Musibah Yang Hakiki

2174

Oleh: A.  Mubarok Yasin*

Makna Musibah

Musibah berasal dari Bahasa Arab, yaitu ashaba, yushibu, mushibatan yang berarti “sesuatu yang menimpa atau mengenai”, baik berupa kesenangan maupun kesusahan. 

Sesuatu yang menimpa itu tidak selalu buruk. Ada juga yang baik. Namun di Indonesia, kata musibah konotasinya selalu buruk. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) terbitan Balai Pustaka, musibah diartikan: (1). peristiwa menyedihkan yang menimpa; (2). malapetaka; bencana.

Hakikat Musibah

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Selama ini banyak orang menganggap bahwa kekayaan dan kesehatan adalah tanda cinta Allah kepada manusia. Itu adalah kekeliruan yang amat besar. Allah mengecam orang-orang yang apabila diberi nikmat oleh Allah, lantas berkata, “Saya dicintai oleh Tuhan”. Ketika Allah mengujinya dengan mempersempit rizkinya, dia berkata, “Tuhan membenci saya, Tuhan menghina saya.”

Jadi, kesenangan pun pada hakikatnya adalah musibah. Kesenangan akan dipertanggung jawabkan di akhirat kelak. Begitu pula setiap karunia yang kita dapatkan, seperti wajah rupawan, jabatan tinggi, ilmu yang banyak, bakat yang luar biasa, otak yang jenius, popularitas, dan lain sebagainya. Semua itu adalah musibah (ujian) yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

Dulu di zaman Nabi, banyak sahabat gugur di medan perang, Nabi pun pernah terluka. Bahkan beliau pernah kelaparan bersama para Shahabat akibat embargo yang dilakukan oleh Kafir Quraisy. Apakah Allah Swt membenci Nabi? Tidak. Allah pasti mencintai Nabi dan para sahabat yang gugur. Ketika banyak Sahabat gugur , turunlah ayat: “Jangan merasa rendah hati, jangan merasa terhina, jangan larut dalam kesedihan. Kamu adalah orang-orang yang mendapat kedudukan yang tinggi selama kamu beriman. ”Dalam surat Âli ‘Imrân, Allah berfirman, tujuan Allah turunkan cobaan ini adalah supaya mereka termasuk dari kalangan syuhada’.

Jadi, orang-orang yang mati terkena bencana bisa jadi justru telah disiapkan kedudukan yang tinggi di sisi Allah. Tujuan Allah menurunkan bencana adalah supaya Allah mengetahui siapa yang benar-benar beriman dan yang tidak. Karena itu jangan menggerutu, karena Allah memberikan yang sebaik-baiknya. Allah Swt. berfirman bahwa Dia juga akan membersihkan hati kamu dan dosa-dosa kamu.

Kita yang tida ditimpa musibah, bisa jadi justru dimurkai Allah. Kita diingatkan oleh Allah melalui musibah ditimpakan kepada saudara-saudara kita. Allah Swt berfirman : “ Dan tidakkah mereka memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, kemudian mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak mengambil pengajaran?” (QS. at-Taubah: 126).

Ketika Sayidina Ali bin Abi Thalib ditikam, beliau berteriak : “Demi Tuhan Ka’bah, saya telah mempe-roleh keberuntungan.” Sayidina Ali merasa berun-tung karena mati. Allah mengangkat derajat beliau. Allah mendudukkan pada kedu-dukan yang demikian tinggi karena mati syahid.

Satu lagi yang perlu diingat, bencana manusia adalah hilangnya iman dan takwa yang merupakan harta utama yang tidak lepas, meskipun harta dunia lepas. Dan janganlah Engkau (Ya Allah) memberi musibah kami pada agama kami. (HR. Tirmidzi 3424)

Musibah sebagai cinta

Dari sini dapat disimpulkan bahwa orang-orang yang tertimpa musibah sebenarnya merupakan orang-orang yang dicintai Allah Swt. Dalam sebuah Hadis Rasulullah bersabda “Ketika Allah mencintai suatu kaum, Dia pasti mengujinya” . (HR. Ahmad dan al-Thabrani).

Sekain itu, tujuan Diturunkannya musibah juga untuk meningkatkan derajat keimanan. Karena semakin tinggi iman seseorang, semakin tinggi pula ujiannya. Quran, hadis, dan sejarah, banyak kita temukan musibah yang menimpa para nabi dan orang-orang shaleh. Nabi Nuh misalnya, selama 950 tahun berdakwah hanya mendapatkan 12 orang dunia pengikut, kebanyakan umatnya kufur bahkan memperoloknya (QS. Ankabut ayat 14).

🤔  Guru, Tiang Moralitas Generasi Bangsa

Nabi Ibrahim dibakar Raja Namrudz (QS. Al-Anbiya`ayat 57-70), Nabi Ayub diuji dengan ludesnya harta dan kematian hampir seluruh anggota keluarganya, serta tubuhnya yang dijangkiti banyak penyakit (QS.Shad ayat 41), dan Rasulullah diejek, disakiti, diusir orang-orang kafir Makkah, bahkan hendak dibunuh.

Suatu hari, Rasulullah pernah ditanya oleh Shahabat Sa’ad bin Abu Waqqash tentang orang yang paling berat cobaannya, beliau menjawab, “Para nabi, kemudian orang-orang yang derajatnya dekat dengan para nabi”. (HR. al-Hakim dan al-Thabrani). Dalam hadis lain Rasulullah bersabda, “Tidaklah seorang muslim terkena duri, atau lebih dari itu, kecuali Allah mengangkat baginya satu derajat, dan menghapuskan darinya satu dosa”. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Selain itu, tujuan dari musibah atau bencana adalah karena Allah menghendaki kebaikan, entah itu berbentuk pemberian pahala atau penghapusan dosa bagi orang yang bersabar menjalani musibah Rasulullah juga bersabda, “Umatku adalah umat yang dirahmati; tidak ada atas mereka siksaan (abadi) di akhirat. Siksaan mereka di dunia berupa bencana, gempa, dan pembunuhan”. (HR. Abu Dawud).

Dalam hadis lain, Rasulullah bersabda, “Ketika Allah menghendaki kebaikan bagi hambanya, Dia mengujinya dengan bala (musibah). Dan ketika Allah menguji  hambaNya, Dia memberat kannya”. Saat  para sahabat bertanya maksud dari “memberatkannya”, Rasulullah bersabda, “Allah tidak meninggalkan baginya keluarga dan harta”. (HR. al-Thabrani)

Musibah sebagai Siksa

Namun, jika datangnya musibah disebabkan oleh banyaknya kemaksiatan dan kejahatan, dan tidak ada orang yang mencoba melakukan amar makruf nahi munkar, maka itu merupakan peringatan dan hukuman. Musibah tersebut tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim, tapi juga orang-orang yang baik. “Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang zalim saja di antara kalian. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya. ” (QS. al-Anfal ayat 25).

Dalam sebuah hadis, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya orang-orang yang melihat orang yang zhalim kemudian mereka tidak mengubahnya, maka hampir-hampir Allah meratakan mereka dengan siksaan dari-Nya”. (HR. Abu Dawud). Dalam hadis lain, “Demi Zat yang menguasai diriku, sungguh kamu harus menyuruh (berbuat) makruf dan mencegah kemunkaran, atau kamu akan dikirimi siksa oleh Allah, kemudian kamu berdoa kepada-Nya dan tidak dikabulkan” (HR. al-Tirmidzi).

Allah Swt berfirman: Dan apa saja yg menimpa kamu adalah di sebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). (QS. 42:30). Dalam ayat lain Allah Swt berfirman: T elah tampak kerusakan di darat dan di lautan, disebabkan ulah tangan-tangan manusia. ”

Dalam konteks ini, tujuan di turunkannya musibah adalah untuk menghapus dosa. Dalam sebuah hadis Rasulullah bersabda, “Tidak ada seorangpun dari kalian melanggar ketentuan (agama) kemudian disegerakan siksaannya (sebagai hukuman), kecuali siksa itu menjadi kafarah (penebus dosanya). Dan siapa yang siksanya diakhirkan (di akhirat), maka urusannya dikembalikan kepada Allah; Kalau Allah menghendaki, Dia akan merahmatinya dengan kesusahan (bencana) agar dosanya (mengampuni kesalahannya). Kalau Allah menghendaki, Dia akan menyiksanya”. (HR. Ibn Hibban).

Dalam sebuah hadis dari Aisyah, Rasulullah bersabda, “Ketika dosa seorang hamba sudah sedemikian banyak dan tidak ada sesuatupun yang dapat menghapusnya, maka Allah mengujinya dengan kesusahan (bencana) agar dosanya terhapuskan”. (HR. al-Bazzar).

Dari sini dapat ditarik benang merah: jika bencana di negeri kita masih terus terjadi, maka itu pertanda pesta kemaksiatan yang dilakukan orang Indonesia belum reda. Na’udzu biLlah


*Artikel ini dimuat di Majalah Tebuireng edisi 13 Januari – Februari 2011