Ilustrasi: tebuirengonline

Oleh: KH. A. Musta’in Syafi’i


اِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه لا نبي بعده
اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيّدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن
يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ
وَوَصَّیۡنَا ٱلۡإِنسَـٰنَ بِوَ ٰ⁠لِدَیۡهِ إِحۡسَـٰنًاۖ حَمَلَتۡهُ أُمُّهُۥ كُرۡهࣰا وَوَضَعَتۡهُ كُرۡهࣰاۖ وَحَمۡلُهُۥ وَفِصَـٰلُهُۥ ثَلَـٰثُونَ شَهۡرًاۚ حَتَّىٰۤ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُۥ وَبَلَغَ أَرۡبَعِینَ سَنَةࣰ قَالَ رَبِّ أَوۡزِعۡنِیۤ أَنۡ أَشۡكُرَ نِعۡمَتَكَ ٱلَّتِیۤ أَنۡعَمۡتَ عَلَیَّ وَعَلَىٰ وَ ٰ⁠لِدَیَّ وَأَنۡ أَعۡمَلَ صَـٰلِحࣰا تَرۡضَىٰهُ وَأَصۡلِحۡ لِی فِی ذُرِّیَّتِیۤۖ إِنِّی تُبۡتُ إِلَیۡكَ وَإِنِّی مِنَ ٱلۡمُسۡلِمِینَ

Khutbah ini masih terkait dengan panduan Al-Quran terhadap orang yang telah berumur 40 tahun. Surah Al-Ahqaf memberikan 6 panduan yang mesti dilakukan oleh orang beriman. Pada kesempatan ini kita membahas panduan yang ketiga, yakni an a’mala salihan tardhaha (hidup berstandar Tuhan). Ada apa manusia kok selalu dikaitkan harus berkomunikasi dengan Tuhan? Dari sisi fisik, Allah sudah menginformasikan bahwa manusia lahir tidak mengerti apa-apa, kemudian dibekali dengan al-sam’u wal abshar (pendengaran dan penghilatan).

Kata Al-Sam’u disebut dalam Al-Qur’an sebanyak 185 kali, sedangkan Al-Bashar disebutkan sebanyak 148 kali. Itu menunjukkan bahwa daya pendengaran manusia terhadap informasi lebih kuat dari pada penglihatan. Dibuktikan dengan kondisi fisik otak manusia yang memiliki ruang auditorium lebih luas dari pada bagian visualnya.

Satu-satunya makhluk yang bisa mendengar 16 minggu sebelum kelahiran adalah manusia. Dengan demikian hubungan manusia selalu didekatkan dengan Tuhannya. Salah satunya adalah merespon ajaran-ajaran agama yang diragakan oleh pemandunya—Hadraturrasul Muhammad saw., termasuk para sahabat dan orang-orang saleh dalam bentuk uswatun hasanah (suri tauladan).

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Para orang saleh juga mempunyai teladan, yang terdekat di kehidupan kita adalah Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari. Selama ini dunia memahami bahwa beliau tidak nampak ke-Al-Qur’anan-nya. Guru-guru kami juga tidak pernah membicarakan riwayat keilmuan Al-Qur’an-nya.

Ternyata ada sebuah buku berjudul Al-Inayah fil Quranil Karim yang diterbitkan di Makkah yang mengupas tentang alumni Pondok Al-Soulatiyah. Disebutkan bahwa Hadratussyaikh merupakan seorang penghafal Al-Qur’an. Malah Syaikh Arsyad ibn Ahmad, Banten, mengakui bahwa Hadratussyaikh ketika di Tebuireng mempersilakan kesarjanaan Al-Qur’annya kepada santri-santrinya, seperti KH. Adlan Aly, KH. Mahfudz Anwar, KH. Yusuf Masyhar.

Alasan Hadratussyaikh Menekuni Hadis
Akan tetapi, beliau memilih sisi yang berat—belum banyak dilazimi oleh muslim Indonesia—yakni Al-Hadis. Pertimbangannya adalah karena penekun studi hadis ini sangat kecil sekali, wajar sebab memang berat. Contoh sisi kerumitannya adalah bagaimana menghafal satu redaksi yang bukan mukjizat, juga tentang rijalul hadis yang cukup rumit.

Disiplin ilmu yang berat inilah yang membuat kami yakin bahwa tulisan Sayyid Ahmad ibn Muhammad Al-Maghrabi tentang Hadratussyaikh seorang Hafidz sangat percaya. Karena dhahir beliau banyak hafal Hadis dengan redaksi sangat rumit, apalagi hanya menghafal Al-Qur’an yang mudah dihafal.

Di samping perjuangan Hadratussyaikh untuk menghadapi penjajah yang merusak Islam sangat kuat, begitupula dengan kerja purifikasi hadis. Beliau menyadari bahwa Al-Qur’an itu sudah fixed (jadi/pas)—sudah banyak Imam yang meriwayatkan teksnya. Sekalipun ada perbedaan pasti itu langsung diketahui oleh ahlinya—mudah dideteksi. Akhirnya, beliau menekuni Hadis dengan sekian banyak kekompleksitasannya. Apalagi mengingat sejarah masa lalu banyak para pembesar Islam yang memalsukan hadis. Sehingga umat Islam perlu kerja keras untuk pemurnian hadis.

Seperti Bayan ibn Sam’an yang banyak memalsukan hadis, kemudian dalam pengadilan terbukti, lalu mendapat hukuman dibakar hidup-hidup. Kemudian Muhammad ibn Said Al-Asnadi di pengadilan terbukti memalsukan hadis, dia disalib dan dipajang di tengah jalan. Juga Abdul Karim ibn Abi Al-Auja’ setelah terbukti memalsukan 4000 hadis, ia dijatuhi hukuman pancung.
Itu lah mengapa Hadratussyaikh memilih jalan berat mengkaji Hadis.

Biarlah kesarjaan Al-Qur’an-nya dipanggul oleh murid-muridnya, ketajaman Tarekat/Kesufian-nya dipikul oleh menantunya—KH. Romli Tamim. Biarlah beliau menanggung beratnya studi hadis.

Alasan kedua, bahwa idiom-idiom Hadis sangat susah dipahami. Karena bahasa hadis sedikit banyak bercampur dengan budaya setempat. Seperti thinah al-khobal (طِينَةِ الخَبَالِ), waktu itu para sahabat yang asli Arab malah bertanya apa itu maksudnya. Ada lagi khadra’ al-diman (خَضراءُ الدِّمنِ), para sahabat juga tidak tahu apa maknanya. Lalu termasuk yang tidak dipahami oleh orang Arab waktu itu adalah makna Ruwaibidhah (الرُّوَيْبِضَةُ).

Hal itu sangat berbeda dengan bahasa Al-Qur’an. Dalam Al-Qur’an setiap ada pertanyaan, pasti jawabannya langsung diproses oleh Allah. Misal, wa ma adraka ma al-khutamah (tahukah kalian apa itu Huthamah?), jawabannya narullahil muqadah (Api Allah yang dinyalakan), di ayat lain wa ma adraka ma al-thariq (tahukah kalian apa itu Al-Thariq?), dijelaskan oleh Allah langsung al-najmu al-tsaqib (bintang yang bersinar tajam), wa ma adraka al-‘aqabah (tahukah kalian jalan yang sukar?), dijawab oleh Allah faqqu raqabah (memerdekakan budak), wa ma adraka ma lailatul qadar (tahukah kalian apa itu Malam Lailatul Qadar?), dijawab lailatul qadri khoirun min alfi syahr (yakni malam lebih baik dari seribu bulan).

Semua pertanyaan wa ma adraka pasti dijawab langsung oleh Allah. Dengan demikian bisa dipahami ketika Hadraturrasul menggunakan istilah kurang populer, lalu dijelaskan sendiri olehnya, seperti Allah SWT istilah yang tidak dipahami oleh hambanya lalu dijelaskan sendiri. Sebagaimana yang dilakukan guru-guru kita.

Harusnya seperti itulah memberi penjelasan kepada murid/santri, yang mudah-mudah saja, sederhana. Kalau pun ada yang sulit sang guru harus mampu menjelaskan dengan mudah kepada muridnya. Sehingga transformasi keilmuan itu menjadi nikmat dan mudah diterima. Jangan dibalik, mulange gaenak, ngujine angel pol (ngajarnya tidak nyaman, ujiannya sukar sekali).


بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ
وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ
وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Pentranskip: Yuniar Indra Yahya

SebelumnyaKardi
BerikutnyaKetika Perempuan Menjadi Seorang Ibu sekaligus Anak