Santri Tebuireng Jombang

Oleh: Nur Dian Syah Fikri Alfani*

Terbesit pertama kali dengan kata “santri” merupakan kaum sarungan, kolot, ketinggalan zaman, kopyah miring, dan hal-hal lain terkesan menganggap santri adalah sekte yang tidak mampu berbaur di zaman modern. Banyak dikotomi, di antaranya dari kaum modernis yang dilontarkan kepada kaum santri dengan tujuan mendiskriminasi mental. Mereka menyudutkan kaum santri dengan argumen bahwa cukup bagi santri untuk fokus dengan tradisi klasik keilmuan agama seperti ngaji bandongan, ngaji sorogan, dan bahtsul masa’il. Kemudian bagi kaum modernis, bagian mereka untuk mewarnai atmosfer modernisasi, misalnya untuk profesi ada tentara, polisi, dokter, politikus, konten kreator, youtuber atau segala hal yang berbau modern.

Lalu bagaimana sikap kita sebagai santri jika ada ocehan yang ditujukan kepada kita seperti itu?. Pada dasarnya dikotomi yang mereka ucapkan itu memang benar, kita harus fokus untuk melestarikan tradisi klasik keilmuan agama karena santri punya pola berpikir al-Muhafadhotu ‘Ala Qodim as-Sholih (Memelihara yang lama serta dinilai baik), tapi perlu diingat bahwa bukan hanya itu saja pola pikir santri, ada suatu prinsip yang juga melekat dalam benak mereka yaitu al-Akhdzu bi al-Jadid al-Ashlah (mengambil yang baru serta dinilai lebih baik).

Dari pola berpikir santri yang kedua inilah seolah-olah melegitimasi para santri untuk berpeluang memberikan kontribusi apapun itu di zaman modern ini. Tetapi perlu diingat ada rambu-rambu yang harus dipahami bagi santri agar tidak sampai keluar jalur dalam memberikan sumbangsihnya, yaitu mengkaji sesuatu yang baru tersebut sampai dinilai mempunyai kemanfaatan yang khusus maupun universal.

Untuk merealisasikan dalam memberikan kontribusi secara masif di era modern ini tentunya ada hal penting yang harus dikuasai oleh santri, yaitu ilmu yang memadai. Mereka tidak bisa memberikan kontribusi di suatu era jika mereka tidak punya skill keilmuan di dalamnya, dan ilmu tidak akan bisa didapatkan kecuali melalui sebuah pendidikan. Betapa pentingnya sebuah ilmu dan pendidikan sampai-sampai Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah berkata kalau menuntut ilmu itu sebuah kewajiban dari setiap individu muslim.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Pemerintah Indonesia yang sadar akan pentingnya sebuah pendidikan, dan sudah menjadi kewajiban negara untuk memberikannya kepada seluruh elemen masyarakat yang ada, sesuai undang-undang dasar 1945 dalam pasal 31 ayat (1) yang berbunyi “Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan”. Hal ini secara langsung mengamanatkan kepada pemerintah untuk menyediakan fasilitas pendidikan kepada masyarakat guna meningkatkan kualitas dan produktivitas mereka. Dalam agama Islam juga menyarankan agar pemerintah/penguasa juga berperan dalam penyediaan pendidikan kepada umat Islam, seperti pendapat Ibnu Muflih dalam kitabnya al-Adab as-Syar’iyah wa al-Minah al-Maroiyyah dijelaskan:

وَوَاجِبٌ عَلَى الْإِمَامِ أَنْ يَتَعَاهَدَ الْمُعَلِّمَ وَالْمُتَعَلِّمَ كَذَلِكَ وَيَرْزُقُهُمَا مِنْ بَيْتِ الْمَالِ لِأَنَّ فِي ذَلِكَ قِوَامًا لِلدِّينِ فَهُوَ أَوْلَى مِنْ الْجِهَادِ لِأَنَّهُ رُبَّمَا نَشَأَ الْوَلَدُ عَلَى مَذْهَبٍ فَاسِدٍ فَيَتَعَذَّرُ زَوَالُهُ مِنْ قَلْبِهِ [1]

Wajib bagi seorang imam/penguasa untuk memperlakukan (mensejahterakan) guru dan murid juga memberikan biaya dari Baitul mal karena itu menjadi penguat agama dan itu lebih utama daripada jihad, karena mungkin seorang anak berkembang dan terdidik pada madzhab yang salah dan hal itu sulit untuk membersihkan dari hatinya (pemahamannya).

Oleh karenanya, dari pemerintah banyak menyediakan program beasiswa pendidikan. Bahkan ada sebuah beasiswa khusus yang penerimanya adalah kaum santri, di antaranya adalah PBSB Kemenag, LPPD Pemprov, LPDP Kemenkeu RI, beasiswa Bintara PK TNI AD, taruna polisi, dan beasiswa-beasiswa lainnya dengan bermacam-macam jurusan. Dilihat dari banyaknya beasiswa tadi, keren bukan? Misalnya saja beasiswa PBSB Kemenag, di dalamnya ada beasiswa pendidikan profesi dokter yang berlokasi di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, lalu ada beasiswa pendidikan teknik pengolahan dan pemeliharaan infrastruktur sipil dan teknologi rekayasa internet yang ada di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Melalui banyak lembaga, negara mensupport para santri agar mereka bisa mengenyam sebuah pendidikan yang sesuai dengan passion mereka masing-masing. Para santri hanya tinggal memilih tujuan dan mana rel yang akan mereka lewati, tentu sangatlah keren jika santri yang sehari-hari memakai sarung dan baju koko lalu dia berprofesi sebagai dokter yang memakai celana hitam dan jas putih ala dokter, seakan-akan dia bermimikri seperti bunglon yang beradaptasi di manapun dia berada. Santri tentunya harus seperti bunglon yang tetap menjadi bunglon walaupun sudah bermimikri, walaupun santri memakai fashion yang modern atau berkiprah dalam dunia modernisasi untuk memberikan kontribusi kepada hal yang dia kuasai, santri tetaplah santri yang menjaga nilai-nilai agama Islam dengan prinsip al-Muhafadhotu ‘Ala Qodim as-Sholih wa al-Akhdzu bi al-Jadid al-Ashlah.


[1] Muflih bin Muhammad, al-Adab as-Syar’iyah wa al-Minah al-Maroiyah, (cet Alim al-Kutub tanpa tahun), hal 47 juz 2


*Santri Tebuireng

SebelumnyaGus Sholah dalam Kenangan Gus Kikin
BerikutnyaMenjadi Santri yang Dirindukan