Sumber gambar: http://batamnews.co.id

Oleh: Much. Taufiqillah Al Mufti

Pada 22 Desember 2017 lalu, GP Ansor Kota Semarang mengadakan Haul KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Tidak seperti peringatan haul atau kematian Gus Dur sebelum-sebelumnya, di mana panitia mengambil tema yang tidak biasa. Acara yang dilaksanakan di Balai Kota Semarang itu mengambil tema satir dan dalam, “Memeluk Pancasila; Gus, Tanpamu Sekarang Kita Repot”. Sebuah tema yang menandakan kerinduan para kerabat, santri, dan pengagumnya yang teramat dan ungkapan rasa kehilangan yang sangat.

Bagi awam, akan kebingungan dengan kalimat tema tersebut. Sebab tentu akan menimbulkan pertanyaan: Siapakah sosok Gus Dur? Kenapa tanpa ada Gus Dur semua jadi merepotkan, seolah-olah Gus Dur itu nabi Musa? Jika kita warga negara yang baik, pasti akan langsung mengerti yang dimaksud adalah Abdurrahman Wahid, Presiden RI keempat. Kalau pengetahuan awam sampai di situ, pasti akan tergambar dalam benaknya atas sosok Gus Dur yang berwibawa, jika berpidato menggebu-gebu, murah senyum, sama halnya presiden-presiden RI sebelumnya. Namun bila wawasan kita tentang Gus Dur lebih dari itu, apalagi sempat bertatap muka, maka imajinasi kita akan lebih detil dan bersifat personal.

Gus Dur itu intelektual, kiai, dan putra ulama yang tidak seperti umumnya, hemat bicara, mingkem bila tertawa, jika bicara ndakik-ndakik, dan suka menggurui. Sosok yang memiliki nasab singa itu, sebagai putra KH. Wahid Hasyim (Ketua MIAI dan Menag RI pertama) dan cucu KH. M. Hasyim Asy’ari (pendiri NU, Ketua Shumubu, pewaris ijazah Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, mursyid thoriqot, dan pendiri Pesantren Tebuireng) sangat rendah hati dan lebih akrab dikenal kelucuannya. Alih-alih Gus Dur diplesetkan sebagai komedian, di mana ia memiliki kebiasaan bergurau saat sedang ceramah dan berargumen dalam diskusi publik. Bab-bab yang serius, bahkan menyangkut disintegrasi bangsa, Gus Dur masih bisa melucu. Sebab di situlah ketelitian dan ketepatan Gus Dur dalam bersikap.

Seperti diceritakan kesaksian mantan Menteri Kelautan Freedy Numberi, suatu kali Wiranto yang ketika Gus Dur menjabat Presiden RI menjadi Menko Polkam RI melaporkan bahwa masyarakat Irian Jaya (ketika itu belum berganti Papua) mengibarkan bendera bergambar bintang kejora lambang OPM (Organisasi Papua Merdeka).

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Bayangkan bila yang ditanyai Soeharto, mungkin akan menjawab, “Tangkap.” Tapi seorang Gus Dur hanya rakyat sipil dan jauh dari doktrin militer hanya menjawab enteng, “Apakah di sana masih berkibar bendera merah-putih?” Lalu, Wiranto menjawab, “Ada hanya satu, tinggi”. Gus Dur terdiam sejenak dan Wiranto pun masih menunggu jawaban lanjutan, karena merasa dinanti oleh seorang mantan Panglima TNI Gus Dur pun berseloroh, “Ya, sudah. Anggap saja bendera itu umbul-umbul biasa.”

Tidak puas dengan jawaban Gus Dur karena tidak sama dengan sikap bos sebelumnya jika ditanyai tentang Irian Jaya, Wiranto pun mengingatkan, “Tapi, ini berbahaya!” Seketika Presiden RI yang juga penggemar sepakbola itu menyahut, “Pikiran Bapak yang harus berubah, apa susahnya menganggap Bintang Kejora sebagai umbul-umbul! Sepakbola saja banyak benderanya!”

Kendati (seakan) meremehkan laporan senior TNI yang kini menjabat lagi sebagai Menko Pol(hu)kam dalam Kabinet Kerja Jokowi-JK, di balik itu Gus Dur memikirkan nasib rakyatnya di Irian Jaya itu dengan serius. Ternyata paska-laporan Wiranto, mantan Ketua PBNU 3 periode itu mengeluarkan terobosan dengan mengubah nama Irian Jaya dengan Papua, membentuk PDP (Presidium Dewan Papua), dan membiarkan OPM mengibarkan bendera bintang kejora.

Tema haul yang sempat diusung oleh Gusdurian Sidoarjo dalam memperingati Haul Gus Dur ke-7, Januari 2017 lalu, sangat beralasan. Banyaknya pertikaian antar sesama bangsa yang berakar dari ego dan kepentingan masing-masing, menyebabkan bangsa ini lupa untuk bersatu. Tiap terjadi pertengkaran jarang ditemukan rekonsiliasi antar pihak yang berseteru, sebelum ada yang kalah (atau mati?) maka perang urat syaraf terus berlanjut. Pemicu  benturan itu kadang dari momen 5 tahunan sekali, yaitu pemilihan umum. Selebihnya perebutan tender proyek, monopoli pasar, penguasaan lahan, hingga persaingan ekonomi global yang kadang berkedok penyebaran ideologi dan agama.

Terlebih penyalahgunaan fungsi media sosial oleh kelompok tertentu, menyebabkan pertikaian sesama bangsa ini berujung anti-klimaks. Tak peduli suatu kabar itu valid atau hoax, asal sesuai dengan sentimen pribadi, akan disebarluaskan, baik melalui Facebook, Twetter, IG, WA, dan lain-lain. Begitu suatu kabar menjadi viral, banyak orang saling bertanya-tanya, dan bila mereka ternyata awam rentan terjadi kehebohan baik di dunia nyata maupun dunia maya. Tak heran, orang mudah tersulut api, setelah mendengar kabar bahwa agama, ras, suku, dan golongan di-celathu, walau kabar itu belum tentu benar. Solidaritas bangsa rawan terpecah, dan NKRI menjadi taruhan.

Ditangkapnya pelaku yang acap menyebar hoax di media sosial seperti Saracen dan Muslim Cyber Army menandakan proses pembentukan opini publik ternyata sedemikian masif dan terorganisir. Artinya, media sosial bukan lagi wahana hiburan tetapi selama ini ada kelompok-kelompok tertentu yang memanfaatkan dengan sadar dan sengaja guna membangun kebencian, kecurigaan, dan memancing perperangan. Isu yang sering disebar dan paling rentan meledakkan emosi masyarakat, adalah SARA. Biasanya, isu SARA yang dimunculkan adalah menyangkut keyakinan. Sehingga memudahkan pihak  tertentu dalam memobilisasi massa untuk melakukan unjuk rasa, kekerasan, persekusi, hingga chaos. Ada 9 kasus persekusi terhadap ODGJ (orang dengan gangguan jiwa), karena masifnya isu penganiayaan ulama yang sering dilakukan oleh ODGJ. Padahal ODGJ itu tidak terbukti sama sekali.

Seorang Gus Dur bukan Tuhan, bukan dewa, dan bukan nabi yang bisa mengubah keadaan dalam sekejab atau mendatangkan laknat saat ada orang terus berbuat kejahatan. Gus Dur manusia biasa tapi memiliki hati yang tulus dan pengetahuan yang sangat luas, sehingga pikiran, ucapan, dan tindakannya sesuai dan selaras. Orang tak perlu lagi meragukan perkataan Gus Dur, di samping ia sendiri tak luput dari kesalahan. Setidaknya, Gus Dur mampu menenangkan rakyatnya yang marah bercampur cemas dengan humornya. Perasaan benci antar golongan menjadi sirna seakan masuki oase, serba teduh dan sejuk. Ketika suasana dan atmosfir bangsa mulai kacau, Gus Dur justru melontarkan pernyataan sederhana dan kalimat andalan, “Gitu aja kok repot”.

Suatu saat, saya pernah membuka Youtube, dan menemukan rekaman video saat Gus Dur diwawancarai M. Guntur Romli pada acara Kongkow Bareng Gus Dur di Aswaja TV bertema Islam dan Humor. Dalam acara tersebut Gus Dur melontarkan humor, yang menyakitkan tapi bernas. Kala itu diperdebatkan mengenai agama mana yang paling dekat dengan Tuhan?

Seorang biksu Budha menjawab duluan, “Agama sayalah yang paling dekat dengan Tuhan, karena setiap kita beribadah ketika memanggil Tuhan kita mengucapkan ‘Om’. Nah kalian tahu sendiri kan seberapa dekat antara paman dengan keponakannya?”

Seorang pendeta dari agama Kristen menyangkal, “Ya tidak bisa, pasti agama saya yang lebih dekat dengan Tuhan.”

“Lah kok bisa?” Sahut biksu penasaran.

“Kenapa tidak, agama anda kalau memanggil Tuhan hanya Om, kalau di agama saya memanggil Tuhan itu ‘Bapa’. Nah kalian tahu sendiri kan lebih dekat mana anak sama bapaknya daripada keponakan dengan pamannya,” jawab pendeta.

Gus Dur yang belum mengeluarkan argumen masih tetap tertawa malah terbahak-bahak setelah mendengar argumen dari pendeta.

“Loh kenapa anda kok tertawa terus?” tanya pendeta penasaran.

“Apa anda merasa bahwa agama anda lebih dekat dengan tuhan?” sahut biksu bertanya pada Gus Dur.

Gus Dur masih saja tertawa sambil mengatakan, “Ndak kok, saya ndak bilang gitu, boro-boro dekat  justru agama saya malah paling jauh sendiri dengan Tuhan.”

“Lah kok bisa?” tanya pendeta dan biksu makin penasaran.

“Lah gimana tidak, lah wong kalau di agama saya itu kalau memanggil Tuhan saja harus memakai Toa (pengeras suara),” jawab Gus Dur (diunduh dari nu.or.id pada 14 Maret 2018).

Menurut Gus Dur, masih diwawancarai Guntur Romli, ketika ditanya apakah bisa agama dijadikan lelucon? Sebagaimana humor di atas yang rentan dilaporkan ke Bareskrim karena tuduhan penistaan agama. Bagi Gus Dur, agama dapat dijadikan humor tetapi ajarannya tidak. Artinya, syahadat, shalat, dan rukun Islam lainnya tidak dapat dijadikan lucu-lucuan. Berbeda ketika membicarakan konsep agama, tidak perlu terlalu tegang, dan sesekali diselipkan “guyonan”. Dengan humor, bukan berarti melecehkan agama, tetapi menandakan bahwa telah memahami agama dengan betul. Di sisi lain, humor dapat menimbulkan kerekatan sosial dan penghargaan atas perbedaan. “Dengan humor, kita bisa melupakan kesulitan hidup. Dengan humor, pikiran kita jadi sehat.”

Dan sekarang Gus Dur telah meninggal dunia. Pertikaian antar sesama bangsa yang sedang terjadi dan yang akan menyusul, semuanya muncul dengan wajah menakutkan. Tanpa humor Gus Dur terasa serba mengerikan. Hal itu menandaskan betapa bodoh kami, terutama saya, dalam menerjemahkan realitas. Sebab orang yang mampu membuat bencana menjadi kelucuan tanpa menyakiti pihak manapun butuh kecerdasan dan kedekatan pada Tuhannya. Wallahu a’lam


*Penulis adalah mantan Ketua Mahasiswa Alumni Tebuireng Surabaya (Manteb’s Surabaya) Periode 2013-2014.

SebelumnyaSenang Antri
BerikutnyaHasan Al-Banna Sang Pembaharu