sumber gambar: ayoyogya.com

Oleh: KH. Musta’in Syafi’i

اِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه لا نبي بعده

اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيّدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

وَوَصَّیۡنَا ٱلۡإِنسَـٰنَ بِوَ ٰ⁠لِدَیۡهِ إِحۡسَـٰنًاۖ حَمَلَتۡهُ أُمُّهُۥ كُرۡهࣰا وَوَضَعَتۡهُ كُرۡهࣰاۖ وَحَمۡلُهُۥ وَفِصَـٰلُهُۥ ثَلَـٰثُونَ شَهۡرًاۚ حَتَّىٰۤ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُۥ وَبَلَغَ أَرۡبَعِینَ سَنَةࣰ قَالَ رَبِّ أَوۡزِعۡنِیۤ أَنۡ أَشۡكُرَ نِعۡمَتَكَ ٱلَّتِیۤ أَنۡعَمۡتَ عَلَیَّ وَعَلَىٰ وَ ٰ⁠لِدَیَّ وَأَنۡ أَعۡمَلَ صَـٰلِحࣰا تَرۡضَىٰهُ وَأَصۡلِحۡ لِی فِی ذُرِّیَّتِیۤۖ إِنِّی تُبۡتُ إِلَیۡكَ وَإِنِّی مِنَ ٱلۡمُسۡلِمِینَ

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Masih membicarakan panduan Quran bagi manusia. Khususnya bagi kita yang sudah dewasa. Sebab  kehidupan ini sesungguhnya dimulai pada usia 40 tahun. Seperti Muhammad diangkat sebagai Rasul pada usia empat puluh tahun.

Ada enam item dalam ayat Al-Ahqaf: 15 di atas. Kali ini kita membicarakan item dengan topik an a’mala salihan tardhahu (amal saleh yang diridai Allah). Pada bulan Ramadan ini kita dituntut untuk melakukan ibadah puasa. Puasa merupakan ibadah yang sifatnya pribadi. Dengan coraknya menahan untuk tidak melakukan sesuatu, bukan mengerjakan sesuatu (contoh: salat, zakat, haji). Dalam menjalankan puasa kita tidak diperkenankan makan, minum, dan sex.

Kata siyam dalam Al-Qur’an disebut delapan kali. Salah satunya dengan bentuk saum, yakni dalam  Qur’an (surat Maryam: 26):

فَكُلِی وَٱشۡرَبِی وَقَرِّی عَیۡنࣰاۖ فَإِمَّا تَرَیِنَّ مِنَ ٱلۡبَشَرِ أَحَدࣰا فَقُولِیۤ إِنِّی نَذَرۡتُ لِلرَّحۡمَـٰنِ صَوۡمࣰا فَلَنۡ أُكَلِّمَ ٱلۡیَوۡمَ إِنسِیࣰّا

Maka makan, minum dan bersenang hatilah engkau. Jika engkau melihat seseorang, maka katakanlah, “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pengasih, maka aku tidak akan berbicara dengan siapa pun pada hari ini.”

Kata saum pada ayat tersebut tidak berarti puasa. Namun berarti diam/tidak berbicara. Kondisi diam dalam dunia binatang banyak digunakan oleh hewan-hewan pemangsa sebelum menerkam mangsa. Dengan begitu mereka dalam keadaan seakan-akan tidak terlihat, padahal diam-diam mengumpulkan tenaga. Dan akhirnya, hap, mangsa berhasil ditangkap.

Kondisi ini juga banyak dilakukan oleh orang yang berpuasa. Lantaran mereka tak makan, tak minum. Pada akhirnya mereka akan banyak diam. Seharusnya mereka dapat meniru perilaku hewan yang diterangkan sebelumnya. Berdiam diri/ tak banyak cakap mengumpulkan tenaga. Sehingga power untuk merangkap rida Ilahi cukup besar.

Puasa dengan berbagai corak ibadahnya, sema-mata hanya bertujuan untuk menyenangkan tuhan (an a’mala salihan tardhahu). Oleh para pakar fikih sudah dirumuskan dalam kitab-kitabnya. Contohnya, ada suatu pendapat yang menganggap bahwa sikat gigi pada siang hari ketika puasa itu makruh. Tapi mohon maaf bagi kami, hal itu tidak sependapat dengan kami. Bagi kami gosok gigi itu tetap sunah, sebagaimana kesunahan bersih diri.

Perbedaan pendapat kami dengan pendapat yang mengatakan gosok gigi itu makruh, ditengarai oleh beda pemahaman hadis yang dijadikan hujah.

وَلَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْك

“Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah dari pada bau minyak kasturi.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Oleh kitab fath al-qarib hadis di atas dipahami bahwa ketika orang puasa sikat gigi di siang hari itu dapat menghilangkan kondisi bau mulut. Yang berakibat pada hilangnya sisi harum di mata Allah.

Tapi saya memahami sebaliknya, lah wong bau mulut orang puasa saja itu dihargai di hadapan tuhan. Sampai-sampai dihargai lebih harum dari pada kasturi. Apalagi, kalau orang itu tidak bau mulut. Apakah tuhan malah ndak makin senang?. Sekali lagi ini soal pilihan, kami lebih memilih pendapat yang tidak bilang sikat gigi di siang hari itu makruh.

Semoga kita dalam menjalankan ibadah puasa ini dapat menumbuhkan potensi-potensi pendekatan diri kepada Allah. Dengan cara apa pun itu. Salah satunya berdoa.

Sekilas Mengenai Ayat Puasa

Dalam ayat tersebut, mulai dari Al-Baqarah ayat 183, hingga ayat 187. Semua menerangkan tentang puasa. Namun ada satu ayat yang tidak selaras dengan keterangan mengenai puasa. Yakni, ayat 186, malah dalam ayat itu menerangkan ayat doa.

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِی عَنِّی فَإِنِّی قَرِیبٌۖ أُجِیبُ دَعۡوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِۖ فَلۡیَسۡتَجِیبُوا۟ لِی وَلۡیُؤۡمِنُوا۟ بِی لَعَلَّهُمۡ یَرۡشُدُونَ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran.

Pada ayat itu juga terdapat tujuh kali kata ganti Aku yang mengarah kepada Allah sendiri. ‘Ibadi, ‘Anni, Fa Inni, Ujibu, Da’ani, Li, Bi. Ini menarik diperbincangkan, mengapa Allah menyelipkan tuntunan doa kepada hambanya di tengah-tengah ayat yang menerangkan hukum-hukum puasa? Hal ini mengindikasikan bahwa Allah tujuh kali lebih dekat dengan orang puasa. Sehingga doa-doa insan yang puasa kemungkinan kecil untuk tertolak.

وَالۡعَصۡرِ اِنَّ الۡاِنۡسَانَ لَفِىۡ خُسۡرٍۙ ِالَّا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوۡا بِالۡحَقِّ ۙ وَتَوَاصَوۡا بِالصَّبۡر

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ
وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ
وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Pentranskip: Yuniar Indra Yahya

 

SebelumnyaSeandainya Saya Menjadi Nadiem
BerikutnyaBolehkah Membayar Fidyah dalam Bentuk Uang?