Tebuireng Kedatangan Ulama Hadhramaut, Ungkap Hubungan Ilmiah Kiai Hasyim Asy‘ari dengan Mufti Al-Habib Husain Al-Habsyi

70
Pesantren Tebuireng mendapat kehormatan atas kunjungan ulama terkemuka dari Hadhramaut, Yaman, Al Habib Muhammad bin Al Munsib Ali bin Abdul Qadir Al Habsyi (memakai sorban hijau), pada Senin (03/11/2025). Foto: Pewarta

Tebuireng.online- Pesantren Tebuireng mendapat kehormatan atas kunjungan ulama terkemuka dari Hadhramaut, Yaman, Al Habib Muhammad bin Al Munsib Ali bin Abdul Qadir Al Habsyi, pada Senin (03/11/2025). Kunjungan ini bertujuan mempererat kembali hubungan keilmuan dan ukhuwah antara ulama Hadhramaut dan ulama Indonesia yang telah terjalin sejak lama. Tampak hadir Pengasuh Pesantren Tebuireng KH. Abdul Hakim Mahfudz, para asatidz, dan segenap santri Pesantren Tebuireng.

Kunjungan ini memiliki makna historis mendalam. Sebagaimana dijelaskan oleh Fathan Mubina, salah satu santri Al Habib Muhammad, “Sebagaimana diketahui, Hadratussyaikh KH. Muhammad Hasyim Asy‘ari, pendiri Pondok Pesantren Tebuireng, memiliki hubungan ilmiah dengan Mufti Al Habib Husain Al Habsyi, yang merupakan guru beliau ketika menuntut ilmu di Makkah. Mufti Al Habib Husain Al Habsyi sendiri merupakan saudara dari kakek Al Habib Muhammad bin Al Munsib, yaitu Al Imam Ali Al Habsyi, ulama besar Hadhramaut yang pada masa Syaikh Hasyim Asy‘ari menjadi Mufti di wilayah tersebut. Melalui kunjungan ini, Al Habib Muhammad bin Al Munsib Al Habsyi bermaksud mempererat kembali tali hubungan spiritual dan keilmuan antara dua poros keulamaan besar: Hadhramaut dan Nusantara, serta meneguhkan komitmen dalam menyebarkan dakwah Islam rahmatan lil ‘alamin di Indonesia,” ucap Fathan Mubina Selaku Santri beliau di Pondok Pesantren Ribathul Ilmi As Syarif ketika diwawancarai.

Dalam mau’idzah (nasihat) yang disampaikan kepada para santri, Al Habib Muhammad bin Al Munsib menegaskan pentingnya menjaga kemurnian aqidah Ahlussunnah wal Jama‘ah, berpegang pada manhaj Asy‘ariyah dalam keyakinan dan Syafi‘iyah dalam fikih. Beliau mengingatkan bahwa aqidah umat Islam kini tengah diguncang oleh berbagai pemikiran yang berusaha melemahkan keyakinan.

“Dibutuhkan pribadi-pribadi seperti kalian  para santri Tebuireng  untuk menjadi tameng dan penjaga aqidah umat. Fenomena penghormatan santri kepada guru, seperti mencium tangan atau menundukkan badan, bukanlah bentuk penyembahan, melainkan simbol ta‘dzim dan penghormatan kepada pewaris ilmu Nabi,” ujar beliau.

Beliau juga mengingatkan bahwa pola pikir yang berusaha merusak nilai adab dan tradisi keilmuan Islam sengaja diciptakan untuk memecah belah umat. Negara Indonesia, menurut beliau, adalah ruh syariat dan benteng terakhir generasi muslim dunia.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Jika Indonesia dikalahkan, maka negara-negara Islam lainnya akan mudah digoyahkan,” pesan beliau menutup nasihatnya.

Kegiatan silaturahmi ini diakhiri dengan ziarah ke Maqbarah Masyaikh Tebuireng sebagai bentuk penghormatan kepada para pendiri pesantren dan ulama besar yang telah berjuang menegakkan Islam di tanah air.


Pewarta: Fatih Maulana

Editor: Muh. Sutan