Oleh: KH. Fahmi Amrullah Hadziq*

اِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه لا نبي بعده.

اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيّدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.

يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Marilah kita senantiasa meningkatkan kualitas takwa kita kepada Allah, dengan menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Diriwayatkan suatu hari, malaikat Jibril menemui baginda Rasul SAW. ketika bertemu dengan baginda Nabi, ia menyampaikan tiga pesan:

جَاءَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، عِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ، وَأَحْبِبْ مَنْ أَحْبَبْتَ فَإِنَّكَ مَفَارِقُهُ، وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَجْزِيٌّ بِهِ

Pesan yang pertama dari Jibril; 1) hiduplah sesukamu, tapi ingat bahwa kamu akan mati. Pesan ini menarik, ia menyampaikan bahwa hiduplah terserah kalian, tapi sekaligus mengingatkan bahwa semuanya akan mati. Artinya hidup ini pilihan, silahkan dipilih hidup dengan cara yang baik atau cara yang tidak baik. Allah sudah mengatur jalannya, mana yang lurus mana yang tidak.

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ       

dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa. (Q.S. Al-An’am ayat 153)

Hidup itu bukan tentang siapa yang paling baik atau terbaik, tapi siapa yang berbuat baik.

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Ada orang yang menempuh kehidupannya senantiasa baik, ada juga yang terkadang baik kadang tidak baik. Tetapi ada juga orang yang menempuh hidupnya di jalan yang tidak baik. Tentu kita terus mendoakan orang yang tidak baik agar menjadi baik.

Pesan Jibril yang kedua (2), cintailah siapa pun atau apa pun sesukamu, tetapi ingat kau akan berpisah dengannya. Artinya kita tidak dilarang untuk mencintai siapapun dan apapun. Tetapi cinta kita kepada seseorang atau sesuatu hendaknya cinta yang wajar, tidak berlebihan. Tidak dilarang kita ini dilarang mencintai olahraga, dan klub sepak bola. Sebab permainan sepak bola itu hanya ada tiga kemungkinan, kalau tidak menang ya kalah, kalau tidak keduanya berarti seri. Kalau cinta itu wajar ketika menang atau seri kita syukuri, ketika kalah kita biasa saja. Cinta yang mutlak itu hanya kepada Allah dan RasulNya. Karena cinta kepada-Nya itu akan kita bawa sampai kelak bertemu dengan-Nya.

Pesan yang ketiga (3), berbuatlah sesuka hatimu, tapi ingat kelak kau akan dibalas atas perbuatan itu. Berbuat baik atau buruk pasti ada balasannya. Silahkan dipilih mau berbuat baik atau buruk. Kata Allah:

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

Barang siapa yang berbuat baik sebesar atom, maka Allah mengetahuinya. Begitu pula siapa yang berbuat buruk sebesar atom, maka Allah juga tahu. (Q.S. az-Zalzalah ayat 7-8)

Karena itu, janganlah meremehkan perbuatan baik sekecil apapun, karena mungkin hal itu ada ridha Allah. Begitu pula jangan sampai meremehkan perbuatan buruk sekecil apapun. Karena bisa jadi di situlah terdapat kemurkaan Allah.

Bahwa hidup, cinta, dan amal itu adalah pilihan. Terserah kita memilih jalan yang mana, baik atau buruk. Semoga kita senantiasa berada di jalan yang diridhai Allah.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ,
وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ,
وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

*Kepala Pondok Putri Pesantren Tebuireng.

Pentranskip: Yuniar Indra Yahya

SebelumnyaTata Cara Shalat Gerhana Bulan
BerikutnyaMA Al-Chodidjah Menggagas Gerakan Generasi Tanpa Pacaran