Moderator Faturahman Rustandi bersama Narasumber Dr. KH. Abdul Kadir Riyadi, M.A., Ph.D.
Moderator Faturahman Rustandi bersama Narasumber Dr. KH. Abdul Kadir Riyadi, M.A., Ph.D.

tebuireng.online– Pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang periode 2016-2017, tadi pagi (24/02/2016)  resmi dilantik. Acara tersebut dikemas dengan Stadium General, mengangkat tema “Maqashid Syari’ah Sebagai Solusi atas Radikalisme” di lantai 3 Gedung KH. M. Yusuf Hasyim Pesantren Tebuireng. Acara ini diwajibkan bagi seluruh mahasantri aktif.

Selain mahasantri, terlihat hadir dalam acara ini, Mudir Ma’had Aly Hasyim Asy’ari KH. Nur Hannan, Lc., M.Hi., Wakil Mudir bidang kemahasiswaan Drs. KH. Muthoharun Afif, Lc., M.Hi., Wakil Mudir bidang akademik KH. Ahmad Syakir Ridlwan, Lc., M.Hi., Kepala Pondok Pesantren Tebuireng, H. A. Ainur Rofik, beberapa perwakilan dari BEM beberapa kampus di Jombang, sahabat-sahabat PMII dan beberapa tamu lainnya. Narasumber dalam acara ini adalah Dr. KH. Abdul Kadir Riyadi, M.A., Ph.D. pakar tasawuf dan maqashid syari’ah Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya dan dipimpin moderator Fathurrahman Rustandi.

Pembacaan ikrar oleh Drs. KH. Muthoharun Afif, Lc., M.Hi., diikuti seluruh pengurus terlantik
Pembacaan ikrar oleh Drs. KH. Muthoharun Afif, Lc., M.Hi., diikuti seluruh pengurus terlantik

Ikrar pengurus dalam prosesi pelantikan dipimpin oleh Wakil Mudir bidang akademik, Drs. KH. Muthoharun Afif, Lc., M.Hi dalam Bahasa Arab diikuti oleh para terlantik. Sebelumnya, Mudir KH. Nur Hannan, Lc., M.Hi., membacakan surat keputusan pengurus baru periode 2016-2017 di atas podium. Kemudian sebagai simbol serah terima jabatan pengurus, Presiden mahasantri demisioner Aswiyanto memberikan SK dalam map merah kepada Presiden terlantik, M. Irham.

Mudir Ma’had Aly Hasyim Asy’ari dalam sambutan beliau, mengatakan bahwa seyogyanya kegiatan keilmuan dan kebudayaan seperti ini tidak hanya bertujuan untuk menjalankan program, melainkan lebih tepatnya untuk meningkatkan kemampuan mahasantri dalam bidang keilmuan.

KH. Nur Hannan, Lc., M.Hi., dalam kesempatan  sambutan
KH. Nur Hannan, Lc., M.Hi., dalam kesempatan sambutan

Materi yang dibahas, menurut beliau sangat relevan, karena sesuai dengan persoalan yang dihadapi umat saat ini. Islam, lanjut beliau adalah agama penuh kasih sayang, rahmat, cinta kasih. Itulah kenapa islam itu adalah rahmatan lil alamin, untuk alam semesta baik manusia, hewan, tumbuhan, bukan hanya lil muslimin, untuk umat Islam saja,” ungkap dosen pengampuh mata kuliah “Muhadzab” tersebut dalam Bahasa Arab.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Dalam pemaparannya, Dr. Abdul Karid Riyadi menjelaskan bahwa maqashid oleh beberapa ulama dibedakan menjadi disiplin ilmu tersendiri dari keilmuan syari’ah yang lain. Walau begitu maqashid syari’ah memiliki garapan keilmuan yang luas dan bermanfaat. Karena keluasan itu, narasumber menbatasi pembahasan dengan konteks ideologi dan ke-Indonesiaan. Alumnus al-Azhar Mesir dan Captown University Afrika Selatan tersebut menerangkan bahwa saat ini, telah dan sedang terjadi kerapuhan intelektual, kebudayaan, dan keagamaan, yang menghasilkan kecendurangan peradaban kepada satu sisi. Hal ini dipengaruhi oleh kekuasaan kapitalisme dan moderisme dalam segala sisi kehidupan manusia.

Penyerahan cinderamata dari Mudir kepada pemateri
Penyerahan cinderamata dari Mudir kepada pemateri

Kecendurang ini, mengarah kepada problematika seputar pemosisian agama sebagai hal yang rumit dan penuh dengan pantangan sehingga terasingkan dan termarjinalkan ataukah  bisa jadi agama diposisikan dalam peran yang lebih terbuka dan fleksibel. Di Indonesia, negara-negara Islam lain, serta negera-negara ketiga, era modern ini menjadikan agama berhubungan erat dengan sosial dalam wajah umum dan politik dalam wajah khusus. Kondisi ini memungkinkan seuatu negara bergerak menuju kemajuan ataukah malah semakin terbelakang menurut bagaimana negara itu sukses menghadapi problematika mengkhawatirkan itu.

Sebelum mengakhiri materi, Dr. Abdul Kadir berpesan kepada para mahasantri agar menjadikan ilmu pengetahuan agama, kitab-kitab para ulama sebagai ilmu pengetahuan yang netral dan tidak berhubungan denga ideologi, pertengkaran, konflik, bahkan kepentingan politik. Beliau meminta para mahasantri agar mempelajari semua ilmu dari berbagai jenis ulama, walapun berbeda pemahaman atau keyakinan.

Mudir, dosen, dan mahasantri berfoto bersama pemateri
Mudir, dosen, dan mahasantri berfoto bersama pemateri

Acara ini diakhiri dengan doa yang dipimpin oleh KH. Ahmad Syakir Ridlwan dilanjutkan dengan sesi foto bersama pemateri, dosen, para pengurus BEM baru dan mahasantri yang hadir. Selain Stadium General, dalam rangkain acara ini, juga akan dilaksanakan bahtsul masail se-Jawa dan Madura di Masjid Pesantren Tebuireng mulai malam ini hingga besok. Sekitar 50 pondok pesantren akan ikut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. (abror)

SebelumnyaRibuan Orang Hadiri Haul KH. Ishak Latief di Sidoarjo
BerikutnyaUndangan Umum Bedah Buku “Hidup untuk Pengabdian: KH. Ishak Latif”