sumber gambar: www.google.com

Oleh: Almara Sukma Prasintia*

Manusia diciptakan di dunia tidak ada yang sempurna. Setiap manusia pasti pernah melakukan salah dan dosa, sebagaimana dijelaskan dalam hadist berikut ini:

 حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ ، قَالَ : حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ حُبَابٍ ، قَالَ : حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مَسْعَدَةَ الْبَاهِلِيُّ ، قَالَ : حَدَّثَنَا قَتَادَةُ ، عَنْ أَنَسٍ ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : “كل ابن آدم خطاء، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ “.

Artinya: Setiap anak Adam pernah melakukan salah, dan sebaik-baiknya yang melakukan salah adalah mau bertaubat atas kesalahannya. (HR. Tirmidzi, no 2499, Hadist Hasan).

Dari hadist di atas dapat kita ambil kesimpulan bahwa wajib bagi kita, orang-orang yang melakukan kesalahan untuk bertaubat atas kesalahan tersebut. Taubat adalah meninggalkan dosa-dosa yang telah diperbuat, dengan mengagungkan Allah SWT dan takut akan murka-Nya. Syarat taubat ada 4:

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online
  • Meninggalkan dosa dengan sekuat hati dan dengan niat tidak akan mengulangi perbuatan-perbuatan dosa yang pernah dilakukan di zaman dahulu.
  • Menghentikan dan meninggalkan perbuatan dosa yang pernah dikerjakannya.
  • Perbuatan dosa yang ditinggalkan harus seimbang dengan perbuatan dosa yang pernah dilakukan.
  • Meninggalkannya semata-mata untuk mengagungkan Allah SWT, bukan karena yang lain.

Dan syarat-syarat di atas merupakan yang dimaksud Al-Qur’an dengan taubat nasuha, hakikat taubat dari tiap-tiap dosa. Niatan taubat ada 3:

  • Menyadari bahwa dosa merupakan perkara yang sangat buruk
  • Sabar dan ingat akan kerasnya hukuman dan murka Allah
  • Menyadari kelemahan dan kurangnya tenaga kita untuk menahan semua itu

Dengan mengingat tiga hal di atas bisa memudahkan kita untuk bertaubat. Apabila ada yang bertanya, bukankah Nabi SAW telah bersabda bahwa menyesal merupakan taubat. Dan beliau tidak menjelaskan syarat-syarat taubat seperti yang dijelaskan di atas?

Menyesal merupakan hal yang tidak bisa dibuat-buat. Penyesalan tidak didahului dengan niat, penyesalan hanya dibibir saja. Sedangkan, taubat merupakan hal yang disengaja, dan diperintahkan. Taubat tidak cukup hanya dengan mengatakan “aku menyesal” taubat harus didasarkan dengan niatan seperti di atas. Oleh karena itu tidak boleh dikatakan taubat orang yang hanya menyesali dosanya saja. Dengan demikian, arti yang terkandung dalam perkataan menyesal pada hadist Nabi SAW tidak hanya bisa dipahami dari lahirnya.

Selanjutnya, sebagian syarat taubat adalah meninggalkan perbuatan dosa. Akan tetapi, jika masih terjadi dengan tidak disengaja dikarenakan lupa, Allah akan mengampuninya. Sedangkan dosa itu sendiri terbagi menjadi tiga bagian:

  • Dosa karena meninggalkan pekerjaan yang diwajibkan oleh Allah SWT. Seperti meninggalkan shalat, puasa, zakat, dll.
  • Dosa antara kita dengan Allah SWT. Seperti makan riba, minum-minuman keras, dll.
  • Dosa antara sesama. Hal ini yang paling sukar dan berat. Sebab hal ini timbul dari lima perkara:
    1. Menyangkut urusan harta, seperti mengurangi takaran, memalsukan barang.
    2. Masalah pribadi, seperti membunuh, memfitnah.
    3. Masalah perasaan, seperti mengumpat, menggunjing, memaki.
    4. Masalah kehormatan, seperti mengkhianati kehormatannya atau anak istrinya dan kerabatnya.
    5. Masalah agama, seperti mengkufurkan orang lain, membid’ahkan.

Tidak ada batasan bagi orang yang mau bertaubat. Seberapa besarnya dosa orang tersebut jika ia benar-benar bertaubat Allah akan menerima taubatnya. Selama seseorang masih bisa bernafas maka ia masih mempunyai kesempatan untuk bertaubat.

Sumber dari Kitab Minhajul Abidin Imam Ghazali, Jilid 1, tahapan kedua:Taubat.


*Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang.

 

SebelumnyaAlarm Tuhan
BerikutnyaMahasantri Menjawab Tantangan Zaman