul banyak ekspektasi. Dalam KBBI ekspektasi memiliki arti harapan. Tak heran bila sebagai manusia kerap kali melakukan apapun demi menggapai harapan tersebut. Meski kadangkala, ekspektasi yang digambarkan tidak selalu berwujud realita.

Lantas apa yang harus dilakukan bila sudah demikian? Sedih, kecewa, marah, kerap kali hadir pada benak yang telah terbuai pengharapan. Padahal yang demikian adalah akar dari segala rasa kecewa. Namun begitu, seperti yang diketahui manusia adalah makhluk yang tak luput dari salah dan lupa.

Maka pengingat diri paling baik salah satunya mau mendengar. Entah kritikan maupun nasihat, yang kadangkala sedikit membuka celah egoisme atau keteledoran bahkan kekhilafan kita sebagai manusia.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Q.S Al-Baqarah: 216).

Arti dalam ayat Al Quran di atas mengingatkan bahwa sebagai manusia, sejatinya tidak mengetahui apapun yang akan terjadi di masa depan. Betapa manusia bisa berencana namun Allah yang berkehendak.

Lantas apa korelasinya dengan ekspektasi? Tentu sangat terkait. Betapa ekspektasi yang lahir terlampau tinggi jika tidak sesuai realita akan lahir sebuah kecewa yang mendalam. Padahal jika mengingat arti dari ayat di atas bisa jadi mengurangi rasa gundah gulana. Bahwa apa yang menurut diri kita baik, belum tentu baik menurut ketentuan-Nya. Begitu pula sebaliknya.

Kemudian lahirlah sebuah ekspektasi di titik terendah. Yakni sebuah pengharapan yang tidak banyak keinginan. Bisa dibilang sudah di titik pasrah, dengan apa yang menjadi ketentuan-Nya. Pasrah bukan berarti menyerah. Akan tetapi setelah berusaha sedemikian rupa lantas hasilnya diserahkan kepada-Nya.

Seperti beberapa kehidupan di lingkup pesantren, masa pengabdian seseorang terhadap sebuah pesantren sudah habis tatkala dia lulus sarjana. Namun tidak seperti yang diharapkan, dia diamanati kembali untuk mengabdi di pesantren, padahal sudah terangkai segala cita-cita yang ingin diwujudkan usai lulus sarjana. Dia pun manut dengan dawuh sang Kiai.

Dia menerima pada kondisinya yang demikian, tetapi tidak menyerah pada sesuatu yang telah lama dicita-citakan, doa-doa dipanjatkannya setiap saat. Hingga pada suatu waktu dia diterima pascasarjana di sebuah universitas negeri. Lantas dapat menyelesaikan pengabdiannya dengan baik.

Kemudian realita dalam kehidupan nyata. Orang dewasa yang telah selesai sekolah, entah tamat SMA, Sarjana maupun lainnya, sebagian besar mendamba sebuah pekerjaan demi kebebasan finansial dan kebutuhan. Lantas dia berusaha mencari dan bertanya, hingga terbesit sebuah ekspektasi di titik terendah, betapa bagaimana pun pekerjaannya, semoga diberi ikhlas yang luas.

Dia pasrah dengan terus berusaha. Lantas tidak segera menyerah, hanya mengurangi sebuah ambisi untuk bekerja sesuai keinginan. Terus berdoa mengharap yang terbaik dari-Nya. Hingga kemudian, dia diterima pada sebuah perusahaan yang cukup bonafide.

Tidak sekalipun terbayang olehnya untuk bekerja demikian. Namun kembali mengingat ayat tersebut. Boleh jadi memang apa yang menjadi ketentuan-Nya lebih indah dari apa yang manusia pikir baik dan indah.

Gusti Allah itu romantis sekali, Manik. Dia mengabulkan doa kita pada saat kita sudah kelelahan. Pada saat kita sudah betul-betul pasrah. Proses pencarian ini, mungkin tidak ada pengaruhnya bagi kelanjutan hidup Wigati, tapi proses ini sangat berharga buat aku, buat kamu. Bahwa usaha manusia, sekeras apa pun, tidak akan berarti apa-apa kalau Gusti Allah belum kerso.” (Wigati hal 199- Khilma Anis).

Sebagian cerita di atas sedikit banyak mengajarkan bahwasanya apa yang menjadi ekspektasi belum tentu sesuai realita. Namun realita yang terjadi di luar ekspektasi bisa menjadi sebuah kejutan yang penuh berkah. Yakni dilimpahi berbagai kebaikan dan kebahagiaan. Diantaranya perasaan tenang di hati.  Wallahu a’lam bishowab…

*Alumnus Unhasy Tebuireng Jombang.

SebelumnyaSuami Istri Mahram? Simak Penjelasan Lengkap Ini
BerikutnyaBersentuhan Kulit Suami Istri, Membatalkan Wudhu?