ilustrasi: tebuireng.online/amir

Oleh: Alfahrizal*

KH. Abdurrahman Wahid atau akrab disapa Gus Dur, mendapatkan julukan sebagai bapak Pluralis Indonesia, guru bangsa yang karismatik, ulama cerdas pembela kaum minoritas, serta Presiden ke-4 Republik Indonesia.

Sang ulama karismatik ini lahir pada tanggal 4 Agustus 1940 di sebuah desa yang terletak di sebelah barat Jombang, Denanyar, Jawa Timur. Gus Dur merupakan putra sulung dari tokoh pahlawan Indonesia, yakni KH. Abdul Wahid Hasyim dan bu Nyai Sholichah.

Gus Dur kecil sangat gemar membaca, Ia rajin memanfaatkan perpustakaan pribadi milik ayahnya serta rajin berkunjung ke perpustakaan umum di Jakarta. Baru menginjak usia belasan tahun Gus Dur sudah akrab dengan berbagai majalah, surat kabar, novel, dan buku. Di samping membaca ternyata Gus Dur juga mempunyai hobi unik lainnya, bermain bola, catur, musik, serta menonton film. Sampai-sampai Gus Dur sempat ditawarkan untuk menjadi komentator pertandingan sepak bola di televisi.

Masa remaja Gus Dur sebagian besar dihabiskan di Yogyakarta dan Tegalrejo. Di dua tempat inilah pengembangan ilmu pengetahuannya mulai meningkat. Masa berikutnya, Gus Dur tinggal di Jombang, di Pesantren Tambak Beras, sampai kemudian melanjutkan studinya ke Kairo Mesir. Sebelum berangkat ke Mesir, pamannya telah melamarkan seorang gadis untuknya yaitu Sinta Nuriyah anak Haji Muh. Sakur. Perkawinannya dilaksanakan ketika Gus Dur telah berada di Mesir.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Sepulang dari pengembaraannya mencari ilmu, Gus Dur kembali ke Jombang dan memilih menjadi guru. Pada tahun 1971/ beliau bergabung di Fakultas Ushuludin Universitas Tebu Ireng Jombang. Tiga tahun kemudian beliau menjadi sekretaris Pesantren TebuIreng dan pada tahun yang sama Gus Dur mulai menjadi penulis. Beliau kembali menekuni bakatnya sebagai penulis dan kolumnis. Lewat tulisan-tulisan tersebut gagasan pemikiran Gus Dur mulai mendapat perhatian banyak orang.

Pada tahun 1979 Gus Dur pindah ke Jakarta. Mula-mula beliau merintis Pesantren Ciganjur. Sementara pada awal tahun 1980 Gus Dur dipercaya sebagai Wakil Katib Syuriah PBNU. Di sini Gus Dur terlibat dalam diskusi dan perdebatan yang serius mengenai masalah agama, sosial, dan politik, dengan berbagai kalangan lintas agama, suku, dan berbagai disiplin keilmuan. Gus Dur semakin serius menulis dan bergelut dengan dunianya baik di lapangan kebudayaan, politik, maupun pemikiran keislaman.

Pada tahun 1984 Gus Dur dipilih secara aklamasi oleh ahl hall wa al-`aqdi yang diketuai KH. As`ad Syamsul Arifin untuk menduduki jabatan Ketua Umum PBNU pada Muktamar ke-27 di Situbondo. Jabatan tersebut kembali dikukuhkan pada Muktamar ke-28 di Pesantren Krapyak Yogyakarta tepat pada tahun 1989 dan muktamar di Cipasung Jawa Barat 1994.

Jabatan ketua umum PBNU kemudian dilepas ketika Gus Dur mulai menapak perjuangan sebagai Presiden ke-4 RI. Selama menjadi presiden, tidak sedikit pemikiran Gus Dur kontroversial. Seringkali pendapatnya berbeda dari pendapat banyak orang, akan tetapi Gus Dur tetaplah Gus Dur Ia tahu betul apa yang Ia lakukan, sehingga seringkali diakui kebenarannya kontroversinya jauh setelah pertentangan panjang beredar.

Putra KH. Abdul Wahid Hasyim ini ternyata juga memiliki saudara kandung yang kiprah perjuangannya tak kalah jauh oleh kakaknya, yaitu KH. Salahuddin Wahid atau akrab dipanggil Gus Sholah.

*Mahasantri Tebuireng.

SebelumnyaMengenal Situs Resmi Pesantren Tebuireng
BerikutnyaKisah Perjalanan Panjang Hidup Gus Sholah