KH. Habib Ahmad dalam ngaji Ramadan di Pondo Pesantren Tebuireng Jombang. (Foto: Masnun)

Oleh: Rojiful Mamduh

Saat menutup pengajian kilatan Ramadan di Pesantren Tebuireng, KH Habib Ahmad pernah berpesan. “Santri selama di rumah jagalah tiga hal,” tuturnya. Sebab orang tua, seringkali menilai mondok anaknya berhasil atau tidak dari tiga hal ini.

Pertama, jamaah shalat lima waktu. “Selama di rumah, tetap lah rutin jamaah salat lima waktu seperti di pondok,” pesannya. Di pondok, santri biasa diubrak, digugah (dibangunkan) dan dibangunkan untuk salat jamaah. Malah ada pondok yang memberikan hukuman pada santri yang tidak jamaah. Sehingga selama di pondok, santri pasti shalat jamaah. Mestinya ketika di rumah, dia tinggal melanjutkan kebiasaan itu. Santri yang ketika di rumah rajin jamaah, pasti orang tuanya senang. “Alhamdulillah anakku di rumah rajin jamaah. Pasti di pondok juga begitu”.

Kedua, baca Al-Quran. “Selama di rumah, biasakan baca Al-Quran,” pesan Habib Ahmad. Di pondok, santri dibiasakan baca Al-Quran. Malah banyak yang menghafal kan Quran. Di rumah, mestinya juga tetap rajin baca Quran. Kalau di rumah santri sregep baca Quran, orang tua pasti senang.

“Alhamdulillah anakku di rumah rajin baca Quran. Pasti di pondok dia juga rajin baca Quran”. Malah ada orang tua yang mendengar anaknya baca Quran saja sudah bahagia. “Alhamdulillah anakku rajin baca Quran. Nanti kalau aku mati pasti juga dikirimi bacaan Quran”.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Maka tidak heran, ketika sedo, pengasuh PP Darul Ulum Rejoso, KH Dimyati Romly, minta dimakamkan di komplek pondok KH. Afifuddin Dimyati Alhafid (Gus Awis). Karena Gus Awis hafal Quran. Dan disitu para santri setiap hari menghafalkan Quran.

Ketiga, manut orang tua. “Selama di rumah, santri harus manut dan taat orang tua,” pesannya. Sebab yang diajarkan di pesantren adalah akhlak. Dan termasuk akhlak yang mulia adalah manut dan berbakti pada orang tua. Kalau selama di rumah santri tidak taat orang tua, pasti orang tua menggerutu.

Di pondok, santri diajari dan dibiasakan hormat, taat, manut dan ngabdi pada guru. Mestinya di rumah, santri makin hormat, taat dan tawadlu pada orang tua. Sehingga orang tua senang. “Alhamdulillah anakku sejak mondok, bertambah patuh pada orang tua.”

Sejak mendengar nasehat Habib Ahmad itu, saya selalu berupaya mempraktekkan. Setiap pulang ke rumah orang tua, pasti saya shalat jamaah bersama orang tua. Meskipun pulang sebentar, juga selalu saya sempatkan baca Al-Quran.  Disuruh apapun oleh orang tua, pasti saya lakukan.

Ya Allah, ilmu yang disampaikan Habib Ahmad telah saya amalkan. Mudah-mudahan ini menjadi amal jariyah beliau. Dalam kitab Taklimul Mutaalim ada dawuh, “Ilmu yang bermanfaat akan menemani di kuburan dalam bentuk perempuan yang sangat cantik rupawan sehingga di kuburan serasa bulan madu”.

Ya Allah, jadikanlah kubur Habib Ahmad termasuk kategori niku. Allahummagfir lahu warhamhu wa afihi wa’fu anhu waj’al jannata maswahu.

 

SebelumnyaKH. Habib Ahmad, Semangat Beliau Tak Pernah Padam
BerikutnyaKiai Habib Ahmad, Penjaga Tradisi Pengajian Kitab Hadis Pesantren Tebuireng