Refleksi Santri saat Memperingati Resolusi Jihad dan Hari Santri Nasional

82
Santri Tebuireng saat melaksanakan Apel Hari Santri Nasional dan Resolusi Jihad di lapangan Pesantren Tebuireng (foto: bustan)

Tebuireng.online— Semarak peringatan 80 tahun Resolusi Jihad dan Hari Santri Nasional, Pesantren Tebuireng gelar apel di lapangan Pesantren Tebuireng pada Selasa (22/10). Sebanyak 4.000 peserta apel turut hadir dan memeriahkan acara ini. Apel dihadiri oleh pengasuh Pesantren Tebuireng, KH. Abdul Hakim Mahfudz, para dzurriyah Tebuireng, Menteri Haji dan Umroh, serta seluruh unit se-Tebuireng raya.

Muhammad Ayyasy, salah satu santri dari Madrasah Mu’allimin Hasyim Asyari, menuturkan bahwa peran santri di masyarakat yang semakin kompleks dan beragam ditengah kemajuan teknologi dinilai sangat penting. Menurutnya, sebagai santri harus mampu menjaga marwah santri di masyarakat yang awam yang segala sesuatunya bisa menyebar cepat lewat media sosial.

Baca Juga: Peringati HSN dan 80 Tahun Resolusi Jihad, Pesantren Tebuireng Gelar Apel Libatkan 4.000 Peserta

“Itu memang menjadi tantangan yang besar buat santri, bagaimana caranya kita tetap bisa menunjukkan eksistensi tanpa merubah prinsip-prinsip dasar yang kita pegang, yaitu tafaqquh fiddiin,” lanjutnya.

Ayyash mengaku sangat bangga dengan adanya hari santri ini. Lebih lanjut, hari santri menurutnya adalah momen yang tepat untuk kembali merefleksikan semangat-semangat para masyayikh dan para pejuang santri terdahulu yang telah gugur demi berdirinya Indonesia.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online
Ribuan santri Tebuireng mengikuti Apel (foto: bustan)

Disisi lain Fikriyah Diniati Albaihaki, mahasantri dari Ma’had Al-Jami’ah Hasyim Asy’ari, mengatakan bahwa santri memiliki peran penting sebagai penjaga nilai moral dan agama. Santri dituntut untuk tidak hanya memahami ilmu keagamaan, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Menurutnya, untuk mewujudkan santri yang mampu mengawal Indonesia menuju peradaban dunia adalah dengan meningkatkan kualitas diri secara menyeluruh baik dalam aspek keilmuan, akhlak, maupun kemampuan teknologi dan sosial. Selain itu, santri juga berperan sebagai agen perubahan sosial yang menebarkan nilai toleransi, keadilan, dan persatuan di tengah keberagaman.

Baca Juga: Semarak HSN di Riau, Tebuireng 3 Gelar Apel dan Tegaskan Komitmen Santri Jaga NKRI

“Bisa dilakukan dengan memperdalam ilmu agama agar memiliki pondasi spiritual yang kuat, berusaha menguasai ilmu pengetahuan modern dan teknologi agar tidak ketinggalan zaman, serta berusaha menjadi santri yang berakhlaqul karimah, berjiwa nasionalis, dan memiliki kepedulian sosial tinggi,” ucapnya.

Sementara itu, Indira Aulia Resti dari SMA A. Wahid Hasyim, menyatakan bahwa saat ini santri terpandang buruk dengan stigma perbudakan yang terbentuk di pesantren seperti kabar yang beredar. Hal seperti itu menurutnya merupakan bentuk adab santri terhadap kiai, cara santri untuk ta’dzim pada kiai yang memang ditujukan untuk meraih keberkahan.

“Santri harus membuktikan kepada masyarakat kalau santri itu bisa, santri itu bukan seperti yang mereka pandang buruk. Karena di pesantren santri tidak hanya belajar ilmu agama juga tapi dengan dibekali ilmu dunia yang sesuai dengan kemajuan teknologi,” jelas Indira.

Baca Juga: Semarak Hari Santri di Pesantren Preneur Abdul Djamil Tebuireng 17 Sokaraja

Ia mengaku senang bisa mengikuti apel peringatan Hari Santri dan diamanahi menjadi danton pasukan. Indira berharap bahwa peringatan Hari Santri kedepannya akan lebih semarak lagi dan semangat para santri harus selalu bergema di bumi Tebuireng.



Pewarta: Helfi Livia Putri
Editor: Rara Zarary