Pemberian cindera mata oleh Gus Kikin kepada KH. Habib Ahmad.
Pemberian cindera mata oleh wakil pengasuh Pesantren Tebuireng, KH. Abdul Hakim Mahfudz, Gus Kikin kepada KH. Habib Ahmad.

tebuireng.online– Pengajian kitab Shahih Bukhari ataupun Shahih muslim di Bulan Ramadan merupakan karakteristik Pesantren Tebuireng. Pengajian ini sudah ada sejak zaman Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari hingga saat ini. Dalam perkembangannya tak hanya dua kitab itu saja, tetapi ditambah dengan beberapa kitab, majlis, dan qari‘ yang berbeda. Kemarin, (21/06/2016) seluruh gelaran pengajian Ramadan resmi ditutup dengan pengajian umum di halaman utama Pesantren Tebuireng.

Kitab yang dibaca tahun ini diantaranya Shahih Bukhari, diasuh oleh KH. Habib Ahmad, Maa Laa Ainun Roat diasuh KH Taifiqurrohman, Nurul Islam diasuh KH. Fahmi Amrullah Hadzik dan beberapa kitab lainnya. Sebelum Ramadan pengajian ini sudah dimulai dan khatam pada hari Ahad (22/06/201). Acara dimulai dengan lantunan shalawat dipimpin grup al Banjari as Syaikhu, dilanjutkan dengan pembacaan doa dan mushafahah serta buka bersama.

Acara penutupan pengajian ini diawali dengan pembacaan Al Qur’an yang dilantunkan oleh Fajrul Falah, siswa kelas 2 Aliyah. Kemudian dilanjut dengan sambutan-sambutan. Sambutan pertama dibawakan oleh Ahmad Tubbak, salah satu santri kilatan asal Purwodadi. Dia mengucapkan terima kasih sekaligus memohon maaf atas segala kesalahan ketika mengaji di Pesantren Tebuireng.

Sambutan kedua dibawakan oleh Gus Fahmi, Kepala Pesantren Tebuireng Putri. Dalam sambutannya, beliau berpesan untuk menjaga kitabnya saat pengajian. Disampaikan pula ucapan terima kasih beliau atas santri putra maupun putri yang telah mengikuti pengajian dan meminta maaf apabila ada kesalahan saat mempimpin pengajian.

Sedangkan sambutan ketiga dibawakan oleh Kepala Pondok Pesantren Tebuireng, H. Ainur Rofiq. Beliau mengungkapkan rasa terima kasih kepada seluruh ustadz dan kiai yang telah mengabdikan diri mereka kepada Pesantren Tebuireng. Beliau berpesan kepada santri-santri agar mengutamakan akhlaknya daripada yang lainnya. “Rasulullah diutus ke dunia untuk menyempurnakan akhlak. Akhlak merupakan nilai tertinggi bagi manusia,” ungkap beliau.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Pengasuh Pesantren Tebuireng, Dr. Ir. KH. Salahuddin Wahid mengakhiri sambutan-sambutan yang ada. Beliau menyampaikan bahwa zaman dulu banyak tokoh Muhammadiyah yang ikut mengaji di Pesantren Tebuireng. Ma’had Aly Hasyim Asy’ari ke depan setelah menjadi legal akan dikonsentrasikan ke Hadis dan Ilmu Hadis. Beliau menutup sambutan beliau dengan mengutip pesan dari Mbah Hasyim, “Santri yang baik adalah santri yang mengamalkan ilmu yang didapatkan di pesantren.”

KH. Ubaidillah Faqih, pengasuh Pesantren Langitan, Tuban.
KH. Ubaidillah Faqih, pengasuh Pesantren Langitan, Tuban.

Seusai sambutan-sambutan, wakil pengasuh Pesantren Tebuireng, KH. Abdul Hakim Mahfudz, Gus Kikin secara simbolik memberikan cindera mata kepada KH. Habib Ahmad. Disusul dengan pembacaan sholawat oleh tim banjari dan penampilan Lalu Ahmad Yani, Santri Tebuireng yang Sukses Lolos Akademi Sahur Indosiar (AKSI).

Mauidhah hasanah dalam acara ini diisi oleh KH. Ubaidillah Faqih, pengasuh Pesantren Langitan, Tuban. Beliau menceritakan tentang sejarah Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. (Masnun/Abror)

SebelumnyaKH Ubaidillah Faqih: Ciri Khas Santri, Profesi Apapun Bukan Karena Dunia
BerikutnyaHikmah Pengajian Kilatan Ramadan