sumber: http://zahratulquran.com/artikel/geliat-semangat-qurani-ummat/

Oleh: Silmi Adawiya*

Hafidz Al Quran adalah mereka yang menghafal Al Quran dalam ingatan sehingga dapat melafadzkan ayat-ayatNya tanpa melihat mushaf Al Quran. Dengan melihat kedudukan Al Quran, maka hafidz Al Quran memiliki kedudukan yang tinggi dalam Islam. Hal ini dapat dilihat dengan memahami dari kedudukan Al Quran, keutamaan membaca Al Quran, dan yang terpenting adalah berkhidmat kepada agama Allah dalam rangka memelihara kelestarian dan kemurnian sumber utama ajaran Islam.

Para ulama sepakat bahwa hukum menghafal Al Quran adalah fardhu kifayah.  Artinya jika menghafal Al Quran telah dilakukan oleh satu orang atau lebih, maka kewajiban itu menggugurkan beban masyarakat lain yang terdapat di suatu kaum, seperti pelaksanaan salat jenazah. Namun jika tidak, maka berdosalah semuanya.

Jaminan tentang pemeliharaan Al Quran merupakan sebuah keniscayaan bagi Allah. Begitupula dengan penjagaannya, Allah menjadikan orang-orang pilihan untuk menghafal dalam hatinya yang mulia dan bersih. Begitulah Allah menjelaskannya dalam QS Al-Hijr ayat 9. Lantas dimanakah urgensi hafidz Al Quran di zaman serba modern sepereti ini?

Para hafidz Al Quran itu menghafal ayat-ayatNya dalam rangka menjaga kemutawattiran, yang dimaksudkan untuk memelihara jumlah para penghafal Al Quran di setiap masa. Sehingga tidak tercatat dalam sejarah suatu masa dimana manusia tidak menghafal Al Quran, mereka menukil dari tangan ketangan, dari hafalan ke hafalan dalam jumlah banyak, sehingga setiap huruf Al Quran, kalimat, bahkan dalam harakat dan sukun-sukunnya terpelihara dalam jumlah yang banyak.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Dengan begitu, Allah juga menjaga Al Quran dari beberapa usaha adanya tahrif, yaitu perubahan pada teks asli Al Quran sehingga tidak sesuai dengan aslinya. Dalam hal ini, Al Quran sangat jauh sekali dari adanya tahrif, karena adanya para penghafal Al Quran di setiap masanya. Sehingga jika dibandingkan dengan kitab-kita samawi terdahulu, Al Quran jauh lebih sulit untuk dicari kelemahannya. Jiakalau ada kekeliruan, kesalahan ataupun kurang tepat sedikitpun, para penghafal Al Quran mampu melihatnya dengan jelas.

Selanjutnya adalah mereka yang berhasil menghafalkan Al Quran dengan baik dan sempurna dapat meningkatkan kualitas pribadi dan masyarakat Islam. Karena sejatinya sumber ilmu dan petunjuk terbaik menuju kesuksesan dunia dan akhirat adalah Al Quran. Al Quran akan menjadi sumber kekuatan untuk meraih cita-cita dan cinta jika dimaksimalkan dalam diri seseorang.

Yang begitu dikarenakan dalam diri seseorang terdapat sebuah kemulian yang difirmankan lansung oleh Allah dalam QS al Anbiya’ ayat 10:

لَقَدْ أَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ كِتَابًا فِيهِ ذِكْرُكُمْ  ۖ  أَفَلَا تَعْقِلُونَ

Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka Apakah kamu tiada memahaminya(QS. Al Anbiya: 10).

Ayat tersebut menjelaskan bahwa pada diri manusia terdapat suatu kemuliann yang masih minim diketahui oleh manusia sendiri, sehingga pada akhir ayat tersebut Allah mengisyaratkan “mengapa kalian tidak berfikir”. Artinya dalam Al Quran banyak sekali penyebutan manusia sebagai makhluk hidup, penciptaan manusia, peraturan hidup, dan beberapa undang-undang kepada Allah dan kepada alam. Dengan demikian, al-Qur’an terkandung nilai-nilai yang mencerdaskan kualitas umat Islam dari berbagai aspek keilmuan.

Menghafal Al Quran juga dapat meningkatkan kualitas hidup umat Islam dari kebodohan, kemiskinan dan tipu daya orang-orang yang tidak suka Islam untuk menghancurkan agama ini dengan cara-cara halus. Hai ini dapat kita mengerti bahwa setelah kualitas pribadi penghafal berkembang dan maju, maka mereka diberi keyakinan yang mantap dan kepedulian yang tinggi terhadap agama mereka. Secara lansung Allah menegaskan:

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا

Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih Lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar”   (QS. al Isra’: 9).

Ayat tersebut mengisyaratkan bahwa Al Quran memberikan petunjuk kepada jalan yang lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang yang mengerjakan amal salih. Dengan begitu, kualitas pribadi secara kolektif, masyarakat akan terbangun, kepedulian terhadap ajaran-ajaran agama akan semakin meningkat dan terpenting adalah nilai-nilai akidah secara benar-benar tertanam untuk mewujudkan masyarakat yang tayyibah dan rabbun ghafur atau atau  juga masyarakat madani yang sesuai dengan petunjuk-petunjuk Al Quran dan sunnah-sunnah Rasulullah SAW.


*Alumnus Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy) dan Pesantren Putri Walisongo Cukir, sekarang menempuh pendidikan di Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

SebelumnyaCak Nur, Cendekiawan Muslim Kontroversial
BerikutnyaDoa dan Amalan Antiteror Bom