Sayyidah Hajar: Potret Perjuangan Perempuan dalam Menjaga Kehidupan

49

Perayaan Hari Raya Haji atau Idul Adha dilaksanakan di setiap tahun, ada kisah pengorbanan Ibrahim dan putranya Ismail yang diabadikan dalam Al-Quran. Namun, dalam rangkaian peristiwa bersejarah itu, kita tidak boleh melupakan sosok perempuan tangguh, yaitu Sayyidah Hajar yang mendidik putranya Ismail dan menjadikannya berakhlak mulia serta ketaatannya mematuhi semua yang diperintahkan oleh Allah.

Sayyidah Hajar merupakan budak perempuan Sayyidah Sarah, istri pertama Nabi Ibrahim yang kemudian dimerdekakan dan menikah dengan Nabi Ibrahim. Keduanya setara di hadapan Allah. Mereka berdua telah menerima karunia ilahi yang sama dan kehormatan luhur yang sama untuk menjadi perempuan yang namanya akan abadi melampaui ingatan umat manusia.

Dalam kisah yang terkenal, momen Sayyidah Hajar yang baru saja melahirkan putranya sangat mengibakan. Saat itu turun perintah Allah kepada Nabi Ibrahim yang diluar nalar untuk menghijrahkan keduanya jauh di padang tandus yang belum pernah dihuni oleh siapapun tanpa perbekalan yang banyak.

Ada kalanya, Sayyidah Hajar sampai bertanya, mengapa Nabi Ibrahim meninggalkan dirinya dan bayi kecil di hamparan padang tandus tak berpenduduk? Nabi Ibrahim bergeming. Tak satu pun kata keluar darinya. Akhirnya Sayyidah Hajar pun pasrah serta paham bahwa itu adalah perintah dan Allah tidak akan meninggalkan keduanya.

Sehingga dari peristiwa tersebut terdapat hikmah luar biasa yaitu, tentang salah satu rukun dari syariat haji: sa’i. Di mana dahulu Sayyidah Hajar yang pertama kali menjadi inspirasi, dengan perjuanganya berlarian tujuh kali diantara bukit Shafa dan Marwah yang berjarak 400 meter untuk mencari air karena mendapati anaknya yang masih balita kehausan.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Dan hikmah lain, bahwa Allah mengabulkan doa Nabi Ibrahim; lembah yang dahulu istri dan anaknya ditinggalkan di tempat tersebut, kini ramai dan bahkan menjadi tumpuan hati umat muslim sedunia. (QS. Ibrahim [14]: 37)

Perempuan Membangun Peradaban

Di mana ketika menjalani perintah Allah dan berpisah dengan suaminya bertahun-tahun itu, Sayyidah Hajar membangun peradaban. Ibnu Katsir melukiskan peristiwa agung dalam tafsirnya, Ia rela pulang pergi antara bukit Shafa dan Marwah untuk mencari air bagi anaknya.

Allah kemudian menolongnya dengan memancarkan air dari bawah tanah yang disentuh kedua kaki bayinya di kamar. Ia mengucapkan kata “thaam” “tham“, “tham” (makanan, makanan, makan). Dari kata itu, air yang memancar itu dikemudian hari disebut air “Zam-zam”. Sebuah sumber mata air yang bersih dan tak pernah kering sepanjang masa dan menjadi obat dari banyak penyakit.

Lembah yang sebelumnya hanya gurun tandus bebatuan, kini memiliki daya tarik. Air yang menyumber sebagai ganjaran dari Allah atas sikap Sayyidah Hajar yang begitu tegar, merupakan cikal bakal sumur zam-zam, yang perlahan menjadi tujuan kabilah yang lewat dan menarik banyak orang untuk tinggal dan memulai kehidupan di kota Makkah yang terus berkembang hingga hari ini. Ia bukan hanya membesarkan putranya, namun juga membangun kehidupan.

Memang tidak terdapat dalam Al-Quran yang mengisakan kelanjutan cerita Sayyidah Hajar dalam membesarkan putranya Ismail. Hanya saja kita tahu bahwa tatkala Nabi Ismail telah tumbuh berusia tiga belas tahun, malah justru datang perintah baru dari Allah untuk menyembelih putranya sebagai qurban.

Karena begitu cintanya Nabi Ibrahim kepada Allah, mengalahkan rasa sayangnya pada Ismail dengan ikhlas beliau melaksanakan perintah tersebut, begitupula Nabi Ismail ia tabah dan sabar bersedia menjalani perintah itu. Maka kemudian Allah menggantikan tubuh Ismail dengan domba yang besar. (Q.S. as-Saffat [37]:102)

Berdasar dari sepenggal kisah ini, kita dapat memahami bagaimana budi pekerti Nabi Ismail kecil yang memiliki ketaqwaan dan ketaatan yang luar biasa terhadap Tuhannya. Bagaimana Nabi Ismail bisa tumbuh dengan keimanan yang begitu kuat, sementara ia bertahun-tahun tidak tinggal ayahnya melainkan hanya bersama ibunya.

Karena itu, kita bisa mengetahui Sayyidah Hajar memiliki peran utama dalam membentuk karakter Nabi Ismail, perjuangannya mulai dari mengandung Nabi Ismail, merawat, dan membesarkannya, serta mendidiknya. Tanpa peran Sayyidah Hajar, Nabi Ismail tak akan sempurna menjadi putra dan hamba yang patuh kepada perintah Tuhannya dan bersedia untuk disembelih oleh ayahnya untuk menjadi qurban. Wallahu a’lam bis-shawwab.


Penulis: Rasyida Rifa’ati Husna

Editor: Sutan