Mengapa ‘Rumah untuk Alie’ Layak Ditonton?

413
Ilustrasi dari film Rumah untuk Alie (sumber: wartakota)

17 April 2025 kemarin dunia perfilman tanah air, menyuguhkan sajian yang menguras air mata yang disutradarai oleh Herwin Novianto. Film “Rumah untuk Alie” hadir mengajak masyarakat sadar akan pentingnya empati, simpati pada korban perundungan. Film Rumah untuk Alie ini menceritakan kisah anak bungsu perempuan bernama Alie (Anantya Kirana) yang mendapat perlakuan kasar bahkan dibully dan dirundung oleh 4 kakak laki-laki dan ayah kandungnya. Kisah ini bermula saat ibu kandung Alie (Tika Bravani) meninggal karena kecelakaan mobil yang dialami saat akan pergi berbelanja dengan Alie dan kedua kakaknya.

Alie dituduh sebagai penyebab kematian ibu kandungnya, karena pada saat itu Alie sibuk membuat video dokumenter yang membuat ibunya hilang konsentrasi dan akhirnya tertabrak truk, selain ibunya yang meninggal, kakak tertua Alie, Bara (Dito Darmawan) juga mengalami cacat permanen. Setelah kecelakaan itu hidup Alie berasa di penjara yang gelap dan tanpa kasih sayang, dia harus berjuang sendiri untuk melanjutkan hidupnya.

Baca Juga: Menakar Pesan Moral Film La Tahzan

Sepanjang film keluarga Alie yang tersisa 4 kakak laki-laki, ayahnya, dan Alie setiap hari hanya meributkan hal yang sama, Alie selalu mejadi tertuduh dalam situasi apapun, tidak diberi makan, tidak dibarengi ke sekolah, bahkan saat hujan pun semua kakaknya tidak ada yang peduli. Di film ini Alie diceritakan masih baru duduk di bangku SMA dan kebetulan satu sekolahan dengan 2 kakaknya yakni Samuel (Andryan Bima), dan Natta (Faris Fadjar Munggara). Karakter Samuel di sini dibuat sangat sinis kepada Alie, sedangkan Natta masih sedikit memiliki hati, sehingga dibeberapa scene adakalanya dia berbuat selayaknya seorang kakak.

Tak berhenti di rumah, Alie ternyata mendapat perundungan di sekolah oleh kakak kelasnya yang suka kepada Natta, dan menganggap Alie sebagai saingan yang akan merebut Natta. Alie sering dibully bahkan saat makan di kantin, dan itu disaksikan langsung oleh kedua kakaknya, namun tidak ada yang mau menolong Alie dengan alesan malu untuk mengakui kalau Alie adalah adik mereka. Beberapa kali Alie di bully di sekolah hanya ada 2 teman Alie yang mendukung, puncaknya Alie difitnah oleh kakak kelasnya sampai Natta yang masih sedikit memiliki hati ikut menyalahkan Alie karena video yang tersebar di sekolahan dan membuat ayah Alie marah besar.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Setelah kejadian sekolah itu menimpa Alie, dia dikurung di gudang oleh ayahnya, sampai sang kakak Natta merasa iba dan membukakan pintu gudang untuk Alie, dan seusai kejadian itu Alie sangat merasa dirinya memang pantas untuk dibenci, dalam keadaan linglung dan wajah berantakan Alie masuk ke kamar dan membersihkan lukanya. suatu hari setelah ada perkara di rumah Alie, ayahnya marah besar sampai mengusir Alie dari rumah, kemana Alie? Ia pergi ke sebuah bengkel rongsok mobil yang biasanya ia lewati saat berangkat sekolah sendiri, malam-malam sendiri da tak disangka ada beberapa preman yang sedang mengawasi Alie dan berusaha untuk menggoda dia, disisi lain di rumah, para kakaknya sudah tau kebenaran tentang Alie yang tidak bersalah di sekolahan, lalu mereka bergegas mencari Alie dan menemukannya sedang di kejar-kejar preman.

Tak disangka, sang kakak Bara tertusuk saat menyelamatkan Alie,dan kemudian dibawa ke rumah sakit untuk perawatan lebih lanjut, kebetulan saat itu Bara juga butuh darah yang golongannya sama dengan Alie, Alie tak pikir panjang, ia mendonorkan darahnya untuk kakaknya, meskipun harus ada surat perjanjian dokter karna Alie masih di bawah umur. Ayahnya yang sudah tau keadaan Alie dengan berat hati menandatangani surat itu, dan menunggu operasi Bara, saat Natta ingin melihat Alie di ruang istirahatnya ternyata Alie sudah tidak ada, semua orang mencari Alie yang hilang entah kemana.

Baca Juga: Fenomena Larisnya Film Perselingkuhan di Indonesia

Tak lama kemudian ternyata di ujung jalan Alie sedang berjalan dan tertabrak oleh mobil yang membuatnya harus dilarikan ke rumah sakit, di sini time line nya agak kurang jelas, tiba-tiba sudah ada di makam yang bertuliskan nama Alie, dengan VO latar belakang curhatan Alie kepada ibunya yang ingin memiliki rumah sepi dan nyaman. Namun ending tak berhenti sampai situ, tiba-tiba di akhir disorotlah Alie tengah terbaring di rumah sakit entah terbangun dari koma atau apa?, penonton menebak-nebak apakah benar semua yang dialami Alie hanyalah mimpinya saat koma, atau ada plot twishnya di season 2? Gimana menurut kalian?

Film ini memang sagat banyak pelajaran yang bisa di ambil, meski tak menyajikan sanksi langsung untuk pelaku namun ending penyesalan diakhir bisa dibilang cukup epik, bahwa sejahat-jahatnya manusia pasti mereka masih punya hati kecil untuk bersimpatik. Film ini juga tak menyuguhkan tangisan yang lebay ala film tersakiti lainnya, melainkan tangisan sakit dari Alie yang tak bisa langsung plong, ia harus menahan kepedihan itu, menyimpan luka itu sendiri dan hanya bisa memeluk teman 1 bangkunya di sekolah.

Peran ibu di sini sebenarnya bisa disorot, karna meskipun scene ibu dan Alie sangat sedikit, namun saat flash back setiap obrolan ibunya dan  Alie selalu mengandung pesan moral yang hingga saat ini dipegang oleh Alie untuk bertahan hidup. tak dipungkiri lagi bahwa peran ibu dalam rumah tangga sangat amat penting untuk menjaga emosi setiap anggota rumah, contohnya di film ini, ayah Alie yang dulunya penyayang bisa berubah menjadi monster ganas untuk Alie anak kandungnya hanya karna kehilangan istrinya/ibunya Alie, kakak-kakak Alie yang dari kecil dirawat baby sisternya (ibunya Alie) juga saat besar menjadi temprament karna sedari kecil mereka tidak merasakan kehangatan ibu kandungnya karna harus bekerja dan meninggal di tempat kerja.

Baca Juga: Belajar Lewat Film Jumbo, Ada Pesan untuk Orang Tua

Film rumah untuk Alie mengajarkan penonton yang masih belum berumah tangga untuk selalu harus siap menghadapi ujian berkeluarga, jangan sampai lalai jika takdir itu sudah ditulis oleh tuhan dan kita sebagai manusia hanya bisa menerima dan mengambil hikmah disetiap kejadian, begitupun bagi penonton yang sudah berumah tangga, film ini cocok untuk ditonton karna bisa menjadikan pegangan untuk kesadaran diri masing-masing, bahwa setiap keluarga yang utuh belum tentu penghuninya punya rumah, pahami orang sekitarmu, dan jangan sampai hanya karna ego sesaat menghancurkan keluarga yang sudah dibangun bertahun-tahun.



Penulis: Albii
Editor: Rara Zarary