OHAN CRUYFF ALA TEBUIRENG

Beda dengan kiai lainnya, Yai Ka’ tak cuma hobi nonton sepakbola namun sekaligus penyuka bermain sepakbola bersama santri santrinya. Selama 6 tahun pula saya bersama sama beliau seminggu dua kali bermain sepakbola di lapangan Jatirejo milik PG Tjoekir. Rupanya, keluarga Yai Ka’ adalah keluarga bola. Terbukti, adiknyapun, ustadz Shodiq, tak jarang turut bermain sepakbola bersama. Kendati ustadz Shodiq selalu berposisi sebagai lawan Yai Ka’. Seru, acapkali beliau “terpaksa” vis a vis terlibat perebutan bola dan teman teman-pun tersenyum dan membiarkan kakak-adik “duel”.

Biasanya, bila Yai Ka’ mengajak bermain sepakbola, di tengah tengah beliau mengajar diselipkan ajakan, “ojo lali, engkuk main”. Tepat, usai shalat ashar berjamaah “santri sepakbola Yai Ka'” berhamburan menuju lapangan sepakbola Jatirejo milik PG Tjoekir. Kedisiplinan Yai Ka’ juga tercermin dalam hal kehadiran di lapangan, beliau mesti datang lebih cepat dari “santri sepak bolanya”.

Tak lupa warming up sebelum bermain, saat itu usia Yai Ka’ sudah memasuki kepala tiga. Tentu, beliau yang memiki cita rasa fashionable dalam hal berpakaian, terlihat dalam warna kaos, celana pendek dan sepatu yang dikenakannya. Sayang koleksi foto Yai Ka’ saat di lapangan hijau tersimpan di album almarhum adik saya, Syafi’ Abdurrahman Lc (meninggal sepulang menyelesaikan studinya di al-Jami’ah al-Islamiyah bi al-Madinah, Universitas Islam Madinah).

Adik saya, bersama ustadz Marsam, merupakan defender kesayangan Yai Ka’. Saya sering menyandingkan foto beliau dengan midfilder legend Belanda yang sempurna menderejeni total football tahun 1970-an dan selagus arsitek tikitaka El Barca, Johan Cruyff. Tentu, bukan dalam kepiawaiannya mengolah si kulit bundar, melainkan adanya guratan di wajah yang mempunyai kemiripin dengan face beliau. Yai Ka’-pun menyukai posisi midfielder. Masya Allah, masih terasa segar momeri ini mengingat teriakan teriakan Ya Ka’ meminta bola dan mengomando konsolidasi pertahanan saat datang gempuran pihak lawan. Meski sekedar berlatih, “golek keringet” dan menyalurkan hobi, tampak beliau berseri seri dan meluapkan rasa gembiranya ketika bisa memenangkan pertandingan. Sungguh, betapa human dan egaliternya jenengan, Yai.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

SebelumnyaObituari Bersama KH. Ishaq Latif (10)
BerikutnyaObituari Bersama KH. Ishaq Latif (12)