Segelas Susu Penyelamat

142
Sumber: erabaru.net

Oleh: Falikh*

Berbagi itu indah? Ya, mungkin itu menjadi hal lumrah bagi sebagian orang dermawan. Namun bagaimana dengan seseorang yang juga memiliki tuntutan ekonomi. Terkadang seseorang yang depresi acapkali merindukan tawa dan senyum anak kecil, sedikit bernostalgia tentang masa kanak-kanak. Kisah ini adalah kisah dimana seorang anak kecil yang membalas jasa segelas susu seorang ibu pemilik warung kecil di pinggiran kota hingga menyelamatkan nyawa ibu yang menolongnya.

Suatu hari yang penat, pekerjaan sehari-hari berjualan tidaklah selalu mulus bagi sang ibu. Umur yang sudah setengah baya menuntutnya menghidupi ketiga anaknya sebagai seorang single parent. Berat memang sudah menjadi pikulan baginya, namun hidup tetap harus diperjuangkan.

Hingga suatu hari datanglah dua orang anak kecil padanya untuk meminta sedikit air minum. Dengan penuh belas kasih, sang pemilik warung memberikan kedua anak tersebut segelas air susu. Salah seorang anak dari mereka nampak kebingungan karena mereka hanya meminta sedikit air untuk sekedar melepas dahaga. Namun, salah seorang anak tersenyum dan mengucapkan terima kasih banyak pada ibu setengah baya tersebut.

Dalam kurun waktu dua puluh tahun kemudian, kesehatan sang ibu pemilik warung nampak tidak sehat. Dirinya diidap penyakit yang disinyalir terlalu beresiko bila dilaksanakan operasi. Namun salah seorang dokter yang merawat ibu tersebut bersedia menjalankan operasi apapun resikonya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Operasi berjalan lancar dan sang ibu pemilik warung kembali sehat seperti sedia kala. Pada masa membayar tagihan rumah sakit, sang dokter tersebut sudah membayar semua tanggungan ibu tersebut. Si dokter mengirimkan surat kecil kepada sang ibu yang bertuliskan “Semua biaya rumah sakit ibu, sudah dibayarkan dengan segelas susu 20 tahun lalu.”

🤔  Akulah Manusia Trotoar

Sebuah kebaikan kecil sangatlah berharga bagi orang lain. Bahkan bersyukur dengan berbagi merupakan kewajiban individu yang patut dipelihara hingga kapanpun jua.

*Santri Pesantren Tebuireng, siswa MASS Tebuireng