Ilustrasi: meminta maaf dan memaafkan. (foto: rarazarary/to)

Oleh: Al Fahrizal*

Sebelum artikel ini saya tulis, saya haturkan permohonan maaf kepada seluruh pembaca yang budiman.

Satu kata yang hanya terdiri dari empat huruf dan dua suku kata, M-A-A-F. Sesingkat dan sependek itu pada tulisan, tetapi tidak dalam pengucapan dan penerapannya. Satu kata tersebut sangat berat untuk dilafalkan. Ada yang beralasan gengsi untuk menyampaikan permintaan maaf, atau karena maaf dianggap sebagai sinyal kelemahan dan kerentanan seseorang. Sehingga kata maaf dari pribadi yang bersalah itu sangat sulit untuk disampaikan kepada orang yang dimintai maaf.

Dalam menjalani aktivitas sehari-hari, “maaf” tidak hanya disampaikan ketika seseorang dinyatakan bersalah kepada orang lain. Akan tetapi, dalam etika paling sopan, maaf juga harus disampaikan ketika tindakannya berpotensi untuk salah dan menyakiti orang lain. Bukankah sering kita mendengar ungkapan permintaan maaf dari orang yang belum sama sekali melakukan apa-apa. Seperti halnya kata-kata berikut, “mohon maaf, bisakah saya melakukan …”. Dalam ilmu psikologi, salah satu seni untuk menyampaikan permintaan maaf adalah ketika telah menganalisis situasi dan merasa khawatir tentang apa yang terjadi.

Dalam buku Effective Apology, yang ditulis oleh John Kador menyebut permintaan maaf adalah perbuatan mengulurkan diri kita karena kita lebih mementingkan hubungan yang kita bina ketimbang kebutuhan untuk menjadi benar.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Maaf memang sangat penting dalam menjalin hubungan antar sesama manusia. Hal ini dikarenakan maaf merupakan sebuah bentuk penurunan ego dalam diri setiap insan. Tiap kepala mempunyai ego dan idealisme masing-masing. Kadangkala ideologi yang kita bangun tidak sejalan dengan orang lain, dan kita mencoba memaksa orang lain untuk berpandangan yang sama dengan kita, hingga orang yang menjadi korban dari sebuah keegoisan itu menjadi tersinggung atau -dalam skenario terburuk- tersakiti, maka saat itulah ungkapan “maaf” disampaikan dalam rangka menghargai setiap pendapat dan pandangan berbeda dari orang lain, serta sebagai bentuk penurunan ego dan penyucian diri dari berbagai bentuk sifat bengis yang dimiliki manusia.

Mengutip tulisan Dr. H. Fuad Nashori seorang dosen Psikologi Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya UII, “Mengajukan permintaan maaf juga bukan perkara mudah. Sebagian besar orang melihat masalah yang dihadapi dengan sudut pandangnya sendiri. Kalaupun orang merasa bersalah atas berlangsungnya suatu kezaliman, mereka umumnya berpikir bahwa orang lain yang lebih salah. Para koruptor saja lebih senang menyalahkan orang lain dari pada diri sendiri. Padahal kesadaran bahwa “saya yang bersalah”, saya ikut bersalah, atau saya memiliki andil kesalahan yang lebih besar, sangat penting untuk membuat seseorang dapat meminta maaf.”[1]

Memang dalam Al-Qur’an nyaris tidak ditemukan ayat yang membicarakan tentang perintah untuk meminta maaf. Al-Qur’an memang kebanyakan membahas tentang mental tangguh seorang hamba yang suka memberi maaf. Hal ini sangat logis sekali. Jika kita tarik ke dalam suatu skenario, ketika ada seseorang yang datang memukul kita, kemudian orang yang memukul itu menyadari bahwa dirinya salah seketika mengajukan permintaan maaf. Barangkali si korban akan marah dan tidak terima, lanjut dengan pukulan balasan. Maka Al-Qur’an sendiri menganjurkan kepada sesama manusia untuk senantiasa berlapang dada dan ringan hati dalam memberikan maaf.

Menumbuhkan jiwa-jiwa “pemaaf” bukanlah perkara yang mudah. Karena itu sifat yang sulit dan berat untuk dilakukan. Maka, Al-Qur’an memberikan banyak stimulus agar manusia dapat dengan ringan untuk memberikan maaf kepada orang lain.

Salah satunya adalah kutipan ayat berikut:

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَاَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِيْنَ

“Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh”. (QS Al-‘Araf: 199)

فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِّيْثَاقَهُمْ لَعَنّٰهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوْبَهُمْ قٰسِيَةً ۚ يُحَرِّفُوْنَ الْكَلِمَ عَنْ مَّوَاضِعِهٖۙ وَنَسُوْا حَظًّا مِّمَّا ذُكِّرُوْا بِهٖۚ وَلَا تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلٰى خَاۤىِٕنَةٍ مِّنْهُمْ اِلَّا قَلِيْلًا مِّنْهُمْ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ ۗاِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ

(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, maka Kami melaknat mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka mengubah firman (Allah) dari tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian pesan yang telah diperingatkan kepada mereka. Engkau (Muhammad) senantiasa akan melihat pengkhianatan dari mereka kecuali sekelompok kecil di antara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (Al-Maidah: 13)

قُلْ لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا يَغْفِرُوْا لِلَّذِيْنَ لَا يَرْجُوْنَ اَيَّامَ اللّٰهِ لِيَجْزِيَ قَوْمًا ۢبِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

Katakanlah (Muhammad) kepada orang-orang yang beriman hendaklah mereka memaafkan orang-orang yang tidak takut akan hari-hari Allah karena Dia akan membalas suatu kaum sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan. (QS Al-Jatsiyah: 14)

Dan masih banyak lagi ayat atau pun hadis yang berbicara mengenai prilaku memaafkan.

Ketika Orang Berbuat Jahat kepada Kita

Agama memang membenarkan beberapa cara yang dapat ditempuh ketika ada orang berbuat salah kepada kita. Menurut Prof. Dr. Quraish Shihab, ada tiga tingkatan sikap ketika orang berbuat jahat kepada kita.

Pertama, membalas. Tentu agama membenarkan adanya pembalasan bagi orang yang telah melakukan kesalahan kepada kita dengan catatan pembalasan yang setimpal atau sama, sebagaimana yang telah dilakukan orang lain kepada kita. Ini dalam bahasa agamanya adalah Qishosh. Dalam Islam qishosh dibenarkan sesuai ketentuan yang tertera dalam bab-bab fiqh. Namun, meski pembalasan itu dibenarkan dalam agama prilaku membalas ini bukanlah sikap yang terpuji. Karena ini menjadi tingkatan terendah dalam pandangan agama dan ada tingkatan yang lebih baik dari pada pembalasan.

Kedua, menangguhkan. Maksudnya menangguhkan dalam rangka menunggu orang yang berbuat salah tersebut untuk meminta maaf kepada kita, atau menangguhkan untuk menunggu waktu yang tepat melakukan pembalasan.

Ketiga, adalah memaafkan dalam arti yang sebenarnya yakni menghapus luka-luka dihati. Memaafkan sekaligus melupakan kesalahan orang yang berbuat jahat kepada kita.

Tingkatan yang paling tinggi dan yang paling sulit adalah berbuat baik kepada orang yang melakukan kejahatan kepada kita. Al Quran menjanjikan kepada siapa saja yang berhasil melakukan tingkatan ini bahwa, orang yang tadinya adalah musuh, karena prilaku terpuji kita, musuh tersebut akan menjadi teman atau sahabat terdekatnya.

Demikian luar biasanya sikap mengajukan permohonan maaf atau memaafkan. Sebagai seorang insan, kita senantiasa berlaku yang terbaik. Namun, kadangkala kita luput, apa yang kita perbuat ini belum tentu baik di mata orang lain. Maka, segera dan secepatnya kita sampaikan maaf kepada yang bersangkutan.

Demikian sebaliknya, saat orang lain yang berada di sekitar kita, barangkali khilaf ketika berbuat salah, maka sepantasnya kita membalasnya dengan perbuatan baik. Jika tidak sanggup, cukup dengan memberi maaf kepada mereka. Jangan sampai kita menjadi orang yang keras hati. Semoga Allah senantiasa membimbing kita menjadi hamba yang senantiasa berlaku baik. Aamiin.

*Mahasantri Mahad Aly Hasyim Asy’ari.

[1] https://fpscs.uii.ac.id/blog/2021/06/21/mengapa-sulit-memberi-dan-meminta-maaf/

SebelumnyaKisah Kesuksesan Nyai Solichah dalam Mendidik Anak
BerikutnyaBedah Disertasi, UAS Sebut Metodologi Penyebaran Hadis KH. Hasyim Asy’ari