yayan musthofaJika ada seorang santri akan kedatangan kiainya ke rumah; atau rakyat biasa akan kedatangan presiden, bupati, dan orang terhormat lainnya, pasti mereka berusaha menyiapkan sebaik yang mereka bisa. Akan tetapi, akan terlihat konyol jika orang ini hanya membersihkan teras rumah dan ruang tamu, mengecat daun pintu dan menghiasnya, memberikan pernak-pernik lainnya di penampakan luar, sedangkan sampah-sampahnya dikumpulkan dalam rumah, dibiarkan berserakan menggunung. Bukan begitu?

Ya, ini adalah permisalan dari kelompok kedua dari klasifikasi ahli ilmu yang disoroti oleh Abu Hamid al Ghazali. Seorang ahli hikmah (ahlu hikmah) yang berusaha menghias diri dengan ketaatan kepada Allah SWT serta menghindari kemaksiatan hanya dalam penampakan luar saja, sedangkan dalam hatinya masih banyak tumpukan sampah riya’, sombong, iri, dengki, dan mencari kedudukan serta nama besar.

Permisalan yang lebih mendekati itu katanya, seorang petani yang sawah padinya ditumbuhi rerumputan di sekitarnya dan petani itu hanya mencabut rumput bagian atasnya, membiarkan akarnya tetap dalam tanah untuk tumbuh kembali di kemudian hari. Terang saja, rumput itu akan tetap mengganggu tanaman padinya.

Ḥujjatul Islām melansirkan beberapa hadis untuk memperkuat ilustrasinya bahwa, “al ḥasadu ya’kulul ḥasanāt kamā ta’kulun nāru al ḥaṭoba,” hasud (iri) akan memakan kebaikan-kebaikan seperti api melahap kayu bakar. “Adnār riyā’ syirkun,” secuil riya’ pun syirik. “lā yadkhulul jannah man fī qolbihi mitsqola dzarrotin min kibrin,” menjadi penghalang masuk surga bagi orang yang di dalam hatinya terpercik sebiji kesombongan, dan seterusnya.

Bukan kemudian diartikan dengan menghindari kesombongan, gila kedudukan, dan nama lantas meninggalkan yang seharusnya sudah menjadi kewajibannya. Tidak mau menjadi imam keagamaan (Islam) dalam masyarakat dengan alasan menghindari penyakit-penyakit hati, bukan demikian. Ini tidak berlaku hukum mafhūm mukholafah, hukum kebalikan.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Seorang yang sakit gatal, kata Imam al Ghazali, atau tabrakan parah yang mengakibatkan luka parah, patah tulang, dan kulit lecet tidak menggubris perban, salep, revanol, dan obat luar lainnya. Kesembuhan dilangsungkan dari dua sisi. Sisi luar: salep dan perban; dan dalam: kapsul dan sirup. Tidak dapat dipilih hanya dari satu sisi.

Ketaatan luar tetap terus dijalankan dan ditegakkan, seraya terus mencabuti rumput iri, hasud, kesombongan, gila kedudukan dan nama yang notabene adalah pengganggu tanaman.

Disarikan dari Iḥyā’ ‘Ulūmiddīn, oleh: Yayan Musthofa

SebelumnyaHaji Mabrur atau Haji Mabur (?)
BerikutnyaTasawuf sebagai Wacana Universal