Beberapa sahabat PMII Hasyim Asy’ari foto bersama Mif Rohim, Wakil Rektor Unhasy saat memberi materi dalam pengkaderan anggota PMII di Klenteng Gudo, Sabtu (21/12/19). (Foto: Faizal)

Tebuireng.online– H. Mif Rohim, Wakil Rektor Unhasy tanggapi PMII Hasyim Asy’ari Tebuireng yang melaksanakan Pelatihan Kader Dasar (PKD) di Klenteng Hong San Kiong Gudo, Sabtu (21/12/19). Mif Rohim hadir sebagai narasumber PKD PMII Hasyim Asy’ari untuk menyampaikan materi peta gerakan Islam.

Peserta pengadegan diikuti oleh mahasiswa dari berbagai universitas di Jawa Timur seperti UNESA, IAIN Tulung Agung, IAIN Kediri, UNU Blitar, UPN Veteran Surabaya, UTM, UNISDA Lamongan, Unhasy, dan Mahad Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng.

Pada kesempatan itu, dosen Unhasy tersebut memberikan tanggapan saat diminta panitia untuk menyampaikan pandangan atas kegiatan pengkaderan PMII yang dilaksanakan di Klenteng Hong San Kiong Gudo.

“Dalam Islam itu ada ukhuwah Islamiyah, ukhuwah Wathoniyah, ukhuwah Jamiyaah, ukhuwah Basyariyah, dan ukhuwah Insaniyah,” ungkapnya.

Menurutnya, ukhuwah Islamiyah adalah persaudaraan internal sesama umat Islam. Dalam ukhuwah Islamiyah kita diajarkan membangun hubungan Vertikal HablumminAllah (Hubungan Manusia dengan Allah) dan Horizontal Hablumminannaas (Hubungan Manusia dengan Manusia). Kita juga mengenal konsep tauhid Rububiyah (Kepercayaan bahwa hanya Allah satu-satunya Rabb yang maha segalanya) dan tauhid uluhiyah (mengesakan Allah dari segala bentuk peribadahan baik dzahir maupun batin), sehingga aktivitas kita semua ini harus kita dasarkan pada tauhid uluhiyah semata-mata hanya ibadah kepada Allah, untuk tempat tidak ada urusan.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Kedua adalah Ukhuwah Wathoniyah, persaudaraan sesama warga negara Indonesia yakni kita semua bertanggung jawab menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia serta meneguhkan Kedaulatan. Jadi kita tidak pandang itu agama Islam maupun non Islam,” tambahnya.

Ketiga ukhuwah Basyariyah, lanjutnya persaudaraan sesama manusia, kita itu sama Basyar atau manusia jadi tidak memandang umat Islam, Kristen Yahudi, Tiong Hoa. Artinya kalau ingin dihormati orang maka kita harus menghormati, kalau ingin dicubit orang maka kita harus mencubit, oleh sebab ini maka harus ada hak saling menghormati antara umat beragama, seperti kegiatan kalian di Klenteng ini.

“Ukhuwah Insaniyah persaudaraan sesama insan, hubungan sesama sosiologis, kehidupan sosial, jadi kita hidup dengan kehidupan sosial yang baik. Sesama insan manusia harus tercipta hubungan sosial yang baik, kita harus saling menghargai, toleransi, umat beragama saling menghormati, saling menjaga toleransi, tapi dalam arti toleransi ini bukan berarti kita menyembah agama mereka, dengan seremonial mereka, di Klenteng mereka, tidak seperti itu. Begitu pula bukan berarti kita mengajak mereka untuk dipaksa salat dengan cara kita,” terang Wakil Rektor Unhasy itu.

Baginya, inilah yang menjadi sebab sehingga turun ayat lakum dinukum waliyadin. Jadi hubungan kehidupan sama, bedanya adalah konsep ritual seremonial dalam arti tauhid rububiyah. Orang Yahudi, Kristen, China ketika ditanya siapa yang menciptakan alam semesta dia akan berkata, yang Islam Allah, dibahasakan Indonesia menjadi Tuhan dan menurut mereka istilahnya ya tuhan mereka.

“Jadi kesamaan ini adalah harapan, menjadi inspirasi dan menjadi dasar kita hidup bersama, kita rukun tidak saling menjatuhkan, tidak saling mengkritik, tidak saling anarkis dan tidak saling radikal tetapi harus tasamuh. Jadi mengadakan acara di sini (Klenteng), kita tidak ada hubungan dengan ritual seremonial, kita memanfaatkan area di sini karena dirasa pas untuk dijadikan sebagai tempat acara. Sekadar menempati area lokasi saja bukan lokasi tempat ritual beribadah mereka,” tandasnya.

Pewarta: Faisal Bagus Apriliawan

SebelumnyaGus Muwafiq Hadiri Acara Seribu Rebana Haul ke-10 Gus Dur
BerikutnyaSuasana Haul ke-10 Gus Dur, dari Penonton hingga Pedagang Kaki Lima