Foto penulis

Oleh: A. Fadzlur Rahman*

Tertutupnya pintu ijtihaad di dalam lingkaran disiplin fikih berdampak besar pada tertutupnya ijtihaad di segala bidang di lingkaran peradaban islam. Semua ini bisa dimaklumi, karena menurut Abid al-Jabiri, peradaban Islam memang merupakan peradaban yang didominasi oleh Fikih. Sehingga ketika pintu ijtihaad di disiplin Fikih ditutup, maka usaha kreatif yang berada di luarnya juga akan mengalami kebekuan ketika Fikih menutup diri dari kreatirvitas-kreativitas dan inovasi-inovasi baru.

Di samping Islam yang didominasi oleh peradaban fikih, ada peradaban yang sebelumnya, yaitu peradaban Yunani yang disebut-sebut sebagai peradaban filsafat. Dan sesudah peradaban Islam, juga ada peradaban Eropa yang diidentikkan sebagai peradaban sains dan teknologi (Red: Abid al-Jabiri). Dari dominasi-dominasi di disiplin masing-masing ini lah peradaban dunia yang pernah ada mengembangkan peradabannya masing-masing.

Sejak peradaban Arab Islam sebagai pusat peradaban dunia digeser oleh peradaban Eropa, terjadi semacam kebingungan bagi penganut Islam dalam memposisikan agama di hadapan perkembangan peradaban Eropa. Muncullah berbagai tipologi beragama dalam Islam sebagai sikap untuk memposisikan agama Islam di hadapan kenyataan-kenyataan faktual yang bersumber dari peradaban baru. Tipologi ini disebut oleh Jasser Auda sebagai kecendrungan-kecendrungan; meliputi kecendrungan tradisionalisme, modernisme, dan postmodernisme (Red: Jasser Auda).

Tipologi ini pada intinya hanya proporsi sikap keagamaan berkaitan dengan kecendrungan. Sikap itu berposisi antara kecendrungan pada teks sebagai al-Qadiim atau kecendrungan pada kenyataan-kenyataan faktual terkini sebagai al-Jadiid. Kecendrungan berlebih kepada teks menjadi tipe tradisionalisme, kecendrungan berlebih kepada kenyataan-kenyataan faktual menjadi tipe modernisme, sedang tipe postmodernisme muncul dengan bentuk berbeda-beda sebagai kritik terhadap tipe sebelumnya dan secara umum bersifat dekonstruktif.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Filsafat yang identik dengan peradaban Yunani, Fikih yang identik dengan peradaban Arab-Islam, Sains-Teknologi yang identik dengan peradaban Eropa dibahasakan dengan bahasa yang berbeda oleh Amin Abdullah dengan perdaban filsafat (Hadhaarah al Falsafah), peradaban teks (Hadhaarah an Nash), dan peradaban sain (Hadhaarah al ‘Ilmi) dalam usahanya mendekatkan Islam secara Intergratif-interkonektif (Red: Amin Abdullah). Dalam rancang bangun pola pendidikan Islam terkini, perdekatan integratif-interkonektif tepat kalau diterapkan dalam pendidikan Islam yang sedang berada di posisi dilematis antara kesetiaan kepada teks dan kebutuhan untuk melebur dalam kenyataan-kenyataan faktual yang tidak semuanya sejalan dengan pemahaman-pemahaman tipe tradisional dalam Islam.

Integratif-Interkonektif di ruang lingkup pendidikan Islam mencita-citakan tiga wilayah; filsafat, teks, dan sains mampu untuk terintegrasi dan terinterkoneksi. Penerapannya di dalam praktek pendidikan Islam, harus ada usaha untuk menghilangkan ego masing-masing disiplin ilmu, lalu berbagai disiplin ilmu itu diletakkan untuk saling bertegur sapa dan saling mengoreksi. Sehingga ada budaya yang berbeda dari rancang bangun pola-pola pendidikan Islam sebelumnya yang kaku dari interaksi antara satu disiplin dengan disiplin yang lain.

Disiplin Ilmu yang tergolong peradaban teks yaitu Fikih, Nahwu-Sharf, Kalam dan yang lainnya sebagai disiplin yang tumbuh dan berkembang pada era peradaban Arab-Islam. Disiplin yang tergolong peradaban sains yaitu fisika, kimia, biologi dan yang lainnya yang berkembang pesat pada peradaban Eropa. Semua disiplin dalam golongan peradaban teks maupun peradaban sains memiliki metode yang berbeda-beda pada rancang bangun epistemologinya, tetapi butuh untuk saling bertegur sapa dan saling mengoreksi. Epistemologi merupakan bagian dari filsafat, maka filsafat juga sangat menentukan sebagai unsur yang terdapat dalam setiap disiplin, dan sebagai unsur yang bisa mempertemukan antar disiplin.

Penerapan integrasi-interkoneksi, mengharuskan adanya penyusunan kurikulum dan mata pelajaran atau mata kuliah dalam institusi perguruan tinggi Islam. Setiap mata pelajaran atau mata kuliah diposisikan sebagai rumpun-rumpun ilmu yang bersedia berdialog, bekerja sama, memanfaatkan metode-pendekatan yang digunakan oleh rumpun yang lain untuk melengkapi kekurangan satu sama lain. Semua ini menuntut adanya pengorbanan terhadap egoisme sektoral dalam keilmuan (Red: Amin Abdullah).

Kesiapan meninggalkan dan mengorbankan egoisme sektoral keilmuan akhirnya memungkinkan adanya kejadian; fisika kosmos yang bersedia untuk dikoreksi oleh ilmu kalam. Ini akibat teori fisika kosmos yang mengalami kebuntuan tentang materi gelap, kekuatan misterius di alam semesta, rahasia pertikel terkecil penyusun materi, dan asal-usul alam semesta. Kejadian ini setelah adanya anggapan bahwa Atom (Proton, Elektron, Neutron) adalah materi terkecil penyusun materi-materi yang lain. Lalu ada hipotesa lanjutan bahwa ada materi yang lebih kecil lagi sebagai sebab pertama, awal dari rentetan sebab akibat susunan materi, asal usul alam semesta, tetapi belum berakhir dengan pembuktian. Kebuntuan ini sebab metode fisika yang menganut “Hukum Alam”, sehingga buntu dan terancam untuk dibongkar dan disusun ulang. Dalam hal inilah metode ilmu kalam, atau konsep atomisme al-Asy’ari yang menganut “Hukum Tuhan” menjadi penting sebagai pengkoreksi fisika (Red: Osman Bakar) untuk mencairkan kebuntuan itu.


*Alumnus MA Salafiyah Syafi’iyah Pesantren Tebuireng dan Fakultas Tarbiyah Unhasy, sekarang melanjutkan studi di Pascasarjana UIN Maliki Malang jurusan Pendidikan Bahasa Arab

SebelumnyaJelang UN, Siswa dan Guru SMA A. Wahid Hasyim Saling Minta Maaf
BerikutnyaSarasehan Pra Konfercab NU, Soroti Pembentukan Jombang Kota Bersih dan Manusiawi