Pahlawan galeri buku Jakarta

Oleh: Almara Sukma Prasintia*

Bertanyalah kepada orang yang pandai dan orang yang bodoh. Bertanyalah kepada orang yang baik dan jahat. Bertanyalah kepada orang yang ikhlas dan orang yang munafik. Bertanyalah kepada orang yang bertinggah laku terpuji atau buruk, maka setiap orang di antara mereka pasti menjawab, bahwa ia adalah orang yang mulia.

Setiap orang boleh mengaku demikian, bahwa dirinya mulia. Hanya saja tidak semua orang menganggap benar pengakuan-pengakuan itu, sebelum dibuktikan kebenarannya atas sesuatu penelitian seksama.

Banyak orang mengira, bahwa kemuliaan ini terletak pada kekayaan yang dimiliki seseorang, dengan kadar sedikit banyaknya harta yang ada. Dia bersifat besar diri, membanggakan diri, dan bersifat congkak. Meremehkan orang-orang lemah dan tidak menghargai orang-orang miskin.

Andaikan orang yang mengaku mulia karena melimpah kekayaannya itu mengetahui, bahwa ia bisa berubah total oleh zaman, hingga ia menjadi miskin sesudah kaya, dan menjadi serba kekurangan setelah serba kecukupan. Maka, orang-orang yang dulu mengagungkan berubah jadi merendahkan, dan orang yang dulu mendekatinya, berbalik menyakitinya, maka pasti orang tersebut melepas sifat sombongnya, dan tidak lagi bersifat seperti diatas.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Ada juga sekelompok orang lain mendefisikan, bahwa kemuliaan adalah kekuatan fisik, memiliki kecerdasan luar biasadan bisa mencapai cita-cita tinggi, setinggi bintang orion.

Andaikata orang yang beranggapan sedemikian itu sadar, bahwa harimau lebih berani dan lebih kuat dari padanya, dan unta itu lebih kuat dan kukuh badan serta tulang-tulangnya, maka pasti orang tersebut menarik anggapannya, dengan merasa rendah diri dan tidak mengunggul-unggulkan diri dengan kekuatannya.

Sekelompok orang lain menduga, bahwa kemuliaan itu terletak pada kesehatan seseorang di saat umat sedang sakit, kemapanan hidupnya disaat umat sedang menderita, kekuatannya di saat umat lemah, kemajuannya di saat umat mengalami kemunduran, kemuliaannya di saat umat hina.

Andaikata sekelompok orang yang anggapannya tentang kemulian seperti itu mau berfikir sedikit, pasti mereka sadar bahwa anggapan seperti itu salah, keliru, dan tertipu hawa nafsu.

Orang yang mulia adalah orang yang mulia sebab kemuliaan umat, ia hidup enak sebab kemakmuran hidup umat, apabila umat terhina, maka ia menjadi hina dan apabila umat hancur ia menjadi hancur.

Orang yang mulia adalah orang yang berkhidmat pada Negara dengan arti sebenarnya, menjunjung tinggi negaranya. Dia rela terhina demi kemuliaan negaranya, dan rela mati demi berlangsung kehidupan negaranya.


Referensi: Idhotun Nashihin


*Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari