Secangkir Teh untuk Irene

ilustrasi: www.google.com

Oleh: Arif Khabibullah*

Udara pagi ini begitu menyejukkan, ditambah dengan kokokan ayam yang sedari tadi subuh sudah membuat ricuh orang sekampung. Meskipun tinggal di kota metropolitan, masih banyak tumbuhan bisa berdiri tegap. Seperti seorang pahlawan dengan salah satu kaki yang diangkat ke atas sebuah batu. Sangat tangguh. Cuaca cerah sekali pagi ini, sehingga membuatku semakin semangat untuk beraktivitas, apalagi hari ini adalah hari libur pada akhir semester. Liburan yang cukup panjang waktunya jika dibandingkan dengan sekolah lamaku dulu.

Namun, sepertinya hari ini merupakan hari dimana aku dipenuhi dengan kesibukan. Mulai dari membeli beberapa barang hingga packing untuk pulang ke halaman lama. Rasanya tidak akan sabar. Sudah berapa lama aku tidak balik ke sana? Batinku menanyakan dengan sungguh. Memang, sudah hampir 4 tahun semenjak aku dan kedua orang tuaku pindah kemari, sehingga kami tidak lagi melihat kesana, mungkin hanyalah kabar dari tetangga ataupun kerabat disana saja. Banyak sekali angan-angan tentang kediaman lama kami. Tanaman rambat tertata rapi di dalam pot, sedang digantung di depan jendela depan rumah, juga belakang rumah. Pagar kayu juga sedang tertata rapi yang mengelilingikawasan pekarangan rumah. Oh iya! Si Betty, kucing kecil yang malang, aku menemukannya berada di dalam gentong air besar tetangga tanpa induknya sendirian. Apakah ia masih disana, hanya untuk menungguku kembali? Apa yang akan terjadi dengan rumah lama kami? Apa masih sama seperti dulu? Ataukah tidak?

“Irene, barangnya sudah ada belum?” sebuah kalimat dengan nada lembut memecahkan keheningan sementara yang telah kubuat sendirinya. Sehingga membuatku teringat akan satu hal. Barangnya!

*****

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Kau tahu nak! Apa perbedaanya orang yang memiliki senyum tulus dan tidak? Itu bedanya sangatlah jauh! Senyum yang tulus tanpa dimau, akan tercipta dengan sendirinya. Tanpa paksaan sama sekali. Jika dipaksa, ia akan mengganjal, seperti tidak sesuai pada kenyataannya, maka bukan senyum yang murni lagi. Sehingga ia tidak didatangkan oleh sang hati, melainkan hanyalah lahiriyah. Seperti halnya saat kamu memetik buah mangga. Ia tak selamanya sempurna kematangannya. Berbeda jika ia tumbang dengan sendiri, jangan lupa pastikan ada jaring untuk menahannya supaya tidak jatuh menyentuh tanah. Itu adalah kehendak alam, biarkan hewan-hewan bermetamorfosis! Biarkan tumuhan berfotosintesis! Mereka butuh yang namanya proses. Begitu juga kamu, apa prosesmu selama ini nak? Mulailah belajar bahagia meski ada di dalam gelombang ketidakmengertian. Lihatlah dunia, ia masih membutuhkan seorang dengan senyum tulus nan manis! Ingat Irene, senyummu bisa membuat orang lupa akan semua hal. Tetaplah belajar untuk mempelajari indahnya surganya dunia, nak! Yakinlah kamu pasti bisa,” diujung mata memandang, terlihat pemandangan yang gemilang, dunia memang tidak pernah bohong! Sisa cahaya sore membanjiri seluruh wajah 2 insan dengan 1 garis keturunan. Menyisakan betapa indahnya mega saat senja ditengah lautan hijau yang membentang luas sekali. Membuat senja ini begitu sempurna. Ditambah hembusan angin sepoi-sepoi yang selalu saja menabraki mereka.

“Jika itu tidak tulus, apa ia masih bisa menjadi tulus, Kek? Setulus induk kepada anaknya.”

“Akan selalu bisa, asalkan selama ia tetap menginginkannya. Namun bukan sebuah paksaan! Sebenarnya, bukanlah kamu yang membuatnya menjadi tulus, tetapi hanyalah hati yang bisa membuatnya dengan resep yang pas. Kamu percaya kalau kakek itu ada?”

“Percaya!”

“Dari mana kamu mendapatkan jawaban tersebut?”

“Ya kan sudah jelas Kek, bahkan mungkin anak seusia Taman Kanak-kanak pun sudah bisa menjawabnya dengan tepat dan benar dengan sendirinya mereka sudah tahu tanpa diberi tahu.”

“Nah hal tersebutlah yang harus kamu ketahui, Nak! Ia muncul karena ada dorongan dan keyakinan yang sudah melekat di hatimu sendiri. Jika kamu butuh, ia akan terdorong untuk muncul di pikiran, sebagai apa yang ia tugaskan. Itu semua adalah keyakinan yang sudah tertanam dan tumbuh besar didalam hatimu itu, Nak!” Irene masih mencerna setiap kata yang sudah terucap dari mulut sang kakek. Ia memahami semuanya, namun selalu saja muncul buih-buih pertanyaan didalam otak kecilnya, meski masih ada yang bersifat retoris dimuka umum. Secangkir kopi selamanya terlihat sangat menggoda. Ketahuilah, bahwa sebenarnya didalam secangkir itu terdapat sesuatu inti yang berbeda, tetapi tersaji untuk bersama. Secarik kopi dan gula. Terlihat gula yang meleleh terhadap air lalu serbuk kopi yang menjadi ampas. Salah satu dari mereka pernah berkata kalau ia akan selalu menciptakan kebahagiaan bagi banyak orang. Naluri antara cucu dan kekak itu selalu bercampur aduk, memahami apa yang seharusnya dipahami. Bersatu untuk bersama-sama membuat istana megah seebagai perisai bagi singgasana sang paduka raja yang kekuasaannya sejagat raya. Obrolan kedua makhluk itu bersatu dengan suasana sekitarnya. Senja yang teramat indah.

*****

Gerbong kereta tersasa pengap akan hal tersebut.

Terasa ada yang ganjil di dalamnya. Pada saat menembus cakrawala dipadang sahara nan luas. Ketika semua orang sedang merasa bingung akan melakukan apa. Aku hanya termenung akan kejadian yang menimpaku 10 tahun silam, itu. Ingatan sengaja mencoba menipu daya terhadap-ku, kutepis kuat-kuat, tetapi selalu balik lagi dengan kekuatan berkali lipat gandakan. Ada rasa pedih yang sedang mengganjal di benakku, air mata tumpah sama dengan kau membangun karya namun hanyalah sia-sia. Untuk apa memang? Tidak ada gunannya.

Ayah dan Ibu sangat tidak suka melihat putrinya merasa rapuh. Mereka sudah mendidik untuk menjadi orang yang kuat, bukan lemah! Flashbacklah yang hanya membuatku bisa menjadi satu-satunya orang yang sangatlah rapuh di dunia ini. Mereka berdua tidak pernah tahu sejauh mana aku menelusuri gorong-gorong air dalam pikiran kecilku yang membawa ku menuju gerbang kesedihan.

Banyak sekali memori yang melintang melewati kepala, sama seperti gerbong ini melewati banyaknya ladang padi dan gandum itu. Banyak sekali! Sehingga membuatku semakin terpuruk ke dalam samudera kehidupan rumitku sendiri. Lalu sebuah tangan mencoba menghampiriku, mencoba menyelamatkanku. Aku tak mau! Biarkan bocah ini tenggelam didalamnya seorang diri.

Aku tak mau ditolong siapapun, aku berani bersumpah demi kedua orang tuaku!

Aku hanya ingin memahaminya. Disaat hujan dan aku sedang menangis. Bagaimana caranya supaya terlihat samar? Mudah! Hanya itulah yang aku butuhkan. Mudah. Namun bagaimana aku bisa mendapatkannya, selama aku selalu terpaku akan ingatan masa lalu yang rasanya teramat-amat sedih.

Ragu rasanya menggapai tangan tersebut. Hingga keraguan itu semakin mengendalikanku, serasa didalam raga ini sudah tidak ada rohnya sama sekali. Nihil. Aku masih tetap tidak mau!

“Sebuah permasalahan tidak akan cepat selesai jika dilaksanakan hanya seorang diri, kau butuh seorang partner untuk menolongmu juga. Siapa itu? kau pasti tahu jawabannya,” siapa? Aku tidak tahu sama sekali!

Ayah, Ibu! Kenapa Irene dilahirkan menjadi anak yang keras kepala? Rasanya geram bukan main. Kepalaku mulai memanas, uap-uap mulai mengebul-ngebul ke atas menuju sang awan. Rambut terasa gatal, namun bukan untuk adegan orang yang kebingungan di dalam novel-novel remaja atau bahkan di film-film, tetapi gatal akan ingin mengacak-ngacaknya lalu mencabutnya dengan sekuat tenaga, agar seluruh pikiran berat bisa ikutan kecabut bersamaan dengan rambut-rambut yang terpotong dari dasarnya dengan akar-akarnya sendiri. Bagaimana jika manusia tidak memiliki otak, agar tidak mendapatkan pikiran-pikiran berat sehingga membuatnya stres, lalu depresi mungkin bisa hingga ingin bunuh diri.

****

Lembah Mahakam terasa ramai, meskipun sudah larut malam. Aktivitas manusia yang menyebabkan itu, terdapat area wisata dan sebagainya di sini. Terletak diantara kaki-kaki gunung, dan membentang luasnya persawahan.

Tanaman padi pekan ini statusnya masih belum ranum, sehingga membuatnya seperti serasa melihat awan dari atasnya, hanya saja warnanya yang hijau. Kediaman keluarga Irene menghadap kawasan persawahan nan luas itu dan juga menghadap ke arah barat. Yang setiap harinya bisa melihat matahari tenggelam. Indah sekali.

Bangunan rumahnya tidak terlalu berbeda seperti sedia kala, pekarangan-pekarangan sesamping rumah sudah mulai muncul banyak. Bahkan didirikan tempat khusus untuk bermain.

Di dalam rumah, mereka bertiga mulai membersihkan barang-barang. Membuka kain putih penutup perabotan. Mengecek saluran air. Listrik sementara waktu tidak ada, itu tidaklah cukup bermasalah. Irene menyangka kalau rumahnya ini tidak akan ada yang akan mengurusinya, ternyata kerabat dari ayahnya bersedia untuk mengurus tanpa diupahi sepeser pun uang.

Diamati baik-baik, di dalam lembah terdapat banyak sekali perubahan yang sudah terjadi, atau bahkan masih terjadi. Mulai dari pepohonan hingga pekarangan. Yang membuatnya tidak terasa terlelap di dalam mimpi-mimpinya.

*SIswa SMA Muhammadiyah 1 Jombang.

🤔  Soal Literasi, Gus Sholah: Harusnya Kita Delapan Kalinya Malaysia