Oleh: Putri Aqilla Ramadhani*

Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi namanya telah terpateri di hati sanubari pejuang muslim yang memiliki jiwa patriotik dan heroik, terlanjur terpahat dalam sejarah perjuangan umat Islam karena telah manyapu bersih, menghancurleburkan tentara salib yang merupakan gabungan pilihan dari seluruh benua Eropa.

Konon, guna membangkitkan kembali ruh jihad atau semangat di kalangan Islam yang saat itu telah tidur nyenyak dan lupa akan tongkat estafet yang telah diwariskan oleh Nabi Muhammad, maka Shalahuddin lah yang mencetuskan ide dirayakannya kelahiran Nabi Muhammad. Melalui media peringatan itu dibeberkan sikap kesatria dan kepahlawanan pantang menyerah yang ditunjukan melalui sirah nabawiyah. Hingga kini peringatan itu menjadi tradisi dan membudaya di kalangan umat Islam.

Hendaklah diingat, bahwa perang salib adalah peperangan yang paling panjang dan dahsyat penuh kekejaman dan kebuasan dalam sejarah umat manusia, memakan korban ratusan ribu jiwa, topan kefanatikan membabi buta dari kristen Eropa menyerbu secara menggebu-gebu ke daerah Asia Barat yang Islam.

Seorang penulis Barat berkata, “Perang salib merupakan salah satu bagian sejarah yang paling gila dalam riwayat kemanusian. Umat Nasrani menyerbu kaum muslimin dalam ekpedisi bergelombang selama hampir  tiga ratus tahun, sehingga akhirnya berkat kegigihan umat Islam mereka mengalami kegagalan, berakibat kelelahan dan keputusasaan.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Seluruh Eropa sering kehabisan manusia, daya dan dana serta mengalami kebangkrutan sosial, bila bukan kehancuran total. Dunia Nasrani Barat saat itu memang dirangsang ke arah rasa fanatik agama yang membabi buta oleh Peter The Hermit dan para pengikutnya guna membebaskan tanah suci Palestina dari tangan kaum muslimin.

Gelombang serbuan tentara salib ketiga yang dipimpin oleh seorang Rahib Jerman, menurut pengarang Gibbon terdiri dari sampah masyarakat Eropa yang paling rendah dan paling dungu. Bercampur dengan kefanatikan dan kedunguan mereka itu izin diberikan guna melakukan perampokan, perizinan dan bermabuk-mabukan. Mereka melupakan konstantin dan Darussalam dalam kemeriahan pesta cara gila-gilaan dan perampokan, pengrusakan dan pembunuhan yang merupakan peninggalan jelek dan mereka atas setiap daerah yang melalui kata Marbaid Gelombang serbuan tentara salib keempat yang di ambil dari Eropa Barat, menurut keterangan Mill terdiri dari gerombolan yang nekat dan ganas.

Tentara salib pernah sukses namun hanya sementara dengan menguasai sebagian besar daerah Syria dan Palestina termasuk kota suci Yerussalem. Tetapi kemenangan mereka ini telah disusul dengan keganasan dan pembunuhn terhadap kaum Muslimin yang tak bersalah yang melebihi kekejaman Jengis Khan Hulagu Khan.

John Stuart Mill sejarah Inggris, mengakui pembunuhan-pembunuhan massal penduduk muslim ini pada waktu jatuhnya kota Antioch. Keseluruhan usia lanjut, ketidakberdayaan anak-anak dan kelemahan kaum wanita tidak dihiraukan sama sekali oleh tentara latin yang fanatik itu rumah kediaman tidak diakui sebagai tempat berlindung dan pandangan sebuah masjid merupakan pembangkit nafsu angkara untuk melakukan kekejaman.

Tentara Salib menghancurkan kota-kota Syria, membunuh penduduknya dengan tangan dingin dan membakar habis perbendaharaan kesenian dan ilmu pengetahuan yang sangat berharga termasuk “Kutub Khanah” (Perpustakaan ). “Jalan raya penuh aliran darah, sehingga keganasan itu kehabisan tenaga,” kata stuart Mill. Mereka yang cantik rupawan disisihkan untuk pasaran budak belian di Antioch, tetapi yang tua dan yang lemah di kurbankan di atas panggung pembunuhan.

Lewat pertengahan abad ke-12 Masehi ketika tentara salib mencapai puncak kemenanganya dan Kaisar Jerman, Prancis serta Richard Lionheart Raja Inggris telah turun ke medan pertempuran untuk turut merebut tanah suci Baitul Maqdis, gabungan tentara salib ini di sambut oleh Sultan Shalahuddin Al Ayyubi (biasa disebut Salahudin) seorang Panglima Besar Muslim yang menghalau kembali gelombang serbuan umat Nasrani yang datang dengan maksud menguasai tanah suci.

Siapakah Shalahuddin? Bagaimana latar belakang kehidupannya? Shalahuddin dilahirkan pada tahun 1137 M. Pendidikan pertama diterimanya dari ayahnya sendiri yang namanya cukup tersohor yakni Najamuddin Al-Ayyubi. Di samping itu pamannya yang terkenal gagah berani juga memberi andil yang tidak kecil dalam membentuk kepribadian Shalahuddin, yakni Asaduddin Sherkoh. Kedua-duanya adalah pembantu dekat raja Syria Nuruddin Mahmud.

Pada tanggal 8 Januari 1169 M. Sherkoh sampai di kairo dan di angkat oleh Khalifah Fathimiyah sebagai menteri dan panglima angkatan perang Mesir. Tetapi sayang, Sherkoh tidak ditakdirkan untuk lama menikmati hasil perjuangannya. Dua bulan setelah pengangkatannya itu, dia berpulang ke rahmatullah.

Sepeninggalnya Sherkoh keponakannya Shalahuddin Al-Ayyubi diangkat jadi Perdana Menteri Mesir. Tak seberapa lama ia telah disenangi oleh rakyat Mesir karena sifat-sifatnya yang pemurah dan adil bijaksana itu. Pada saat Khalifah berpulang ke rahmatullah, Shalahuddin telah menjadi penguasa yang sesungguhnya di Mesir.

Sultah Shalahuddin mengakhiri sisa-sisa hidupnya dengan kegiatan-kegiatan kesejahteraan masyarakat dengan membangun rumah sakit,sekolah-sekolah,perguruan tinggi, serta masjid-masjid di seluruh daerah yang di perintahnya. Tetapi sayang, dia tidaklah ditakdirkan untuk lama merasakan nikmat perdamaian.

Beberapa bulan kemudian dia pulang ke rahmatullah pada tanggal 4 maret tahun 1193. “Hari itu merupakan hari musibah besar, yang belum pernah dirasakan oleh dunia Islam dari kaum muslimin, semenjak mereka kehilangan Khulafa Ar-Rasyidin.” Demikian tulis seorang penulis Islam. Kalangan istana seluruh daerah kerajaan bahkan seluruh dunia Islam tenggelam dalam lautan duka nestapa. Seluruh isi kota mengikuti usungan jenazahnya ke kuburan dengan penuh kesedihan dan tantangan.

Demikianlah berakhirnya kehidupan Sultah Shalahuddin seoarang raja yang sangat dalam prikemanusiaannya dan tak ada tolok bandingnya, jiwa kepahlawanan yang dimilikinya dalam sejarah kemanusiaanya. Dalam pribadianyanya, Allah telah melimpahkan hati seorang muslim yang penuh kasih sayang terhadap kemanusiaan dicampur dengan sangat harmonis dengan keperkasaan seorang genius dalam medan pertempuran.

Sumber: Mengenal 30 pribadi Pendekar dan Pemikir Islam dari masa ke masa (Imam Munawir)

*Mahasiswa Unhasy Tebuireng Jombang.

SebelumnyaMemahami Adanya Ilmu Laduni
BerikutnyaKisah Sarah, Motivasi Muslimah Masa Kini