Judul: Memahami Surah Yasin (dengan metode Tafsirul-Qur’an bil-Qur’an)
Penulis: Dr. Izza Rohman
Tebal: 272 Halaman
Penerbit: PT Qaf Media  Kreativa
Cetakan: Pertama, Mei 2019
ISBN: 978-602-5547-53-9                
Peresensi: M. Rizal*

Telah diketahui bahwa Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam. Di dalamnya terkandung petunjuk-petunjuk bagi mereka. Bahkan lebih luas lagi, Al-Qur’an menjadi petunjuk bagi seluruh umat manusia. Al-Qur’an tidak hanya diturunkan untuk satu umat saja dan untuk satu abad saja melainkan untuk seluruh umat dan untuk sepanjang masa di segenap tempat, karena ajaran-ajarannya mengandung hal-hal yang universal dan konpendium (kesimpulan yang padat).

Al-Qur’an diturunkan tidak lain sebagai undang-undang dan jalan yang harus ditempuh oleh setiap muslim dalam menjalani kehidupan. Al-Qur’an juga berfungsi sebagai penjelas bagi setiap sesuatu, petunjuk bagi setiap sesuatu, dan rahmat bagi setiap orang yang beriman. Al-Qur’an terdiri dari beberapa ayat dan surah. Mengenai  ayat  Al-Qur’an  masih ada perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai jumlah ayat Al-Qur’an, sedangkan surah Al-Qur’an semua ulama sepakat kalau jumlah surah Al-Qur’an sebanyak 114 surah.

Dari sekian banyaknya surah-surah Al-Qur’an tersebut ada satu surah yang paling sering dibaca oleh umat Islam khususnya di Indonesia. Tentunya sesudah surah Al-Fatihah. Ada yang membacanya ketika ada seseorang akan meninggal. Bahkan, ada yang biasa membacanya untuk mengisi waktu saat menunggu atau saat dalam perjalanan. Surah ini tidak lain adalah surah Yasin.

Surah Yasin merupakan salah satu surah dari surah-surah Al-Qur’an yang banyak memiliki keistimewaan daripada surah yang lain. Yasin disebut juga sebagai hati atau jantung Al-Qur’an sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW “Sesungguhnya setiap sesuatu mempunyai hati (inti pokok) dan hatinya Al-Qur’an adalah surah Yasin. Banyak orang yang sudah tahu bahwa Yasin merupakan hati Al-Qur’an sehingga dari mereka ada yang menghafalnya atau membacanya setiap hari.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Diantara keistimewaan surah Yasin adalah apabila surah ini dibaca di waktu pagi maka Allah akan memberikan rasa aman kepada orang yang membacanya sampai waktu sore, juga apabila dibaca untuk orang yang sudah meninggal maka siksa kubur akan diringankan dan masih banyak keistimewaan-keistimewaan yang lain.

Banyaknya keistimewaan ini tentu perlu diimbangi dengan kemauan untuk mempelajari dan mengerti akan makna dan pesan yang dikandungnya. Pasalnya, Al-Qur’an tidak hanya untuk dibunyikan, namun juga harus dipahami dan dikaji makna dan pesannya. Bahkan tidak cukup sampai di situ. Pesannya pun harus diamalkan. Belajar Al-Qur’an itu bukan saja agar maknanya dimengerti, tetapi juga agar pesannya mewujud dalam kehidupan nyata sehari-hari (hlm.7).

Dari kutipan di atas sudah jelas bahwa memahami dan mengamalkan isi Al-Qur’an merupakan kewajiban setiap muslim yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Memahami Al-Qur’an tidak cukup secara tekstual tapi juga harus secara kontekstual atau dengan kata lain menggunakan perantara tafsir, yang mana fungsi tafsir adalah menjelaskan atau menerangkan Al-Qur’an. Tanpa bantuan tafsir, Al-Qur’an hanya akan berupa teks-teks bisu. Lewat tafsirlah teks berbicara. Tapi tidak semua tafsir itu layak digunakan untuk membedah pesan dan makna yang dikandung teks.

Kita perlu penafsiran dari orang yang kredibel dan kapabel untuk menafsirkan Al-Qur’an seperti Rasulullah karena beliaulah yang menerima Al-Qur’an tentu lebih tau terhadap kandungan  Al-Qur’an. Menafsirkan Al-Qur’an sudah dilakukan pertama kali oleh Nabi Muhammad SAW, kepada para sahabat yang bertanya kepada beliau tentang satu ayat yang belum mereka pahami. Lalu Nabi memberi penjelasan kepada ayat yang tidak mereka pahami dengan ayat Al-Qur’an yang lain yang masih berhubungan baik dari segi maknanya, temanya, gaya bahasanya, atau konteksnya. Metode ini disebut dengan Tafsirul-Qur’an bil-Qur’an.

Tafsirul-Qur’an bil-Qur’an banyak didukung dan diterapkan dengan beberapa alasan. Pertama, tidak ada yang lebih mengetahui tentang makna firman Allah selain Allah sendiri. Kedua, Al-Qur’an berisi penjelasan (tibyan) untuk segala sesuatu, sehingga Al-Qur’an pun tentu juga menjelaskan dirinya.

Ketiga, tafsirul-Qur’an bil-Qur’an dicontohkan oleh Rasulullah, sahabat dan tabiin. Keempat, Al-Qur’an tidak jarang menyinggung suatu tema tidak hanya di satu tempat, namun ada juga di ayat dan surah yang lain. Kelima, metode ini dapat mengimbangi bias atau subjektivitas penafsir.(hlm.12).

Dalam buku yang berjudul “Memahami Surah Yasin Dengan Metode Tafsirul-Qur’an bil-Qur’an” ini, Dr. Izza Rohman mengajak kita untuk memahami makna dan pesan ayat-ayat yang ada dalam surah Yasin dengan menerapkan metode tafsirul-Qur’an bil-Qur’an, yakni menafsirkan Al-Qur’an dengan Al-Qur’an sendiri.

Metode ini dipandang banyak ulama’ sebagai cara atau langkah terbaik dalam menafsirkan Al-Qur’an. Di buku yang ada di tangan pembaca ini, surah Yasin ditafsirkan dengan metode tafsirul-Qur’an bil-Qur’an untuk memperkaya wawasan kita tentang makna dan pesan ayat-ayat yang ada didalamnya (hlm.12).

Alur yang ada di dalam buku ini berjalan secara estafet, mulai dari ayat pertama sampai ayat terakhir dijelaskan dengan ayat lain dari surah yang berbeda yang memiliki kemiripan redaksi dan hubungan makna. Tidak hanya itu, dalam buku ini ayat demi ayat dijelaskan secara rinci yang mana penulis merujuk kepada beberapa kitab tafsir untuk mendukung penjelasan ayat demi ayat.

Buku ini sangat cocok untuk dibaca bagi setiap orang Islam yang sangat ingin memahami hati Al-Qur’an melalui Al-Qur’an itu sendiri. Karena untuk mengamalkan isi Al-Qur’an terlebih dahulu harus tahu apa yang ingin disampaikan dan dikehendaki Al-Qur’an.

Terkadang ayat  Al-Qur’an itu bersifat mujmal yang memerlukan penjelasan baik dari Al-Qur’an itu sendiri atau Hadist Nabi. Nah, di dalam buku ini akan memberikan pengetahuan dan wawasan bagaimana cara kita menafsirkan Al-Qur’an dengan Al-Qur’an.

Dari sekian banyaknya kelebihan, tentu buku ini juga memiliki kekurangan, salah satunya adalah tidak adanya catatan kaki (footnote) untuk penjelasan yang disadur dari sumber yang didapatkan.

Buku ini akan lebih baik jika penjelasan-penjelasan ayat yang dikutip dari kitab-kitab lain diberi catatan kaki yang memuat nama kitab tersebut beserta halamannya agar ketika para pembaca ingin melihat sumber aslinya dapat dengan mudah menemukannya. Meskipun terdapat sedikit kekurangan, namun tetap tidak mengurangi kelebihan-kelebihan buku ini sebagaimana telah disebutkan sebelummya. Karena kekurangan yang sedikit tidak ada bandingannya dengan kelebihan yang banyak. Selamat Membaca ! Wallahu a’lam bissawab.

*Mahasiswa INSTIKA Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir yang berdomisili di Halaqah Kitabiyah PP.Annuqayah Lubangsa Selatan.

SebelumnyaDoa Bepergian Agar Senantiasa Dilindungi Allah
BerikutnyaIni Aktualisasi Peran Aswaja