Tidur ala Rasulullah

240
sumber gambar: https://thayyiba.com/

Oleh: Zaenal Karomi*

Tidur adalah mengistirahatkan badan secara alami. Dengan tidur secara teratur dan baik, seseorang akan lebih terjaga kesehatannya. Sedemikian penting aktivitas tidur bagi manusia, maka Islam memberikan nasihat tentang posisi tidur terbaik, yang dipratikkan oleh Rasulullah yaitu tidur miring di atas sisi kanan merupakan posisi tidur terbaik karena tidak ditemukan satu pun efek negatif yang merugikan kesehatan.

Berbeda dengan posisi yang lain semisal tidur dengan posisi perut di bawah/tengkurep. Bahwa tidur seperti ini dalam waktu yang lama/dilakukan secara terus menerus akan mengakibatkan sesak nafas. Karena beratnya beban punggung bisa menghambat dada melebar dan menyempit saat menghirup atau menghembuskan nafas. Selain itu juga, bisa menimbulkan bengkoknya tulang belakang dan leher serta menyebabkan gatal-gatal pada kulit sekitar kemaluan. [1]

Posisi tidur yang dipraktikkan Rasulullah sebagaimana keterangan di atas terkandung dalam sebuah hadis berikut ini:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مُقَاتِلٍ قَالَ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ قَالَ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ سَعْدِ بْنِ عُبَيْدَةَ عَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلَاةِ ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الْأَيْمَنِ ثُمَّ قُلْ اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ اللَّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ فَإِنْ مُتَّ مِنْ لَيْلَتِكَ فَأَنْتَ عَلَى الْفِطْرَةِ وَاجْعَلْهُنَّ آخِرَ مَا تَتَكَلَّمُ بِهِ قَالَ فَرَدَّدْتُهَا عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا بَلَغْتُ اللَّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ قُلْتُ وَرَسُولِكَ قَالَ لَا وَنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Dari Barra bin ‘azib berkata, bahwa Nabi Shallahu ‘alaihi wassallam,”jika kalian akan tidur, wudulah seperti akan shalat, kemudian berbaringlah miring di atas sebelah sisi kanan. Kemudian mengucapkan doa (yang artinya) Ya Allah, aku tundukkan wajahku kepada-Mu, aku serahkan urusanku kepada-Mu, aku letakkan punggungku kepada-Mu baik keadaan senang dan takut kepada-Mu. Tidak ada perlindungan dan tidak ada keselamatan dari-Mu selain (memohon) kepada-Mu. Ya Allah, aku beriman kepada kitab-Mu yang Engkau turunkan dan kepada Nabi-Mu yang kau utus. Bila engkau mati pada malam itu, maka kamu akan mati dalam keadaan fitrah (islam). Dan jadikan bacaan ini sebagai akhir dari bacaan-bacaanmu. Barra berkata: maka aku mengulang-ulang bacaan itu di hadapan Nabi shallahu ‘alaihi wassalam dan sampai pada kalimat, “Ya Allah, aku beriman kepada kitab-Mu, yang Engkau turunkan,…” (HR. Bukhari No. 224)

🤔  Amalan di Bulan Sya’ban Agungkan Bulan Ramadan

Dalam hadis di atas menerangkan amalan Rasulullah menjelang tidur yaitu bersuci terlebih dahulu, yang kemudian mengambil posisi tidur berbaring miring di atas sebelah sisi kanan, dan diakhiri dengan membaca doa. Selain itu, menurut Ahmad Yusuf al Hajj dalam Mausua’ah al I’jaz al ‘Ilm fi Al Qur’an al Karim wa as Sunnah al Muthharah, tidur di atas sisi kanan yang diamalkan Rasulullah mengandung manfaat yang luar biasa.

Hal ini karena paru-paru kiri lebih kecil daripada paru-paru sebelah kanan. Sehingga, ketika paru-paru menindih jantung, tidak akan terdapat beban berat yang dapat mengganggu pada kinerja jantung. Lebih dari itu, organ-organ tubuh dapat bekerja dengan baik tanpa ada yang terganggung seperti hati dalam kondisi rileks sebab tidak dalam kondisi menggantung. Begitupun lambung yang berada di atas hati juga tidak dalam kondisi tertekan oleh hati sehingga makanan dapat diproses secara baik.

Hal ini merupakan hikmah yang luar biasa. Beliau menentukan posisi tidur yang sesuai dengan tinjauan kesehatan bagi tubuh manusia. Bagi umat Islam, mengikuti sunnah Nabi walaupun sebagian tidak wajib ketika diniati agar mendapat keberkahan, maka dapat bernilai sebagai ibadah dan merupakan langkah yang baik dalam beragama. Dalam hal ini juga dapat mendatangkan pahala bagi orang yang melakukannya. Wallahu’lam bisshowab.  

*Santri Putra Tebuireng Jombang.


[1] Adik kurniawan, Islam De Medicine, Jawaban-Jawaban Ilmu Kodekteran atas Tuntuan Islam, 2001, (Pinus; Jogjakarta), halaman 215