Peserta Sekolah Pemikiran Tokoh, sedang membahas pemikiran KH. Salahuddin Wahid (Gus Sholah) di kantor Media Tebuireng, Selasa (27/7).

Tebuireng.online– Para ulama dan kiai hanya wafat secara jasad, tapi kekayaan intelektual, spirit perjuangan, keteladanan, dan kebermanfaatan mereka tetap hidup. Hal itu terus terjadi selama generasi muda mengkaji dan menyebarluaskan apa yang telah diperjuangkan para kiai terdahulu.

Gagasan di atas menjadi diskursus tim Majalah Tebuireng dalam kegiatan Sekolah Pemikiran Tokoh, yang dilaksanakan setiap satu bulan sekali.

Kegiatan ini digelar dalam rangka merawat kekayaan intelektual serta gagasan-gagasan yang masih relevan dengan keadaan saat ini. Agenda rutin ini dihadiri oleh generasi muda dari berbagai perguruan tinggi di lingkungan Tebuireng.

Hari ini, Selasa (27/7) di kantor Media Grup Tebuireng, tim Majalah Tebuireng membahas pemikiran KH. Salahuddin Wahid yang akrab disapa Gus Sholah. Selain kerena pemikirannya, Gus Sholah memiliki kemampuan menulis yang kaya akan data-data yang akurat.

“Tulisan-tulisan Gus Sholah mudah dipahami sambil nyeruput kopi atau teh hangat. Pembaca dibuat geleng-geleng atas fakta yang disajikan. Selain sosok yang tekun dalam membaca dan menulis, Gus Sholah dikenal sebagai aktivis Hak Asasi Manusia (HAM),” ungkap Nurul, salah satu peserta Sekolah Pemikiran Tokoh.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Kepala Sekolah Pemikiran Tokoh, Wahyu menyebut, pemikiran Gus Sholah soal keindonesiaan dan keislaman menjadi salah satu pemikiran yang sampai saat ini terus dibaca dan didiskusikan diberbagai kalangan baik di lingkaran ngopi hingga para mahasiswa di kampus ternama. Perdebatan dan dialeg tak terhindarkan dari tema besar keindonesiaan dan keislaman.

“Semakin ke sini, sentimen kesukuan di Indonesia semakin menurun. Masyarakat antar suku semakin rukun dan bisa hidup berdampingan tanpa rasa curiga. Di sisi lain, sentimen keagamaan justru meningkat. Yang namanya sentimen, tetap membahayakan meskipun atas dasar agama,” imbuh mahasiswa Unhasy itu.

Salah satu tim Pusat Kajian Pemikiran Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari yang juga peserta Sekolah Pemikiran Tokoh, Hilmi Abdillah mengungkapkan, munculnya tragedi penyerangan kaum Ahmadiyah di Banten dan Syiah di Sampang menunjukkan bahwa pemahaman keagamaan masyarakat tidak diimbangi dengan pemahaman keindonesiaan. Mereka kaum Ahmadiyah dan Syiah juga mempunyai hak hidup damai di negeri ini.

“Sentimen agama nampaknya semakin kuat dengan masuknya HTI cs yang mengusung syariat Islam sebagai dasar negara. Semakin banyak polemik bermunculan, apalagi saat mereka mempergunakan kekerasan untuk memaksakan ide mereka. Stabilitas bangsa dan negara akhirnya goyah,” tegasnya.

Gus Sholah, lanjut Hilmi, tidak mau keindonesiaan dan keislaman dibenturkan seperti itu. Keduanya mestinya bisa sejalan, seperti penerimaan Nahdlatul Ulama pada tahun 1984 pada Pancasila. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila tidak satu pun yang bertentangan dengan ajaran Islam (al-Quran).

“KH. Salahuddin Wahid menyatakan ketidaksetujuan jika harus memilih diantara keindonesiaan dan keislaman, karena keduanya ibarat mata uang yang harus senantiasa bergandengan. Jadi hal yang keliru jika harus memilih antara keduanya,” ungkap Abror Rosyidin, Redaktur tebuireng.online yang memperoleh gelar Magister Pendidikan dari Unhasy, dengan tesis fokus pemikiran Gus Sholah.

Gus sholah sendiri, lanjut  Abror, dalam tulisannya yang berjudul keindonesiaan dan keislaman menyimpulkan “kita orang Indonesia yang beragama Islam, sekaligus orang beragama Islam yang tinggal di Indonesia.

Seiring berjalannya waktu hal di atas bukan akhir dari perdebatan panjang berkaitan dengan hubungan agama (Islam) dan Pancasila. Hingga kini masih saja ada beberapa kelompok yang masih ingin mendirikan negara Islam.

Atas dasar di atas maka sekolah pemikiran tokoh dianggap penting untuk terus mengaktualisasikan pemikiran-pemikiran para ulama dan pakar intelektual terdahulu.

Tidak hanya KH. Salahudin Wahid (Gus Sholah) yang dibedah pemikiran keindonesiaan dan keislaman namun masih banyak tokoh-tokoh lain yang akan kita bahas setiap bulan. Seperti Laksamana Malahayati, Tirto Adhi Soerjo, Simone De Beauvoir, Nyai Khoiriyah Hasyim dan Jaen Piaget.

Kepsek Pemikiran Tokoh, Wahyu menjelaskan, mekanisme dari kegiatan ini akan ada satu orang yang akan membaca artikel pemikiran tokoh lalu menyimpulkan apa yang telah dibaca. Setelah itu bergantian untuk memberikan komentar terkait tokoh, pemikiran atau hal-hal lain yang sekiranya perlu untuk didiskusikan.

Argumentasi bisa datang dari berbagai sumber atau bacaan buku peserta yang hadir, sesi selanjutnya ialah sekolah menulis tokoh dan pemikirannya. Hal ini untuk melatih para peserta untuk piawai menulis. Dengan durasi waktu 3 jam.

“Sekolah pemikiran tokoh ini diselenggarakan untuk terus melanjutkan estafet pemikiran serta gagasan yang masih aktual untuk didiskusikan dan diterapkan ditengah masyarakat yang plural (kebhinekaan). Agar terus menjunjung tinggi sebuah persatuan,” ungkapnya.

Menurutnya, harapan besar dari kegiatan ini ialah dapat memunculkan pemikir muda Islam yang terus berpegang teguh pada kedamaian dan persatuan masyarakat.

“Pemikiran generasi muda Islam tersebut akan menjadi garda terdepan dalam menyelesaikan masalah-masalah yang ada di masyarakat, dan tentunya dapat bermanfaat bagi khalayak luas.” Tandas Kepsek Pemikiran Tokoh.

Pewarta: Wahyu

SebelumnyaPrinsip Kesetaraan Gender dalam Islam
BerikutnyaManusia Selalu Merasa Kurang, Bagaimana Mengatasinya?