Pengurus Penjamin Mutu Ali Subhan menjelaskan tentang sejarah pendidikan di Pesantren Tebuireng kepada rombongan tamu dari EIF

tebuireng.online– Pada Kamis (26/01/2017) siang hari, Pesantren Tebuireng mendapat kunjungan dari salah satu perguruan tinggi swasta di Provinsi Banten, El-Fhatin Institue Tangerang (EFITA). Rombongan yang datang bertepatan dengan adanya Festifal Da’i tesebut disambut oleh pihak Pesantren Tebuireng di meeting room Lt. 2 Gedung KH. M. Yusuf Hasyim.

Pimpinan Pesantren Tebuireng yang ikut menyambut di antarnaya ada Kepala Pondok Ust. Iskandar, Mudir Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng KH. Nur Hannan, Lc., M.Hi., Ust. Sholihuddin dan Ali Subhan selaku perwakilan dari pihak Penjamin Mutu Pesantren Tebuireng. Ikut dalam rombongan tersebut beberapa dosen dan 30 mahasiswa yang terdiri dari jurusan PAI, PAUD, PGSD. Kegiatan tersebut dimulai pada pukul 14.30 WIB dan dibuka oleh Ust. Iskandar selaku pembawa acara.

“Kami sangat berterima kasih terhadap sambutan yang sangat hangat ini, kami sangat bersyukur bisa hadir di Pondok Tebuireng. Pada kali ini, kami asalnya sudah mengadakan PPL yang sedang dilaksanakan selama 3 bulan, tetapi karena kebijakan dari pihak universitas maka kami mengganti menjadi PPLK (Program Pelatihan Lapangan Kependidikan),” jelas Bu Lilis salah satu dosen EFITA. Ia berharap semoga dengan adanya acara ini bisa menjadi modal atau motivasi bagi mahasiswa untuk mengajar, karena mahasiswa yang ikut dalam kunjungan ini semuanya sudah mengajar.

KH Nur Hannan menyampaikan prihal unit-unit pendidikan yang dinaungi oleh Pesantren Tebuireng. beliau menjelaskan bahwa pendidkan di Tebuireng memang memadukan antara formal dan agama. Lebih-lebihnya beliau menjelaskan bahwa di Tebuireng terdapat 2 unit pendidikan yang masih menjaga kelestarian kitab turats (kitab kuning), yakni Ma’had Aly Hasyim Asy’ari dan Madrasah Mu’allimin Hasyim Asy’ari.

“Di Ma’had Aly sistem pengajaran kami bentuk sendiri, dengan tenaga pengajar yang sangat berkompeten dan mampu berbahasa Arab, serta seluruh mahasantri mampu berbahasa Arab dan membaca kitab kuning yang sudah dibuktikan pada ujian tes masuk. Apalagi dari 23 tenaga pengajar  yang ada 16 di antaranya pernah lulus studi di timur tengah seperti, Universitas Al-Azhar Kairo, Universitas Ummul Quro’, Universitas King Ibnu Saud,” jelas beliau.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Ust. Sholihuddin juga memaparkan bahwa di Tebuireng memiliki banyak waktu yang dapat digunakan untuk tholabul ilmi. “Santri selalu mendapatkan pelajaran tambahan yang belum didapatkan di sekolah antara lain pengajian Al Quran dan Takhassus (Kitab Kuning). Untuk pengajian Al Quran dimulai dari setelah sholat shubuh sampai pukul 05.40 WIB, sedangkan pengajian Takhassus dimulai dari setelah shalat Maghrib sampai 19.30 WIB,” tukas dosen di STAIN Kediri tersebut. Beliau juga menjelaskan bahwa seluruh infrastuktur di Tebuireng juga telah difasiiltasi dengan sangat baik hingga menjadi Pondok Pesantren yang memiliki fasilitas sangat memadai.

Dilanjutkan dengan sambutan oleh Ust. Ali Subhan yang menjelaskan bahwa sejarah pendidikan di Pesantren Tebuireng. Beliau menjelaskan, madrasah dinniyah memang sudah ada sejak zaman Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, sedangkan pendidikan formal mulai diadakan pada kepengasuhan di bawah naungan KH. A. Wahid Hasyim dengan adanya Madrasah Alim Ulama’ yang sekarang menjadi MTs, MA, SMP, SMA, dan SDIT. “Apalagi saat kepengasuhan K.H Ir. Shalahuddin Wahid banyak sekali yang dibenahi karena beliau adalah lulusan insinyur dari Institut Teknologi Bandung atau biasa disapa ITB,” katanya.

Dari pemaparan yang sudah dijelaskan oleh pihak Tebuireng, mahasiswa EFITA mendengarkan dengan antusias. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya mahasiswa yang menanyakan perihal sistem pendidikan, sejarah, dan visi misi Tebuireng. Pertemuan ditutup pada pukul 16.26 WIB dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh Ust. Sholihuddin, lalu dilanjutkan pemberian cinderamata oleh masing-masing pihak Tebuireng dan EFITA.


Pewarta:    M. Tajuddin

Editor:       Abror

Publisher:  M. Abror Rosyidin

SebelumnyaGenealogi Aswaja NU
BerikutnyaCeramah di SMA A. Wahid Hasyim, KH. Latief Badjuri: Tiga Hal untuk Gapai Surga