(Sumber foto: haripersnasional2017.com)

“Perpurtaran zaman tidak akan pernah membuat wanita menyamai laki-laki. Wanita tetaplah dengan segala kemampuan dan kewajibannya. Yang harus berubah adalah wanita harus mendapatkan pendidikan dan perlakuan yang lebih baik. Wanita harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan,”

Roehana Koeddoes

Keluarga Roehana Koeddoes

Emansipasi perempuan memang banyak disorotkan pada sosok pahlawan perempuan yakni Ibu R.A. Kartini. Namun pada dasarnya masih banyak pahlawan perempuan Indonesia yang turut berjuang untuk indonesia baik dalam hal politik, pendidikan, pemerintahan, senjata pertempuran, maupun jurnalistik.

Roehana Koeddoes merupakan salah satu pahlawan perempuan yang juga turut berperan dalam emansipasi perempuan. Ia adalah sosok perempuan yang lahir 20 Desember 1884 di kota Gadang, Kabupaten Agam, Sumatra Barat dan meninggal pada usia 87 tahun tepatnya pada 17 Agustus 1972. Ayahnya adalah Mohamad Rasjad Maharadja Soetan sedangkan ibunya bernama Kiam. Roehana Koeddoes juga merupakan kakak tiri (saudara seayah) dari Sutan Sjahrir, Perdana Menteri Indonesia pertama.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Ayahnya menikah dengan Ibu Sjahrir setelah ibu kandungnyanya meninggal. Roehana juga merupakan sepupu Haji Agus Salim yang penah menjabat sebagai Duta Besar RI pertama, Menteri Luar Negeri ketiga, dan salah satu pelopor Home Schooling di Indonesia dan Roehana merupakan salah satu murid Home Schooling itu, karena kakek Rohana dan Agus Salim saudara kandung yang juga merupakan bibi maktuo dari penyair ternama Chairil Anwar

Perempuan Cerdas, Berkomitmen, dan Tekun

Roehana dikenal dengan sosok yang memiliki komitmen yang kuat pada pendidikan terlebih pada kaum perempuan. Pada zamannya ia adalah satu dari sekian perempuan yang memiliki kemauan besar mendobrak diskriminasi atas perempuan, baik dalam hal kependidikan maupun tindakan semena-mena. Roehana bernasib sama dengan perempuan pada masa itu. ia tidak mendapatkan pendidikan secara formal.

Namun ia adalah sosok yang tekun. Ia belajar banyak dari ayahnya Mohamad Rasjad Maharadja Soetan yang merupakan pegawai pemerintah Belanda. Dari Ayahnya ia meperoleh banyak hal dari kemampuan membaca, menulis, dn berbahasa. Roehana pada masa kecilnya seringkali dibawakan bahan bacaan dari kantor ayahnya yang sebagian besar berbahasa Belanda.

Kecerdasan, semangat, dan ketekunan Roehana lah yang menjadikannya mampu memahami ilmu-ilmu yang disampaikan oleh ayahnya, hingga pada usia muda ia sudah mampu berbicara, menulis, dalam Bahasa Belanda, Arab, Latin, dan Arab-Melayu. Pada suatu ketika ayahnya ditugaskan di Alahan Panjang, ia bertetangga dengan pejabat belanda atasan ayahnya. Dari istri pejabat tersebut Roehana banyak belajar tentang materi-materi keputrian sepeti merajut, menyulam, menenun, menjahit, dan memasak.

Selain ia belajar tentang materi keputrian di rumah istri pejabat Belanda tersebut, Roehana banyak membaca majalah, surat kabar berbahasa belanda yang berisikan berbagai macam hal, seperti gaya hidup, politik, berita, pendidikan di Eropa yang sangat digemari oleh Roehana, Roehana giat belajar agama, kepada para alim ulama di surau-surau.

Emansipasi ala Roehana

Perjuangan yang dilakukan oleh Roehana bukanlah untuk menentang kodrat sebagai perempuan, teatapi dengan bijak ia menjelaskan, “Perpurtaran zaman tidak akan pernah membuat wanita menyamai laki-laki. Wanita tetaplah dengan segala kemampuan dan kewajibannya. Yang harus berubah adalah wanita harus mendapatkan pendidikan dan perlakuan yang lebih baik. Wanita harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan”.

Emansipasi yang diwujudkan oleh Roehana bukanlah emansipsai yang menuntut persamaan antara laki-laki dan perempuan, tetapi lebih pada penguatan fungsi alamiah perempuan itu sendiri dengan menjadi perempuan sejati yang memilki pengetahuan dan keterampilan.

Pada usia 24 tahun Roehana menikah dengan Abdoellah Koeddoes, yaitu pada tahun 1980. Nama belakang Roehana Koeddoes ini diambil dari mana suaminya. Abdoellah merupakan keponakan dari ayahnya yang kemudan dijodohkan dengan anaknya Roehana. Abdoellah Koeddoes merupakan sosok yang berwawasan luas, ia dikenal piawai menulis untuk surat berita. Ia sangat mendukung kemauan Roehana guna memajukan pendidikan perempuan.

Setelah menikah, Roehana tetap melaksanakan aktifitasnya sebelum menikah, seperti menyalurkan hobinya membaca, menulis, dan mengajar ilmu-ilmu yang dikuasainya di rumah yang diikuti oleh perempuan di wilayahnya. Selain kegiatan menambah wawasan secara materi, Roehana juga mengajarkan ilmu-ilmu kewanitaan seperti menjahit, menyulam, merajut, dan menenun.

Melawan Arus Tradisi Perempuan dan Mendirikan Sekolah Kerajinan Amai Setia (KAS)

Namun, tidak banyak masyarakat yang senang dengan Roehana, karena bagi sebagian besar perempuan di daerahnya pada saat itu, hal terpenting bagi perempuan adalah mengurus rumah tangga. Karena pengaruh pandangan inilah, murid yang diajar oleh Roehana semakin lama semakin menyusut. Ia merasa sedih karena niatnya yang disalahartikan. Kemudian ia memilih untuk meninggalkan Kota Gadang dan pindah menuju Maninjau, kemudian pindah ke Padang Panjang.

Di tanah perantauan, ia tinggal selama 3 tahun, dan memutuskan kembali ke kampung halamannya, dan kemudian mendidrikan sekolah permepuan, Sekolah Kerajinan Amai Setia (KAS). Dengan mengumpulkan 60 tokoh masyarakat Kota Gadang, akhirnya ia mendirikan sekolah itu pada 11 Februari 1911. Pelajaran yang diajarkan meliputi tulis-menulis, budi pekerti, dan keterampilan.

Ia juga menjalin hubungan baik dengan pemerintah Belanda untuk memenuhi kebutuhan sekolah yang ia dirikan seperti kebutuhan jahit-menjahit dll. Selain itu ia juga memasarkan hasil kerajinan hasil murid-muridnya kepada masyarakat melalui koprasi yang pertama di Minagkabau.

Jurnalis Perempuan Pertama di Indonesia

Kemampuan menulis Roehana diwujudkan dengan menuliskan beberapa puisi, dan berbicara bak orang berpendidikan tinggi dengan berbahasa Belanda. Kiprah Roehana menjadi topik hangat di kalangan Belanda. Berita perjuangannya ia tuliskan di surat kabar terkemuka di Sumatra Barat. Kesuksesan Roehana tidak berlangsung lama. Pada tanggal 22 oktbr 1916 salah seorang muridanya yang telah dididik hingga pintar telah menfitnahnya dengan tuduhan ia melakukan korupsi, sehingga ia diturunkan jabatan dari sekolah Kerajinan Amai Setia. Melalui beberapa kali persidangan, ia terbukti tidak bersalah, dan dikembalikanlah jabatan semula di sekolah tersebut. Namun ia menolaknya dan memilih berpindah ke Bukittinggi.

Perjuangannya tidak berhenti sampai disitu, ia melanjutkan mimpinya mendirikan surat kabar perempuan. Ia sering kali mengirimkan tulisan-tulisan pada surat kabar sehingga banyak orang yang mengagumi tulisannya. Berkat ia sering membaca dan menulis menjadikannya mencintai dunia jurnalistik. Karena itulah, kemudian ia mendapatkan julukan jurnalis perempuan pertama di negeri ini. Hingga pada 10 juni 1912 ia menebitkan surat kabar Soenting Melayu yang merupakan surat kabar perempuan pertama di Indonesia.

Mendirikan Roehana School

Beberapa waktu kemudian Roehana mendirikan sekolah “Roehana School”. Pendirian sekolahnya yang kedua ini disambut dengan antusias oleh masyarakat. Hal ini tidak lepas dari nama Roehana yang telah dikenal melalui tulisan-tulisannya. Ia pun mendapatkan tawaan mengajar di Dharma Putra yang muridnya tidak hanya dari kalangan perempuan, dikarenakan kemampuan yang dimiliki oleh Roehana sangat beragam dalam bidang bahasa, agama, ketarampilan, politik, sastra, dan jurnalistik.

Dari Rantau ke Rantau, Akhirnya Pulang Jua

Roehana yang menyukai tantangan baru, memilih untuk merantau ke Lubuk Pakam dan Medan. Disana ia mengajar dan memimpin surat kabar “Perempuan Bergerak”. Kemanapun Roehana merantau, ia kan tetap pulang ke kampungnya. Sehingga Roehana memilih menetap di Padang dan kemudian ia menjadi redaktur surat kabar “Radio” yang diterbitkan oleh Tionghoa-Melayu. Roehana juga berkontribusi pada surat kabar “Cahaya Sumatra”

Tulisan-tulisan Roehana mampu membangunkan semangat kobar pemuda membebaskan dari penjajah. Salah satu ide Roehana adalah mendirikan dapur umum. Dengan begitu ia memasukkan senjata dalam sayuran sehingga tidak diketahui oleh penjajah. Ia juga merupakan sosok aktivis yang taat beragama.

Berbagai Penghargaan Ia Terima

Ia mendapatkan gelar wartawati pertama Indonesia, dari pemerintah Sumatera Barat pada 17 Agustus 1974. Kemudain ia mendapatkan pengahargaan Perintis Pers Indonesia yang diberikan oleh Menteri Penerangan Harmoko dalam memperingati Hari Pres Nasional pada 9 Februari 1987. Ia juga meraih Bintang Jasa Utama yang diberikan oleh pemerintah Republik Indonesia pada tahun 2008.

Kehidupan Roehan yang mengalami pasang-surut. Ketekunan yang selalu ia jadikan pedoman hidup menjadikannya pahlawan perempuan dengan jasa-jasa yang diberikan kepada Indonesia, negeri yang ia pijak dari lahir hingga berkalang tanah.


*Disarikan dari berbagai sumber oleh Nazhatuz Zamani  

SebelumnyaUndangan Tahlil Akbar, Temu Alumni XII dan Musyawarah Nasional IKAPETE V
BerikutnyaKetatnya Pondok Pesantren Mempersiapkan Santri untuk “Hidup yang Mudah” dengan Ibadah dan Kontemplasi*