Berqurban, menyembelih sifat kehewanan diri manusia (ilustrasi: M. Najib)

Oleh: Rif’atuz Zuhro*

Momen Idul Adha, sesungguhnya tidak hanya sebagai ajang formalitas untuk menyembelih hewan qurban, namun banyak sekali hikmah-hikmah yang dapat diambil dari Ibadah yang disyari’atkan pertama kali oleh Nabi Ibrahim as, lalu disempurnakan oleh Nabi Muhammad SAW ini. Selain pesan ketauhidan juga terdapat pesan kemanusiaan yang sangat tinggi. Pesan ketauhidan ialah seperti menarik sejarah Ibadah Qurban itu sendiri bahwasanya Nabi Ibrahim as diperintahkan oleh Allah SWT untuk menyembelih Nabi Ismail as melalui mimpinya. Sebagai seorang ayah, Nabi Ibrahim lebih tunduk dan patuh terhadap perintah Allah, ia “tawadhu” terhadap perintah yang ia terima.

Meski banyak godaan dari setan yang hendak mengurungkan niatnya. Kenyataannya Allah mengganti Nabi Ismail yang hendak disembelih dengan seekor domba, sungguh Allah menguji ketawadukan dan keimanan Nabi Ibrahim yang lebih mencintai Allah dari pada segala isi dunia. Begitu juga dengan Nabi Ismail yang ikhlas dan mendukung ayahnya untuk menjalankan perintah Allah, dan tidak ada keraguan sedikitpun dalam hatinya dalam menjalankan perintah tersebut.

Sampai sekarang syari’at tersebut terus dilakukan, berdasarkan hadis Nabi. Driwayatkan dari ‘Aisyah dan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam Apabila hendak menyembelih kurban, Beliau membeli dua ekor kambing kibasy yang besar dan gemuk, bertanduk, berwarna putih dan terputus pelirnya. Beliau menyembelih seekor untuk umatnya yang bertauhid dan membenarkan risalah, kemudian menyembelih seekor lagi untuk diri Beliau dan untuk keluarga Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam”. [Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya, 3.113; Ahmad, 24.660 dan 24.699].

Dalam hadis tersebut Nabi Muhammad tidak hanya menqurbankan untuk dirinya dan keluarganya, namun juga umatnya yang bertauhid dan membenarkan risalahnya. Dalam Ibadah Qurban ketauhidan dan kemanusiaan adalah dua hal yang sangat penting, selain untuk melanggengkan ketaqwaan kepada Allah SWT, melainkan berqurban juga untuk memperbaiki sifat dan sikap manusia kepada sesama manusia agar saling bertenggang rasa dan tidak congkak dalam berjalan di muka bumi.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Selain itu merupakan pesan untuk tidak cinta dunia. Tidak cinta dunia bukan berarti anti dunia dan menutup diri dari segala hegemoni dunia. Namun, tidak cinta dunia adalah tidak menjadikan dunia sebagai orientasi hidup yang kekal dan kukuh menjadikan akhirat sebagai orientasi hidup yang sesungguhnya. Sehingga ketika ia hidup di dunia ia akan memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk beramal saleh sebagai bekal hidup di akhirat.

Selanjutnya pesan kemanusiaan yang tidak hanya sekedar untuk meninfaqkan sebagian harta kepada sesama manusia yang membutuhkan, atau konsep kesejajaran sosial yang digaungkan saat Idul Adha, yang miskin bisa makan enak seperti yang kaya. Namun, pesan lainnya, yaitu menyembelih sifat kehewanan dari pada manusia itu sendiri. Kita ketahui bahwa manusia adalah makhluk yang diciptakan Allah dengan mempunyai akal, hawa nafsu, insting, perasaan. Sedangkan, yang membedakan manusia dengan hewan adalah terletak pada akalnya. Dan persamaannya adalah sama-sama mempunyai nafsu seperti hewan.

Dalam Ibadah Qurban kali inilah, sebetulnya terdapat pesan bahwa Allah memerintahkan manusia selain tawadhu dan tunduk, juga benar-benar mempunyai niat untuk membersihkan diri dari sifat kehewanan yang melekat pada manusia dengan menyembelihnya. Nafsu tidak hanya identik dengan “sexual”, tetapi lebih kepada usaha untuk mengendalikan emosi perasaan agar menjadi hamba yang bersih hatinya, bersih jiwanya. Seperti bersih dari penyakit hati, yakni iri, dengki, sombong, pamrih, dan mementingkan dirinya sendiri.

Dalam Ibadah ini, adalah bukan ajang pamrih telah berqurban berapa banyak sapi atau kambing, namun bagaimana kita memaknai dan memahami hakikat Ibadah tersebut. Jangan sampai terjebak pada niat yang salah dan tidak mengurangi, bahkan menghilangkan, pahala dari Ibadah tersebut.

Seperti ibadah-ibadah yang lain, ketika telah melakukan Ibadah Qurban seharusnya ada perubahan sifat atau sikap dari orang yang telah melakukan ibadah tersebut. Seperti yang sudah dijelaskan di awal tadi. Dalam sifat dan sikapnya ia akan menjadi pribadi yang lebih baik lagi, bisa menjaga diri, memposisikan diri dan tidak mendewakan dirinya sendiri dalam hal apapun. Sebab sifat kehewanannya telah disembelih dan dibuang dari dirinya, sehingga setelah berqurban ia akan mencerminkan sikap muslim yang lebih baik lagi.

Kerendahan hati manusia akan mengantarkan dirinya pada ketenangan hati, dan tetapnya iman. Sebab, penyakit hati seperti sifat kehewanan hal itulah yang akan secara perlahan menggerogoti amal baik apabila terus dipelihara dan tidak disembelih.


*Tim Redaksi Tebuireng Online

SebelumnyaTradisi Saat Idul Adha, Santri Tebuireng  “Nyatai” Massal
BerikutnyaKepada Kader Tebuireng, Prof. Imam Suprayogo Uraikan Nilai Toleransi