
Oleh: Izza MSW*
Patah hati ini masih basah
perih kehilangannya masih berdarah
rasa kehilangan ini nyata
tak terbantah tak bercelah
Dalam puisi ini tak ada tanda baca
dalam kalimat ini ada aksara tak terbaca
ialah kerinduan kami padanya
cinta kami yang terus menderas meski patah kehilangannya masih terasa begitu jelas
Bagaimana bisa tidak?
hingga hari ini, kehilangan sosoknya adalah patah hati terbesar kami
melepas kepergiannya jelas menjadi kenyataan terpahit hingga detik ini
Yai
kami ikhlaskan pergimu namun perih ini tetaplah perih
kami relakan ketiadaanmu namun hati kami masih sesak tertatih
Inilah yang kami khawatirkan dari kehilanganmu, Yai
bahwa
kami sendirian
dan kebingungan
sementara engkau tak ada disini
Maka bagaimanalah kehilangan ini tidak membuat kami patah?
satu warsa menabung rindu padamu yang tak pernah sudah
sejenak pun
sedetik pun
*Alumni Pesantren Tebuireng, saat ini menjadi mahasiswa UIN Malang.