
Tebuireng.online— Pesantren Tebuireng melalui Ma’had Aly Hasyim Asy’ari mendapat kehormatan menjadi tuan rumah Musyawarah Nasional (Munas) ke-3 Asosiasi Ma’had Aly Indonesia (AMALI). Gelaran nasional tersebut berlangsung selama tiga hari, sejak 28 hingga 30 November 2025.
Kegiatan ini dihadiri 66 mudir (Rektor) Ma’had Aly dari berbagai wilayah di Indonesia. Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH. Abdul Hakim Machfudz, menyambut hangat seluruh peserta serta menyampaikan selamat dan sukses atas terselenggaranya Munas tersebut.
Dalam sambutannya, Kiai Kikin menegaskan bahwa Ma’had Aly memiliki peran penting dalam menjaga tradisi keilmuan Islam di tengah perkembangan zaman yang semakin pesat.
“Sebagai Islam yang berpegang teguh pada Ahlus Sunnah wal Jamaah, kita memiliki motto Al-Muhafazhatu ‘ala Qadimish Shalih wal Akhdzu bil Jadidil Ashlah. Dengan motto ini, kita mampu menjawab tantangan zaman yang manusianya terus berkembang,” ujarnya.
Menurut beliau, kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan memberikan dampak besar terhadap dinamika keilmuan modern. Karena itu, Ma’had Aly hadir untuk memastikan ilmu-ilmu agama tetap terpelihara.
“Dari pesatnya perkembangan ilmu, kita harus tetap Al-Muhafazhatu ‘ala Qadimish Shalih (menjaga tradisi lama yang baik). Ma’had Aly didirikan agar ilmu-ilmu agama Islam tetap terjaga,” tuturnya.
Ketua PWNU Jatim itu menambahkan, bahwa ilmu agama memiliki nilai yang dapat mengangkat derajat seseorang di tengah masyarakat. “Dengan berbekal penguasaan ilmu agama dengan baik, seseorang bisa terangkat derajatnya. Hidup ini, kalau kita bermodal ilmu agama saja sebenarnya sudah cukup,” tambahnya.
Di akhir sambutannya, KH. Abdul Hakim berharap Munas III AMALI mampu melahirkan komposisi organisasi yang lebih solid dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
“Mudah-mudahan kegiatan ini menghasilkan satu organisasi yang semakin solid, semakin kuat, dan semakin mampu menghadapi perkembangan zaman. Ini sangat penting,” ungkapnya.
Beliau juga mengucapkan selamat kepada seluruh peserta dan pengurus AMALI. “Semoga musyawarah ini menghasilkan sesuatu yang mampu menghadapi tantangan zaman saat ini.”
Pewarta: Dimas Setyawan Saputro
Editor: Rara Zarary


















