Ir. Totok Suprayitno, mewakili Kemendikbud hadiri dan isi seminar nasional pendidikan di Pesantren Tebuireng, Ahad (25/8/19). (Foto: Kopi Ireng)

Tebuireng.online– Ir. Totok Suprayitno, memberikan pemaparan tentang tantangan pendidikan nasional menuju satu abad Indonesia, dalam seminar nasional 120 tahun Pesantren Tebuireng. Ia yang mewakili kemendikbud mengucapkan selamat ulang tahun yang ke-120 Tebuireng dan mengucapkan permohonan maaf karena Mendikbud, Prof. Muhajir Efendi, tidak dapat menghadiri acara tersebut.

Totok Suprayitno mengatakan bahwa tantangan pendidikan yang harus dihadapi Indonesia sangatlah berat. Hal itu disebabkan karena sekarang ini sudah memasuki era revolusi industri 4.0. Menurut Totok, transisi cepat yang terjadi dari industri 3.0 menuju 4.0 menuntut pergerakan yang sangat cepat.

Revolusi dari industri 1.0 menuju 3.0 menunjukan waktu ratusan tahun. Sedangkan dari 3.0 menuju 4.0 hanya membutuhkan waktu 20-30 tahun saja. Itu menuntut kita untuk bergerak cepat,” tegasnya.

Di industri 4.0 ini, lanjutnya, sudah banyak sekali tenaga kerja yang telah tergantikan dengan robot. Namun digantikannya dengan robot ini, produksi berjalan lebih produktif lagi.

Meski begitu, ia juga mengungkapkan bahwa pada nyatanya tidak semua tenaga kerja nantinya dapat digantikan dengan robot. Karena robot itu tidak mempunyai hati, maka pekerjaan-pekerjaan yang berkaitan dengan hati tidak dapat tergantikan dengan robot. Salah satunya adalah profesi guru.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Ia mengungkapkan hal demikian karena peran guru dalam pendidikan bukan hanya sebagai pengajar namun juga sebagai penanaman karakter. Pendidikan semacam itulah yang penting karena untuk mempersiapkan anak-anak yang sekarang masih dalam usia sekolah untuk menjadi pemimpin di masa depan.

Mengutip dari future job survey yang diterbitkan oleh world economic forum, Totok memaparkan hal apa saja yang butuh untuk dipelajari oleh anak-anak sekarang untuk masa depan. “Yang perlu dikuasai oleh murid-murid kita di sekolah dan santri-santri di pesantren untuk mengambil peluang di masa adalah hal-hal kreatif, berpikir analitik, inovasi, aktif dalam belajar, desain, dan lain sebagainya,” tuturnya.

Membahas tentang UN, Totok sangat menyayangkan bahwa sekarang ini guru-guru banyak yang menggunakan UN sebagai standar. Padahal menurutnya ciri soal UN itu adalah dangkal. “cirinya soal UN itu ya dangkal, jadi kalau guru menggunakan tipe soal UN yang dangkal itu untuk ulangan harian dan ujian lain, maka kemampuan siswa akan dangkal,” sebutnya.

Jika UN itu multiple choice yang hanya punya satu jawaban benar, maka guru harusnya membuatkan soal untuk para siswa, soal-soal yang membuat mereka berpikir dan tidak hanya punya satu jawaban benar saja,” sambungnya.

Pewarta: Aji Bintang N

Publisher: RZ



SebelumnyaKH. Ahmad Hidayatullah Zarkasyi Ungkap Realitas Sejarah Pesantren
BerikutnyaTantangan Pendidikan Nasional Menuju Satu Abad Indonesia