Prof Zahro Ungkap Tiga Senjata yang Harus Dimiliki Santri Tebuireng

37
Prof. Dr. H. Ahmad Zahro hadir memberikan mauidoh hasanah pada santri putra saat wisuda Takhassus dan Binnadhor. (foto: Irsyad)

Tebuireng.Online— Pada perhelatan wisuda Binnadhor dan Takhasus Pondok Putra Pesantren Tebuireng, yang diselenggarakan di lapangan Pesantren Tebuireng pada Ahad (25/5/2025) malam, Prof. Dr. KH. Zahro, MA., hadir memberi nasihat pada seluruh santri.

Guru Besar bidang Ilmu Fiqih (Hukum Islam) di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, serta salah satu Imam Besar Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya itu,  memberikan nasihat kepada seluruh santri yang diwisuda bahwa dalam menjalani kehidupan apapun itu harus dilandasi oleh rasa keikhlasan.

“Apapun yang kita lalukan harus dilandasi oleh keikhlasan,” ungkap Guru Besar UIN Surabaya itu memulai mauidhohnya.

Hal ini, lanjutnya, sebagaimana yang telah diteladani oleh para kiai-kiai kita terdahulu, seperti KH. Muhammad Hasyim Asy’ari yang mendirikan Pesantren Tebuireng kemudian ada kiai-kiai lainnya yang senantiasa ikhlas saat mendirikan pondok pesantren, walaupun santrinya hanyalah berjumlah 25 orang.

“Meskipun dengan keterbatasan dan minimnya santri pada awal-awal pendirian pondok pesantren, beliau-beliau semua senantiasa ikhlas dalam mengajar dan menyebarkan ilmu ajaran Islam,” tegasnya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Baca Juga: 764 Santri tingkat SLTA Tebuireng Resmi Diwisuda

Prof. Zahro, juga menekankan bahwa pendidikan pondok pesantren telah mampu memikat orang-orang Amerika dan Jepang.

Dalam ceritanya, beberapa waktu lalu, orang-orang dari Amerika dan Jepang meneliti dan mempelajari bagaimana pendidikan serta mempelajari kehidupan para Santri di pondok pesantren. Kemudian mereka menyimpulkan bahwa para Santri yang ada di pondok pesantren berkat pendidikannya, mampu menjadi manusia-manusia yang sopan santun dan sangat patuh.

“Kami orang-orang Amerika dan Jepang mungkin sangat bisa mencetak manusia-manusia yang pintar, tapi tidak dengan manusia-manusia yang sopan santun dan patuh seperti para santri ini,” terangnya menceritakan.

Beliau juga mengulik makna dari ikhlas. Menurutnya, ikhlas itu terbagi menjadi tiga hal yakni, takwa kepada Allah, berbakti kepada orang tua, dan berani hidup susah.

Baca Juga: Wisuda Pondok Putri Pesantren Tebuireng, Kiai Kikin Ingatkan Hal Ini

“Apa Ikhlas itu? Yang pertama adalah takwa, maka jadi apapun itu seorang santri harus senantiasa bertakwa kepada allah. Yang kedua berbakti kepada orang tua, saya sangat takut kepada santri yang sambat (mengeluh) kepada orang tua, yang tidak enak-enak. Saya dulu ketika di pesantren tidak pernah memberitahu hal-hal yang tidak enak kepada orang tua saya, orang tua harus tau hal-hal yang enak saja,” jelas beliau.

Selain itu, lanjutnya, yang ketiga adalah berani rekoso atau berani hidup susah. Para santri baik kaya dan miskin, jangan mudah sambat atau mengeluh, karena di setiap ada kesusahan pasti ada kemudahan. Karena tidak mungkin satu kesulitan itu bisa mengalahkan dua kemudahan.

“Prinsipnya santri jangan mudah mengeluh, dalam hidup ini penuh dengan tantangan maka hadapilah dengan sendirinya, jangan beritahu orang tua, bagaimana tidak enaknya kita di pesantren,” nasihatnya.

Baca Juga: Haflah Muwadda’ah Pesantren Tebuireng Putri Kesamben Wisuda 48 Santri

Kepada santri dan sebagai Alumni Pesantren Tebuireng, beliau mengatakan, “kalian harus dapat mengatakan bahwa, ini saya, bukan ayah saya siapa.” Pesannya.

Baginya, seorang santri Pesantren Tebuireng harus terbiasa dengan puasa, jangan sampai tidak pernah puasa sunnah sama sekali saat di pesantren, “jadi santri kok tidak pernah puasa, ya alamat itu. Karena para pendahulu kita senjata utamanya adalah puasa, di sisi lain sebagai riyadhoh tapi juga memang tidak ada makan, karena makanya hanya ada seadanya saja,” imbuhnya dengan nasihat lain.

Terakhir, beliau mengingatkan bahwa selain takwa, bagaimana menjadikan doa itu sebagai senjata, “karena dawuh Kanjeng Nabi, bahwa doa itu adalah otaknya ibadah, doa itu senjatanya orang mukmin. Maka kalian semuanya harus berpodoman pada ini, doa ini.” Tandasnya.



Pewarta: Dimas Setyawan Saputro
Editor: Rara Zarary