Sumber gambar: hiveminer.com

Oleh: Iryan Ramadani

Pantai selalu berhasil membawa ingatan tentang masa lalu. Seakan tempat itu membuat aku teringat semasa aku masih kecil. Entah mengapa, aku selalu merasakan rindu pada masa-masa yang sejatinya telah berlalu. Saat bermain pasir, pada udara yang sejuk, burung bangau yang berterbangan, ombak dengan kesiur angin, dan tak lupa juga tentang Kakek. Tentunya semua kenangan masa lalu ada pada pantai.

Andai saja di pantai itu mampu mengulang lagi hal kemarin, maka aku akan menikmatinya setiap detik dengan bermain air sepuasnya. Lalu pada sore harinya, aku dan Kakek mebakar ikan bersama sebagai santapan makan sore hari. Semua ada di sana, rumah kakek yang baru saja pindah. Aku belum tahu dengan pasti, mengapa kakek memilih tempat yang berdekatan dengan pantai. Pikir kanakku berpikir mungkin karena kakek memiliki hobi memancing.

Semua kenangan tentang pantai selalu menyita ingatanku, dan jelas selalu aku rindukan. Aku memang tidak sedang berada di pantai itu untuk mengobati rinduku, tapi sebagai gantinya, Dayat yang merupakan teman se Kamar Wismaku yang kebetulan sama-sama berasal dari Sumatera, mengajakku ke pantai yang tidak jauh dari pondok pesantren yang sedang kami tempati. Jelas, aku bahagia.

Bicara soal pondok pesantren, kadang bisa membuat aku rindu akan apapun yang pernah terjadi di masa lalu. Terkadang masakan Ibu yang setiap pagi sudah siap saji di depan meja makan, Ayah dengan nasihat yang sangat inspiratif, Adik dengan wajah gemasnya yang selalu membuat aku ingin mencubitnya hingga puas. Ya, ingatanku mungkin sangat kuat. Hanya mereka yang terkadang bisa mengisi hari-hari yang kurasa tak bermakna ini. Tapi sayang, saat ini hanya pada hari Jumat, kami bisa keluar pondok untuk mampu melakukan aktivitas itu.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Kalau tidak salah, hari ini sudah mulai masuk musim panas. Liburan semester akan segera diumumkan esok hari. Rasa tak sabar sudah tidak bisa tertahankan lagi, bahkan bisa dibilang kondisi teman-teman di dalam wisma kamarku sudah menyiapkan beberapa agenda kegiatan selama liburan musim panas dalam buku hariannya. Tak terbayangkan dalam kepalaku, bagaimana suasana keramaian pondok, karena beberapa orangtua mereka sudah menunggu kehadiran wajah-wajah putra mereka.

Tepat malam Rabu, merupakan malam persiapan beberapa santri yang berasal sekitar Kota Semarang akan pulang ke rumahnya masing-masing dari Pondok Al-Ikhlas. Sebagian dari mereka telah mengosongkan dan membersihkan barang-barang yang ada di kamar wisma, tentu merupakan hal yang harus dilakukan sebelum hendak meninggalkan pondok, keadaan kamar menjadi tak sepi seperti malam hari biasanya. Tak jarang mereka berkomentar, “Tak ada waktu untuk bersantai pada malam ini,” mendengar ocehan mereka, aku malah berpikir harusnya mereka sudah mempersiapkan semunya dari kemarin.  Hanya saja, mereka terlalu bersantai. Bisa aku bayangkan pada malam ini seperti apa keadaan kamar, hanya aku yang tak melakukan kegiatan apa-apa, duduk di atas ranjang tempat tidurku dan menyaksikan perisapan teman-temanku.

“Nico, kok tidak siap-siap untuk besok? Kamar harus sudah bersih pada esok hari, kamu tidak lupakan? tanya Rahmat yang menatapku dari bawah ranjang, sepertinya pertanyaan itu sesuai yang sedang kupikirkan saat ini.

“Hemm… memang sih pertanyaanmu benar, hanya saja, Dayat dan aku sudah ada janji untuk ke pantai esok pukul delapan pagi. Mungkin kami akan membereskannya pagi hari,” sahutku yang masih terlihat bersantai di ranjang ini.

“Oh, tapi jangan sampai lupa dengan janjimu, soalnya keamanan akan mengecek setiap kamar yang ada di setiap wisma,” ujar Rahmat meyakinkan.

###

Aku menunggu di serambi lantai masjid bawah, aku tak mengecewakan Dayat karena waktu di perjalanan lumayan lama.

“Kamu sudah menunggu lama?” dalam sekejap, Dayat sudah ada di belakangku. Entah bagaimana caranya Ia sduah ada di belakang.

“Ehh…. kok kamu bisa ada di belakang?” tanyaku.

“Iya dong, ada deh. Sekarang jam berapa? Ehm.. jangan lupa kalau ada yang ketinggalan, karena kita di sana 2 hari sekaligus berkemah,” lanjut Dayat. Aku mengangguk penuh percaya diri. Kami lekas berangkat karena tak ingin tertinggal.

Pagi yang cerah, seakan tahu bagaimana cuaca yang sedang kupikirkan. Tak selang beberapa lama, ternyata kami menemukan tumpangan mobil Elf, mungkin mobil ini tak sebarapa mahal jika dilihat dari tarif yang tertera. Tapi inilah yang kami ambil dari semua itu, perjalanan ke pantai menemukan hal yang menakjubkan.

Sesampainya di sana, aku segera berlari ke pantai. Tiba-tiba aku merasakan ada sesuatu yang aneh dengan perasaan ini, entah mengapa ada sesuatu yang membuat diriku lebih tenang dan merasa bebas. Selang itu, di kejauhan sana aku melihat anak laki-laki menyendiri di sebuah jembatan tepi pantai. Ia terlihat merenung, dalam hatiku, aku ingin bertanya dan menghampirinya.

“Eh… Nic, Kamu lihat nggak anak laki-laki yang memakai baju merah di jembatan itu? Kita samperin aja yuk?” sontak Dayat sambil menunjuk anak tersebut. Aku dan Dayat menghampiri anak laki-laki itu.

“Hai, apa yang sedang kamu lakukan di sini? kau punya temankah?” tanyaku sambil memegang pundaknya sekaligus duduk di sampingnya.

“Aku sedang merenungkan sesuatu, lalu siapa kalian?” tanya anak laki-laki tersebut dengan mengerutkan keningnya.

“Singkatnya, kami ke sini sedang berkeliling. Boleh berkenalan? Namaku Dayat, kalau kamu?” lelaki itu tampak mengulurkan tangan kanannya. Raut muka yang sebelumnya tampak diam, kini menjadi tersenyum sejenak.

“Namaku Rangga (sanmbil mengulurkan tangan kanannya kepada Dayat), Kalian berdua dari mana? Ehm… maksudku rumah kalian di mana?” tanyanya mulai akrab.

“Kami ini berasal dari pondok pesantren yang tak jauh dari sini, namanya Pondok Al-Ikhlas. Kau sendiri Rangga dari mana?” aku bertanya balik padanya.

Setelah sekian lama kami bercerita, ternyata Rangga adalah anak yatim piatu. Namun miris sekali ketika aku mendengar cerita kalau Rangga hanya tinggal berdua dengan Neneknya. Laki-laki berusia 15 tahun yang sama denganku itu, ternyata putus sekolah lantaran tak punya biaya. Di sela-sela cerita kami, matahari ternyata sudah berada tepat di tengah-tengah bayanganku, dan arloji Dayat sudah menunjukan pukul 12:00 siang. Setelah beberapa lama mengobrol, Rangga mengajak kami menyusuri Pantai Losari, pantai ini sungguh indah sekali. Seakan membuatku ingin berlama-lama di sini. Kami menghabiskan waktu sampai sore hari di pantai, tak terasa waktu sudah cepat. Mengobrol menjadi bahan utama yang harus kami lakukan karena itu sebuah kebiasaan. Kami mengobrol berbagai hal di sebuah bangku kayu dekat rimbunan pohon kelapa, dan hanya satu hal yang sangat sedih kudengar dari cerita Rangga yang sungguh menyedihkan terdengar di telinga.

“Terkadang manusia seperti buah dari tumbuhan belukar yang diterpa angin. Tapi,  burung pun tidak mau memakannya. Tidak manis, tidak pahit, tidak beracun, tapi juga tidak menyehatkan. Bisa dibilang benar-benar tidak berguna, buah yang hampa. Tidak ada yang mau memetiknya, jadi dia akan layu, membusuk, dan lenyap. Jadi tolong, jangan lupakkan diriku. Karena aku tak punya teman sekali pun. Dulu, aku mempunyai seorang teman. Namun Ia malah mengkhianatiku. Setiap masuk kelas, Ia selalu mengambil uang sakuku, begitu pun dengan ayahnya. Ayahnya merupakan pemilik tanah sekitar daerah ini, karena keterbatasan uang, Ia membakar rumahku karena keluargaku sudah melewati batas waktu pembayaran pajak. Tolong, jangan lupakan diriku,” raut muka Rangga seakan bisa membuat siapa saja yang mendengar ceritanya menjadi iba. Aku melihat Ia mulai meneteskan air mata.

Untuk mengenang semua itu, aku tak hanya mengobrol, aku menyempatkan berfoto dengannya, dan memberinya foto yang sudah siap jadi.

“Kalau Dayat dan Nico datang ke sini lagi, kalian bisa mencariku di rumah Nenek,” ucap Rangga dengan wajah penuh harap.

“Eh, tapi kami belum tahu rumah Nenekmu Rangga,” sahutku dengan harap Rangga bisa memberi penjelasan lebih detail.

“Kamu tahu di seberang jalan sebelah kiri ada rumah, nah, kamu cari ada rumah dengan cat biru. Itu adalah rumah Nenekku,” lanjut Rangga.

“Hari mulai semakin gelap Nico, sebaiknya kita secepatnya membuat tenda,” pinta Dayat.

“Baiklah, aku akan mengambil ransel,”

……………     ………………..

Dengan begitu singkat, hari mulai berganti malam dan kemudian berganti pagi lagi. Aku memutuskan untuk bersiap-siap berkemas karena sudah saatnya aku untuk pulang ke pondok, tak lupa untuk membereskan barang-barang agar tak tertinggal.

“Jangan lupa ada barang yang tertinggal, nanti nyariin lagi,” saran Dayat kepadaku.

“Iya, Insyaallah tak ada barang yang tertinggal,” jawabku. Jarum arloji Dayat menunjukan pukul delapan pagi, artinya kami harus segera pulang. Tak lupa sebelum pulang aku berpamitan dengan Rangga.

“Kapan-kapan datang kemari lagi ya,” ucap Rangga. Ia tampak senang pada pagi ini, entah apa yang membuat dia tersenyum.

“Iya, mungkin kami akan datang kemari lagi,” aku mencoba meyakinkannya.

Cuaca pagi ini cukup mendung sekali, sepertinya kami akan tiba di pondok dalam keadaan kehujanan. Kami pulang menggunakan mobil Elf yang sama seperti awal, namun di dalam mobil, aku melihat raut muka Dayat sepertinya memikirkan sesuatu.

“Apa yang sedang kau pikirkan Dayat?’’ tanyaku dengan nada pelan.

“Ehm… mungkin tidak ada apa-apa, ehm… maksudku anu, aku memikirkan apakah kita ketika sudah ada di pondok akan kehujanan,” Dayat mencoba menjawab dan membuat aku percaya bahwa dia tidak sedang kenapa-napa

“Oh, wajahmu membuatku khawatir, Ya sudah,” jawabku singkat.

Dua jam kemudian, akhirnya kami tiba di pondok. Keadaan Pondok pada saat ini terlihat sepi karena beberapa santri sudah kembali ke rumahnya masing-masing, mungkin lebih tepaatnya pulang kampong. Aku dan Dayat, serta beberapa ustdad dan santri yang terlihat belum pulang.

“Esok hari kita harus berangkat ke bandara, hari ini juga kita harus mempersiapkan barang bawaan kita,” Dayat mengingatkanku perihal mempersipkan kepulanganku besok pagi.

###

Satu bulan sudah berlalu, waktu liburan musim panas sudah mulai usai. Santri-santri yang berlibur sudah mulai terlihat ramai di pondok, walaupun sebenarnya aku dan Dayat sudah tiba satu hari sebelum masuk Sekolah.  Banyak sekali santri-santri yang mengobrol tentang apapun yang Ia alami ketika liburan, mulai dari kegiatan, tempat yang sudah dikunjungi, hal-hal aneh, dan kesempatan bisa bertemu dengan teman lama mereka. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, dan berganti bulan.

Kini Pondok pesantren dipadati oleh wajah-wajah baru, namun tidak luput dari itu. Ada satu hal yang membuatku berpikir serius pada malam ini, sebuah kata ungkapan yang selalu terngiang-ngiang dalam kepalaku, “Tolong, jangan lupakan aku”. Seakan kata-kata tersebut mengingatkanku pada seseorang yang sangat begitu berarti walau hanya sebentar bertemu. Sulit sekali bagiku untuk mengingat wajahnya dengan sempurna. Sesekali aku mencoba ingat, namun tak ada hasil.

“Eh, Yat, kamu ingat akan sesuatu tidak? Yang berkaitan dengan liburan ke pantai waktu itu?” tanyaku.

“Entahlah, aku juga tak ingat, apa sih yang sedang kau ingat sebetulnya?” jawab Dayat.

“…..manis, pahit, buah belukar…” ucapku mencoba mengeja apa yang mati-matian ingin aku ingat. Sebuah keajaiban ternyata datang padaku,

“Oh iya, Rangga!” seruku.

“Rangga? oh iya, esok hari kita langsung ke pantai. Kita temui dia,” Dayat pun kembali mengingat semua itu dengan utuh.

Esoknya kami pun mendatangi Pantai Losari, dengan menggunakan mobil yang sama. Hari sudah menunjukan pukul dua belas siang, akhirnya aku dan Dayat sudah sampai di dekat pantai tersebut. Setibanya kami di sana, hal pertama yang terlintas dalam otak kami adalah menemui Nenek Rangga.

“Kalau tidak salah, rumahnya ada di diseberang jalan sebelah kiri ada rumah dengan cat biru. Itu adalah rumahnya,” ingatku pada Dayat. Sekian lama aku mencari rumah tersebut, namun tidak nampak jelas keberadaannya. Setelah kutelusuri lebih lama, aku akhirnya mendapatkannya. Namun penghuni rumahnya bukan Nenek, melainkan seorang pria paruh baya yang sedang membersihkan motor tuanya di depan teras, aku pun langsung bertanya,

“Pak, kenal tidak anak yang namanya Rangga? Kami sedang mencarinya?” Kakek tersebut berhenti dari aktivitasnya lalu kemudian berdiri,

“Rangga? saya tak mengenalnya. Anda temannya?” Kakek itu kembali melempar tanya pada kami berdua.

“Iya,” kami singkat menjawabnya.

“Kalau tidak salah 1 bulan kemarin kami baru saja bertemu,” lanjutku.

Tak lama kemudian, kami berbicara cukup panjang di depan teras tersebut. Sampai kami baru menyadari bahwa Kakek tersebut sudah menempati rumah tersebut lebih dari 2 minggu  lamanya. Mataku tak bisa berkedip, mulut tak bisa berbicara, dan terpojok dalam cerita kenyataan  bahwa aku harus menerimanya dengan tegar. Rangga ternyata sudah pindah dari tempat ini, entah iya harus pindah rumah ke mana, aku pun tak tahu akan hal itu.

Sekarang, aku dan Dayat tepat berada di kursi kayu tepat seperti kemarin kami mengobrol dengan Rangga sebulan yang lalu.

“Aku baru menyadari sekarang Dayat, begitu berartinya seorang teman,” aku memberi pernyataan pada Dayat.

“Ya, benar sekali. Ini akan menjadi pelajaran yang paling bermakna seumur hidupku,” ujar Dayat dengan wajah begitu polos.

Kami sepakat untuk tetap mengenang dan mengingat Rangga hingga kapanpun. Tidak melupakannya, seperti apa yang pernah Ia minta pada kami waktu itu, “Tolong, jangan lupakan aku”. Meski kami tahu, kami tak bisa melakukan apapun untuk menemukannya, kecuali tetap berusaha mengingatnya dalam-dalam dan mengenang apapun yang pernah kami lakukan, meski hanya bisa dikenang dalam diam.


Penulis adalah Siswa SMP A Wahid Hasyim yang juga aktif di media tebuireng.online

SebelumnyaGus Zaki Hadzik: Kewajiban Pemerintah Buat Buku tentang Jihad
BerikutnyaCara Lain Mengenang Ayah