Oleh: KH. Abdul Hakim Mahfudz*

اِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيّدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah…

Pertama-tama kita hantarkan puji syukur kepada Allah atas karunia sehat dan kelonggaran waktu. Sehingga kita bisa melaksanakan shalat Jumat siang hari ini.

Dari rasa syukur itu semoga kita bisa menambah tabah kita. Dengan melaksanakan apa yang diperintahNya dan menjauhi apa yang dilarangNya. 

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Saat ini kita sudah melewati pertengahan bulan Dzulqodah. Waktu yang sering kita gunakan untuk mengantar saudara, kerabat dan tetangga kita berangkat ibadah haji.

Namun, tahun ini kita tidak bisa melakukan hal itu. Juga saat Idul Fitri kita berkunjung ke rumah sanak famili, tapi tahun ini hal itu terhambat. sebab kondisi yang tidak memungkinkan. 

Dua bulan lebih kita berada pada situasi genting akibat penyebaran virus Corona. Kita pasti dibingungkan untuk menentukan kegiatan apa yang harus kita lakukan saat ini. 

Allah berfirman Surat Al-Hadid 22:

مَاۤ أَصَابَ مِن مُّصِیبَةࣲ فِی ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِیۤ أَنفُسِكُمۡ إِلَّا فِی كِتَـٰبࣲ مِّن قَبۡلِ أَن نَّبۡرَأَهَاۤۚ إِنَّ ذَ ⁠لِكَ عَلَى ٱللَّهِ یَسِیرࣱ

Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah.

Jamaah shalat Jumat…

Imam Ibnu Qayyum al-Jauzi menyebutkan, orang-orang beriman yang terkena musibah atau bencana mereka tidak lari darinya tidak berburuk sangka dan menghadapinya. Mereka menyadari bahwa kehidupan di dunia ini adalah ujian yang diberikan Allah SWT. Beragam jenis ujian yang ditimpakan kepada dirinya, keluarganya, dan kawan-kawannya. 

Berbicara tentang musibah sebagian orang beranggapan ketika tertimpa suatu musibah, itu artinya ia sedang dimurkai oleh Allah. Padahal Allah bermaksud agar kita mendekatkan diri kepadanya.

Dengan cara beristigfar, beribadah, dan mengakui kebesaran-Nya. Sebagaimana dalam Al Quran dalam Surat Al-Baqarah 155;

وَلَنَبۡلُوَنَّكُم بِشَیۡءࣲ مِّنَ ٱلۡخَوۡفِ وَٱلۡجُوعِ وَنَقۡصࣲ مِّنَ ٱلۡأَمۡوَالِ وَٱلۡأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَا⁠تِۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّـٰبِرِینَ

Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.

Ayat ini adalah pemberitahuan Allah kepada orang-orang beriman bahwa Dia akan menguji mereka dengan perkara-perkara nyata agar menjadi sabar. Oleh karena itu kita harus percaya bahwa apa yang dituliskan pasti terjadi. Dan apa yang tidak ditentukan maka tidak akan terjadi.

Dalam suatu riwayat dikatakan, 

مَا يَزَالُ البَلاَءُ بِالمُؤْمِنِ وَالمُؤْمِنَةِ فِي نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

Seorang mukmin dan mukminah akan terus ditimpa musibah pada dirinya, anaknya,  dan hartanya sampai ia bertemu Allah dalam keadaan hampa dosa.

Setiap manusia di dunia ini pasti ditimpa musibah. Supaya ia mengerti bahwa ketetapan Allah itu pasti. Dan sikap mereka dalam menyingkapinya juga bermacam-macam.

Pertama, tingkat lemah: seseorang tidak bisa menerima musibah yang dialami, serta diiringi rasa kesal dan tidak terima atas musibah itu.

Kedua, tingkat sabar: ia tidak senang musibah itu tapi ia tetap dapat menahan agar tidak melakukan hal-hal yang dibenci oleh Allah saat tertimpa musibah.

Ketiga, rida pada tingkatan ini seseorang menerima lapang dada dan penuh kerelaan. seakan akan ia tidak sedang tertimpa musibah apa pun.

Keempat, yakni selalu bersyukur atas apa yang menyenangkan dan tidak.

Marilah kita mohon kepada Allah agar kita diberi kekuatan untuk meneladani baginda Nabi Muhammad SAW.

وَالۡعَصۡرِ اِنَّ الۡاِنۡسَانَ لَفِىۡ خُسۡرٍۙ ِالَّا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوۡا بِالۡحَقِّ ۙ وَتَوَاصَوۡا بِالصَّبۡر بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

*Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang.

Pentranskip: Yuniar Indra 

SebelumnyaDunia Baru di Era Pandemi
BerikutnyaHari Asyura, Satu Hari Seperti Satu Tahun