ilustrasi: zulfikri/to
ilustrasi: amir/to

1. Hadratusyyaikh KH M Hasyim Asy’ari, 1899 – 1947 (48 Tahun)

Pendiri Pesantren Tebuireng adalah KH. M. Hasyim Asy’ari putra ketiga dari 11 bersaudara, pasangan Kiai Asy’ari dan Nyai Halimah. Lahir di Jombang pada 14 Februari 1871 M. Beliau adalah putra ketiga dari 11 bersaudara dan memiliki nama lengkap Muhammad Hasyim yang kerap dipanggil Kiai Hasyim.

Sejak kecil Kiai Hasyim sudah hidup di lingkungan pesantren yang diasuh oleh ayahnya. Setelah perpindahan keluarga Hasyim di Desa Keras pada tahun 1293/1876 M, Hasyim kecil yang berusia 6 tahun sudah mulai mempelajari dasar-dasar ilmu pengetahuan. Selain itu, beliau juga mempelajari secara langsung proses membina dan mendidik santri yang dilakukan oleh ayahnya. Kiai Hasyim memiliki kecerdasan dan daya tangkap yang sangat kuat. Semua ilmu yang dipelajari dapat diserap dengan baik, sehingga Kiai Hasyim muda sudah dapat diamanahi untuk mengajar santri di usianya yang masih beliau, yakni 13 tahun. 

Setelah menimba ilmu kepada ayahnya, pada usia 15 tahun beliau belajar ke Pesantren Wonorejo Jombang, selanjutnya Pesantren Wonokoyo Probolinggo, lalu Pesantren Langitan Tuban dan kemudian Pesantren Tenggilis Surabaya. Belum merasa cukup beliau melanjutkan menimba ilmu ke Pesantren Kademangan yang diasuh oleh KH. Kholil bin Abdul Lathif Bangkalan. Selain mondok di Bangkalan, beliau juga mondok di Pesantren Siwalan, Panji, Sidoarjo, yang mana di kemudian hari Kiai Ya’qub selaku pengasuh pesantren, menjadikan Kiai Hasyim sebagai menantunya. Setelah 5 tahun belajar di pesantren tersebut, di usia 21 tahun Kiai Hasyim menikah dengan Nyai Khadijah yang merupakan putri dari Kiai Ya’qub.

Sesuainya belajar di pesantren yang ada di Indonesia, Kiai Hasyim menuju ke Mekkah guna menunaikan ibadah haji dan belajar kepada beberapa ulama di tanah tersebut. Sepulang dari Mekkah Kiai Hasyim, bersama istri menuju Pesantren Gedang, kemudian membeli tanah yang terletak di Dukuh Tebuireng. Dari situlah menjadi cikal bakal berdirinya Pesantren Tebuireng pada tahun 1899. 

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Kiai Hasyim tidak hanya berkiprah di bidang pendidikan saja. Tetapi Kiai Hasyim juga turut serta dalam mewujudkan kemerdekaan Bangsa Indonesia. Salah satu upaya yang dilakukan  adalah mendirikan organisasi Nahdlatul Ulama. Selain itu pasca kemerdekaan, pada bulan Oktober 1945 yang bertepatan tanggal 22 Kiai Hasyim mengeluarkan fatwa Resolusi Jihad yang menjadi cikal bakal peperangan pada 10 November 1945 di Kota Surabaya. Atas jasa-jasa yang ditorehkan oleh beliau, Maka Presiden Soekarno lewat Keputusan Presiden (Kepres) No. 249/1964 menetapkan bahwa KH. Muhammad Hasyim Asy’ari sebagai Pahlawan Nasional.

2. KH. Abdul Wahid Hasyim, 1947 – 1950 (3 tahun)

KH. Abdul Wahid Hasyim adalah Pengasuh kedua Pesantren Tebuireng  dan putra kelima dari pasangan Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari dan Nyai. Hj. Nafiqoh. Beliau di Jombang pada hari Jum’at 1 Juni 1914. Saat Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari masih hidup, beliau membuat sebuah terobosan tentang pendidikan di pesantren yang sebelumnya hanya berfokus pada pendidikan klasikal beliau menambahkan dengan pendidikan umum yang mana pada saat ini dikenal dengan Madrasah Nizamiyah. Adapun pendirian Madrasah Nizamiyah ini KH. Abdul Wahid Hasyim terinspirasi dari Madrasah An-Nidzamiyah di Baghdad, yang mana dengan komposisi 60 % pendidikan umum. yang memasukan keilmuan seperti ilmu bahasa Inggris, bahasa Belanda, Matematika, ilmu sosial 

Selain itu KH. Abdul Wahid Hasyim juga mendirikan  Taman Bacaan. Hal ini bertujuan untuk melengkapi Khazanah keilmuan santri dengan adanya jumlah buku lebih dari seribu. Perpustakaan ini didirikan bersamaan dengan pendirian Ikatan Pelajar Islam di tahun 1936. Di perpustakaan tersebut juga terdapat majalah atau koran yang ada di Indonesia kala itu, seperti Majalah Panji Islam, Berita Nahdlatul Ulama, Dewan Islam, Penyebar Semangat dan lain sebagainya. 

3. KH. Abdul Karim Hasyim, 1950 – 1951 (1 tahun)

KH. Abdul Karim Hasyim adalah Pengasuh ketiga Pesantren Tebuireng. Beliu  juga adalah adik dari KH. Wahid Hasyim. Beliau dilahirkan pada 30 September 1919 M. Beliau memimpin Pesantren Tebuireng hanya dalam jangka 1 tahun saja. Tetapi sebenarnya beliau telah menjadi wakil pengasuh sejak 1947, mengisi kekosongan kepengasuhan KH. Wahid Hasyim ketia menjabat sebagai Menteri Agama. Selanjutnya pada 1 Januari 1950, KH. Andul Karim Hasyim menjadi pengasuh ketiga Pesantren Tebuireng. 

Kepemimpinan yang berlangsung hanya satu tahun ternyata memberikan pengaruh yang nyata dalam beberapa hal di Pesantren Tebuireng. Pada tahun 1949, sistem pendidikan mengalami perubahan yang cukup besar. Hal ini menjadikan KH. Abdul Karim segera mengambil tindakan dengan memformalkan semua tingkatan pendidikan yang sesuai dengan sistem persekolahan. 

Selain itu, guna menjaga kelestarian ilmu salaf di Pesantren Tebuireng, dan untuk mempersiapkan tercetaknya calon guru yang mewakili khalayak belajar, KH. Abdul Karim mendirikan Madrasah Muallimin. Di mana di dalamnya banyak mengkaji ilmu agama serta dibekali ilmu mengajar. Harapan agar dapat mengamalkan ilmunya belajar dan mengajar. Harapannya agar dapat mengamalkan ilmunya melalui belajar dan mengajar. 

4. KH. Ahmad Baidhawi Asro, 1951 – 1952 (1 tahun)

Pengasuh keempat Pesantren Tebuireng adalah KH. Ahmad Baidhawi Asro. Beliau adalah menantu dari Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari dilahirkan pada 1898 di Banyumas Jawa Tengah. Kiai Baidhawi memulai pendidikannya di HIS Banyumas, setelah itu dilanjutkan ke Pesantren Jala’an dan Pesantren Nglirip (keduanya di Kebumen), serta beberapa pesantren lain di Jawa Tengah. Setelah tamat, sang guru merekomendasikannya untuk melanjutkan studi ke Pesantren Tebuireng Jombang, yang saat itu diasuh oleh KH. Hasyim Asy’ari.

Selama nyantri di berbagai pesantren, Kiai Baidhawi terkenal sangat rajin belajar, baik mempelajari kitab yang telah dikaji ataupun yang belum. Ketekunan itu ditopang oleh kecerdasannya yang luar biasa. Dia selalu menarik simpati sang kiai, dimanapun berada, tak terkecuali Kiai Hasyim Asy’ari. Kiai Hasyim sering  menunjuk Kiai Baidhawi sebagai pengganti bila sedang berhalangan. Sebagai bentuk penghargaan kepada murid istimewanya itu, Kiai Hasyim memberangkatkannya ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji dan menuntut ilmu di sana. Setelah itu, Kiai Baidhowi melanjutkan studinya ke al-Azhar, Kairo 

Sekembalinya dari Mesir, Kiai Baidhawi mengabdikan diri di Tebuireng dengan membantu Hadratus Syeikh mengajar. Tak lama kemudian, Hadratus Syeikh menjodohkannya dengan putri ketiganya, Aisyah. Dari pernikahan ini Kiai Baidhawi dikaruniai 6 putra-putri. Yaitu Muhammad, Ahmad Hamid, Mahmud, Ruqayyah (istri KH. Yusuf Masyhar MQ), Mahmad, dan Kholid.

Peran penting yang diamalkan oleh Kiai Baidhawi dalam sistem pendidikan di Pesantren Tebuireng adalah pengenalan sistem klasikal (madrasah). Dengan materi yang masih seputar kitab-litab klasik yang dikaji sebagaimana di madrasah. Dan selama masa pengabdiannya, Kiai Baidhawi tidak merubah sama sekali tatanan yang ada, hanya melanjutkan perjuangan pendahulunya.  

5. KH. Abdul Kholiq Hasyim, 1952 – 1965

Pengasuh selanjutya adalah KH. Abdul Kholiq Hasyim yang kerap disebut Kiai Kholik. Beliau adalah putra keenam dari pasangan Kiai Hasyim Asy’ari dengan Nyai Nafiqoh ini lahir pada tahun 1916. Sejak kecil beliau dibimbing langsung oleh sang ayahandanya. Kemudian setelah mampu beliau melanjutkan pendidikannya di beberap Pondok Pesantren.

Saat menjadi pengasuh KH. Kholik Hasyim melakukan pembenahan pada sistem pendidikan dan pengajaran kitab kuning yang semulanya mengunakan metode klasikal. Langkah pertama yang dilakukan beliau adalah dengan memilih guru-guru senior untuk mengajar di pondok. 

Pada masa Kiai Kholik, Madrasah yang telah dirintis oleh para pendahulunya tetap dipertahankan. Saat itu Madrasah Tebuireng terdiri dari tiga jenjang, yakni Ibtidaiyah (SD), Tsanawiyah (SLTP), dan Mua’allimin. Pada masa ini pula, Madrasah Nidzamiyah yang dulunya didirikan oleh Kiai Wahid, berganti nama menjadi Madrasah Salafiyah Syafi’iyah. Di era Kiai Kholik juga mulai dilembagakan organisasi daerah (Orda) serta dibentuk Persatuan Olahraga Pelajar Islam Tebuireng. 

6. KH. Muhammad Yusuf Hasyim, 1965 – 2006 (41 tahun).

KH. Muhammad Yusuf Hasyim adalah salah satu pengasuh Pesantren Tebuireng terlama dan beliau memiliki panggilan akrab “Pak Ud” dilahirkan pada 3 Agustus 1929. Selama memimpin Pesantren Tebuireng, Pak Ud selalu memperjuangkan kemandirian pesantren dan menggupayakan pendidikan murah bagi setiap kalangan. 

Di masa KH. Yusuf Hasyim ini, banyak perubahan serta terobosan di Pesantren Tebuireng. Pada tahun 1967 didirikanlah Universitas Hasyim Asy’ari (UNHASY). Lalu di tahun 1971, didirikanlah Madrasah al-Hufadz. Guna menunjang kemandirian pesantren, di tahun 1973 KH. M. Yusuf Hasyim mendirikan Koperasi Serba Usaha. Selanjutnya pada tahun 1975 didirikanlah unit jenjang SMP dan SMA A. Wahid Hasyim.

Tidak berhenti di situ saja, memasuki tahun 80-an, KH. M. Yusuf Hasyim pada tahun 1980 menerbitkan Majalah Tebuireng, lalu vakum serta UNHASY berubah menjadi IKAHA. 

Pada tahun 1982, dilembagakan Perguruan Pencak Silat Nurul Huda Pertahanan Dua Kalimat Syahadat. Agar Pesantren Tebuireng memiliki payung hukum sebagai sebuah lembaga instansi pendidikan, maka pada tahun 1984 dibentuklah Yayasan Hasyim Asy’ari. Kemudian pada tahun 1987 didirikan Pusat Kesehatan Pesantren. 

Memasuki di tahun 90-an, KH. M. Yusuf Hasyim melakukan penataan asrama sesuai unit pendidikan. Majelis At-Tarbiyah wa At-Ta’lim berubah menjadi Badan Pembina santri. Kemudian pada tahun 1991 didirikanlah Unit Jasa Boga (JABO). Dan terakhir pada tahun 2003 KH. M. Yusuf Hasyim mendirikan Pondok Putri Pesantren Tebuireng. 

7. KH. Salahuddin Wahid, 2006 – 2021 (14 tahun)

Pengasuh Tebuireng ketujuh adalah putra ketiga dari Kiai Wahid da Nyai Sholichah. Pada periode ini KH. Salahuddin Wahid (Gus Sholah) Beliau dilahirkan di Jombang pada 11 September 1942, dengan nama kecil Salahuddin Al Ayyubi. 

Setelah diangkatnya Gus Sholah sebagai Pengasuh Pesantren Tebuireng, langkah pertama yang diambil adalah mengorek atau mendeteksi persoalan-persoalan yang ada di Pesantren Tebuireng. Beliau juga menggugah kesadaran para guru, pengurus dan karyawan Tebuireng untuk bekerja berdasar keikhlasan. 

Pada tahun 2006, KH. Salahuddin Wahid mendirikan unit Ma’had Aly Hasyim Asy’ari, kemudian di tahun 2007 beliau mendirikan Unit Penerbitan, Unit Penjaminan Mutu, Lembaga Sosial Pesantren Tebuireng (LSPT), Unit Kebersihan Lingkungan Pesantren, dan website Pesantren Tebuireng (Tebuireng.Online). Di tahun 2008 beliau mendirikan unit Madrasah Muallimin Hasyim Asy’ari Tebuireng. Lalu pada tahun 2009, MTs Salafiyah Syafi’iyah membuka program Kelas Internasional berbasis Cambridge. Pada tahun 2010 dibukalah SD Islam Tebuireng di Kesamben Jombang. Tiga tahun selanjutnya, pada 2013 IKAHA berubah menjadi Universitas Hasyim Asy’ari dan berdirinya Pesantren Tebuireng Cabang III Riau.  

Memasuki pada tahun 2014, didirikanlah SMA Trensains Tebuireng, Pesantren Cabang Tebuireng IV Riau, dan Pesantren Tebuireng V di daerah Ciganjur Jakarta. Setahun kemudian, pada tahun 2015 didirikanlah Pesantren Tebuireng Cabang VI Jawa Barat serta SMK Khoiriyah Hasyim dipindahkan kepada Yayasan Hasyim Asy’ari. 

Tidak berhenti sampai di sana, Gus Sholah pada tahun 2016, mendirikan Lembaga Diklat Kader Pesantren Tebuireng, Pesantren Tebuireng Cabang IX Sumatera Utara dan mendirikan Pesantren Tebuireng Cabang VII Sulawesi Utara. Setahun kemudian di tahun 2017, beliau mendirikan Pesantren Tebuireng Cabang X Bengkulu, mendirikan Pusat Kajian Pemikiran Hasyim Asy’ari, mendirikan Pesantren Tebuireng Cabang XI Maluku, dan mendirikan Pesantren Tebuireng Cabang VIII Banten. 

Pada tahun 2018, beliau mendirikan SMP Sains di Pesantren Tebuireng. Mendirikan Cabang XII Lampung, mendirikan Rumah Produksi Tebuireng, dan mendirikan Pesantren Tebuireng Cabang XIII Banten. Setahun kemudian, di tahun 2019 beliau mendirikan Pesantren Tebuireng Cabang XIV Bintan di Kep. Riau dan mendirikan Pesantren Tebuireng Cabang XV Samarinda. 

8. KH. Abdul Hakim Mahfudz, 2020 – sekarang. 

Pasca wafatnya KH. Salahuddin Wahid, pada 02 Februari 2020, kursi kepemimpinan Pengasuh Pesantren Tebuireng diserahkan kepada KH. Abdul Hakim Mahfudz. Jauh sebelum wafatnya KH. Salahuddin Wahid, pada 2015 KH. Abdul Hakim Mahfudz telah menjadi wakil Pengasuh Pesantren Tebuireng, yang mana KH. Abdul Hakim Mahfudz berfokus pada ranah internal pesantren, sedangkan KH. Salahuddin Wahid berfokus pada bidang eksternal pesantren. 

Di masa kepemimpinan KH. Abdul Hakim Mahfudz, beliau belum banyak melakukan banyak terobosan sebagaimana dua pengasuh terdahulunya, KH. M. Yusuf  Hasyim dan KH. Salahuddin Wahid. Program utama yang dijalankan oleh KH. Abdul Hakim Mahfudz ialah membangkitkan kembali khzanah nuasa pengajian kitab klasik yang ada di Pesantren Tebuireng, seperti didirikannya Riyadhotut Tholabah, yang bergerak pada bidang Kajian dan Bahtsul Masail. Selanjutnya ialah mengubah jam pembelajaran di sekolah yang sebelumnya full day school di sekolah masing-masing diubah dengan system diniyah Ketika memasuki sore hari. Selain itu beliau juga mendirikan Tebuireng Institute For Islamic Studies sebuah Lembaga yang berkonsen membahas peninggalan Hadratusyyaikh KH M Hasyim Asy’ari, baik berupa ideologi pemikiran beliau atau karya-karya beliau. 

Di era KH. Abdul Hakim Mahfudz, terdapat tiga cabang Pesantren Tebuireng yang berdiri, antara lain adalah; Cabang ke-16 Pesantren Tebuireng yang diberi nama Tahfidz Al-Musthofa, Pesantren Tebuireng Cabang 17 Banyumas Jawa Tengah.

**Disusun oleh: Dimas Setyawan Saputra (Mahasantri Mahad Aly Hasyim Asy’ari Jombang)

SebelumnyaDari Santri untuk Negeri
BerikutnyaSukses AMSP, Mahasiswa Unhasy Lepas Pisah dengan MAN 3 Jombang