Pesantren Tebuireng di Mata Profesor Yasuko Kobayashi

1116
Pimpinan Departemen Studi Asia Fakultas Studi Luar Negeri Nanzan University Nagoya Jepang, Profesor Yasuko Kobayashi saat diwawancarai oleh wartawati Tebuireng Online pada Rabu (07/03/2018). (Foto: Hanivan)

Tebuireng.online– Pesantren Tebuireng kembali kedatangan seorang tamu berkewarganegaraan Jepang, seorang peneliti sosial budaya Asia, Profesor Yasuko Kobayashi. Setelah melakukan observasi Muktamar ke-33 NU empat tahun yang lalu, ia kembali mengunjungi Pesantren Tebuireng untuk melihat perkembangan pendidikan di Tebuireng khususnya pendidikan untuk perempuan.

“Kunjungan saya ke Indonesia kali ini dalam rangka mengantar mahasiswa ke Jogjakarta untuk mengikuti kursus Bahasa Indonesia. Saya memanfaat waktu ini untuk berkunjung ke Jombang, selama saya di Jombang rekan saya yang menemani,” jelas Profesor Yasuko Kobayashi pada Rabu (07/03/2018) kepada Tebuireng Online di sela-sela melihat-lihat perkembangan Tebuireng.

Tahun 1984 ialah kujungan pertama Dosen pengampu mata kuliah sejarah Indonesia di NanZan University Jepang itu ke Pesantren Tebuireng. Ia ingat betul saat itu santri putri masih dialokasikan di Pesantren al Masruriyah asuhan Nyai Hj. Khodijah, hingga ia memahami lingkungan dan mengenal beberapa orang di Tebuireng, terutama Nyai Hj. Khodijah, putri KH. M. Hayim Asy’ari dan Nyai Hj. Masruroh.

Kemudian pada tahun 2009, ia kembali mengunjungi Pesantren Tebuireng saat wafatnya Presiden ke-4 RI, KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang ia gemari. Lalu, kembali berkunjung pada tahun 2015 guna melakukan observasi Muktamar ke-33 NU di Jombang. Sementara kali ini merupakan  kunjungan keempat Yasuko Kobayashi ke Tebuireng dengan tujuan untuk meninjau sejauh mana perkembangan Pesantren Tebuireng, terutama perkembangan pendidikan bagi santri perempuan.

Ia menjelaskan dalam Bahasa Indonesia lancar, almamaternya, NanZan University mempunya fokus studi sosial dan budaya negara-negara Asia yang memiliki aneka ragam budaya dan bahasa, salah satunya Indonesia. Dalam proses pembelajaran mengenai kebudayaan Indonesia, setiap tahunnya NanZan University mengadakan lomba pidato Bahasa Indonesia yang dibantu oleh KBRI dan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI). Terkadang, lanjutnya, di NanZan University beberapa mahasiswanya juga memainkan gamelan.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Selain meninjau perkembangan Pesantren Tebuireng, Yasuko Kobayashi juga ingin membuktikan bahwa santri juga dapat berinteraksi baik antar lawan jenis dalam hal positif, maupun dengan orang lain di luar pesantren.

“Jepang mengenal muslim itu sangat menakutkan, terutama ISIS, maka dari itu saya sangat senang membawa mahasiswa saya ke sini untuk melihat kenyataan, bahwa anak pesantren juga berani bergaul dengan teman-teman dari luar dan supaya saling memahami,” jelas pimpinan Departemen Studi Asia Fakultas Studi Luar Negeri Nanzan University Nagoya Jepang itu.

Mutakhir ini, tambahnya, berita dari Indonesia yang beredar di Jepang tengah menuai pertanyaan, apakah sikap toleran mulai berkurang, atau wajah moderat Islam Indonesia itu berubah, serta beberapa tanda-tanda dari berkurangnya sikap toleransi. Maka dari itu, ia berinisiatif mengajak beberapa mahasiswanya untuk menjawab kekhawatiran itu.

“Jasa Gus Dur sangat besar untuk memperkenalkan wajah Islam di seluruh dunia, saya membaca banyak karya Gus Dur dari kecil hingga besar, lebih dari 300 buku yang saya baca, dan saya sangat kagum. Orang-orang yang mempelajari Indonesia cukup memahami jasa Gus Dur, meski di mata saya masih kurang, dan saya pun menjadi semacam Gus Durian Jepang,” puji Yasuko mengenai jasa-jasa almarhum Gus Dur untuk perdamaian dunia.

Selanjutnya, Yasuko menyampaikan kesannya mengenai perkembangan pesantren di Indonesia selama 30 tahun terakhir. Ia menemukan fakta bahwa pesantren di Indonesia terus mengalami perkembangan di Indonesia dan memiliki banyak variasi dan tipologi.

“Dalam perkembang itu, saya kira Tebuireng tetap menjadi satu panutan. Perkembangn pesantren merupakan salah satu bukti, bahwa Islam mengikuti zaman, dan pesantren menjadi suatu agen transformasi bagi masyarakat,” pungkas Yasuko mengungkapkan kekagumannya atas perkembangan pesantren yang begitu pesat dan mengikuti zaman.


Pewarta:             Ana Saktiani Mutia

Editor/Publisher: M. Abror Rosyidin