Identitas Buku :

Judul buku: Perempuan Bukan Sumber Fitnah

Pengarang: Faqihuddin Abdul Kodir

Penerbit: Afkaruna.id

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Tanggal Terbit: Cetakan ke-1, Agustus 2021

ISBN: 978-623-93728-8-0

Tebal halaman: xxviii + 240 halaman

Lebar dan panjang: 14 cm x 20.5 cm

Peresensi: Anisa Faiqotul Jannah*


Berabad-abad lamanya perempuan mendapatkan stigma sebagai sumber fitnah. Hal ini lahir karena adanya prasangka yang didasari oleh konstruksi sosial. Diakui atau tidak, pandangan serupa itu juga lahir karena adanya hadis-hadis yang -jika diapahami secara literal- tidak memihak perempuan.

Bagaimana seharusnya kita memperlakukan teks-teks agama yang selama ini disalahpahami sebagai dasar pembenaran terhadap prasangka dan perilaku tidak adil kepada perempuan? Apakah ada kemungkinan untuk memberikan makna atau tafsir yang lebih ramah terhadap perempuan?

Melalui metode mubadalah, Faqihuddin Abdul Kodir menawarkan pembacaan teks yang menempatkan laki-laki dan perempuan sebagai hamba Allah. Dan subjek utama dalam teks-teks keagamaan. Makna teks harus selaras dengan visi rahmah li al-alamin dan akhlak mulia yang dibawa oleh Islam, sehingga menghadirkan pemahaman yang ramah terhadap laki-laki dan perempuan.

Lewat buku “Perempuan Bukan Sumber Fitnah”, penulis mencoba memberikan gagasan tentang metodologi mengaji ulang teks hadits yang sering disalah fahami yaitu metode mubadalah. Pada bab awal buku ini mengulas istilah mubadalah, bagaimana perspektif mubadalah dalam relasi gender, kerja-kerja mubadalah, serta metode mubadalah dalam memaknai teks hadits.

Pada bab kedua buku ini mengupas tentang hadits-hadits tentang jati diri perempuan yang selama ini disalah pahami seperti istilah separuh akal dan agama, perempuan tercipta dari tulang rusuk yang bengkok, perempuan dinyatakan sebagai sumber kesialan, penduduk neraka terbanyak, akikah perempuan separuh laki-laki, perempuan haid dilarang masuk masjid, serta khitan perempuan.

Bab ketiga membahas tentang hadits basis partisipasi perempuan di ruang publik yang disalahpahami. Dan pada bab terakhir membahas hadits tentang relasi pasangan suami istri yang disalahpahami. Buku karya Pak Kyai Faqihudin Abdul Kodir ini yang sekaligus merupakan penggagas mubadalah.id meskipun terkesan bacaan berat, namun tak membuat nafsu baca emak-emak macam diri penulis kendor. Dan dahagaku akan bacaan bertemakan perempuan pun akhirnya terpenuhi.

Buku ini benar-benar mencerahkan pandangan tentang eksistensi diri perempuan yang selama ini masih buram. Pikiran yang sempit kini terasa longgar. Tak bisa dipungkiri stigma tentang perempuan sebagai pembawa fitnah terkadang dilontarkan oleh tokoh-tokoh agama yang menafsiri teks masih belum seutuhnya. Tak jarang sebagian menafsiri sesuai dengan kepentingan sekelompok golongan yang tentu saja merugikan kaum perempuan.

Membaca buku ini benar-benar telah memberikan banyak pelajaran berharga. Kegelisahan kaum perempuan atas eksistensi dirinya terjawab di buku ini. Banyak hal menarik yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Beberapa insight yang kudapatkan setelah membaca buku ini di antaranya :

Islam telah memberikan teladan nyata dari kalangan perempuan baik yang aktif di ruang publik maupun domestik. Khadijah r.a, Aisyah r.a, Asma bint Abu Bakar r.a, Sayyidah Nafisah, Nusaibah bint Ka’ab r.a, Ummu Salamah r.a, dan lainnya. Artinya sejak 15 abad silam ruang publik bukanlah milik kaum laki-laki semata, ruang publik sama-sama bisa diakses oleh laki-laki maupun perempuan dengan tujuan kemaslahatan. Jika pun perempuan tidak diizinkan aktif di ruang publik bukan semata-mata karna dia berjenis kelamin perempuan.

Perempuan sudah sepatutnya mendapat perlakuan yang adil, baik di lingkup keluarga, agama, bangsa, dan negara. Mengingat realita yang hingga kini masih saja ditemukan perempuan yang diperlakukan tidak adil, suaranya tidak didengar, keputusannya dianggap tidak penting baik dilingkup keluarga, agama, bangsa dan negara.

Di mata Tuhan (Allah) perempuan dan laki-laki adalah sama derajatnya, yakni sama-sama seorang hamba. Sehingga tidak sepatutnya salah satu di antara mereka saling mendominasi. Allah tidak melihat rupa dan bentuk hambaNya, tetapi Allah melihat pada hati hambaNya.


*Mahasiswa Universitas Hasyim Asy’ari

SebelumnyaGagasan Menarik, ‘Perang’ dalam Perspektif al-Ghazali
BerikutnyaMemahami Ilmu Tasawuf dan Tokoh Sufi Dunia