MANAQIB SANG PENJAGA TURATS

Banyak sekali yang inbox agar saya menulis biografi Sang Penjaga Turats, Yai Ka’. Saya jawab, posting yang saya share sebenarnya dalam niatan mewujudkan itu. Walau pagi pagi disadari, subyektifitas berkadar tinggi karena catatan ini mendasar pada file memori yang melekat di kepala, memungut dan merajut serpihan kisah dari sana sini. Saya berharap, dalam waktu tak terlalu lama ada santri Yai Ka’ yang menulis lebih utuh dan lengkap lagi perihal sosok Yai Ka’. Terlalu berharga, bila jejak keteladanan belau tidak diangkat dan diabadikan. Santri yang datang belakangan harus tahu dan membaca profil sang penjaga turats, hafidz al-turats, yang tidak cuma alim, wara’, zuhud, namun “eksotik”.

Manaqib Yai Ka’ bakal bersanding dengan biografi, hadhratusy syekh Hasyim Asy’ari, kiai Wahab Hasbullah, kiai Bisri Syansuri, kiai Choliq Hasyim, kiai Wahid Hasyim, kiai Ilyas, kiai Masykur, Kiai Idris Kamali, Kiai Adlan Ali dan menyusul yang lainnya. Rasanya, menulis biografi kiai merupakan bagian dari kewajiban santri, sekurang-kurangnya “fardhu kifayah”.

Saya yakin begitu banyak yang merasa perih menyaksikan kiai kiai hebat dan besar jasanya, begitu butuh informasi lebih jauh, sangat terbatas dikumen yang menyertai. Sebutlah, syekh Cholil Bangkalan. Menyedihkan, sangat langka informasi tertulis mengenai kiai yang melahirkan ulama ulama besar di Nusantara. Ada, seperti yang ditulis Muhammad Rifai, “KH M Cholil Bangkalan : Biografi Singkat 1820-1923”. Secara akademik, jauh dari memadai, apalagi hendak disebut lengkap dan sempurna. Bahkan, aroma mitologis-nya sangat menyengat.

Menarik menoleh narasi kiai Musthofa Bisri atau Gus Mus ketika sowan ke penulis kenamaan Timur Tengah yang berkebangsaan Indonesia, syekh Abu Fadl Muhammad Yasin ibn Muhammad Isa al-Fadhani al-Makki. Ternyata, syekh Yasin mengeluhkan kualitas ulama Indonesia tak banyak dikenal di pentas Dunia Islam lantaran sepi dari yang memperkenalkan mereka. Syekh Yasin sendiri waktu berencana menulis Tabaqat al-‘Ulama al-Indonesiyyin tentang took- tokoh ulama Indonesia. Apa yang terjadi, menurut syekh Yasin, betapa sulitnya memperoleh bahan bahan untuk menuliskan tokoh tokoh kiai tersebut. “Lho coba saja”, keluh syekh Yasin, “anak anak mereka sendiri dimintai bahan tentang orang tuanya sendiri, nggak kunjung mengirinkannya !”. Semoga, sekolah menulis di pesantren Tebuireng, turut memiliki andil menjawab problem ini.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

(Catatan:  H. Cholidy Ibhar santri Tebuireng angkatan 1970-1980. Kini menjadi Dosen di IAINU dan Direktur Local Govermen Reseach dan Consulting, tinggal di Kebumen Jawa Tengah)

 

SebelumnyaObituari Bersama KH. Ishaq Latif (77)
BerikutnyaTanamkan Jiwa Kepemimpinan Melalui Latihan Kepemimpinan