Menapak Bumi Menggapai Asa

Judul Buku      : Live Simply Give Love Make History

Penulis             : Ahmad Rifa’i Rif’an

Penerbit           : PT Elex Media Komputindo

Tahun terbit     : 2018

Halaman          : xix + 250 halaman

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

ISBN               : 978-602-04-1370-9

Harga P.Jawa  : Rp 62.800,-

Peresensi         : Lutfi Nur Fadhilah*

Setiap orang diciptakan dengan membawa kelebihan dan kekurangan masing-masing. Asal kejadiannya dari air mani yang tak berharga hingga dijadikan sesosok yang istimewa bernama manusia, tak lain untuk mengabdi pada Sang Pencipta.  Manusia dengan fitrah penciptaannya sebagai makhluk yang paling sempurna harus belajar menjadi diri yang sederhana dalam ucapan, namun istimewa dalam tindakan. Manusia yang sederhana dalam penampilan namun luar biasa dalam pengabdian.

Ahmad Rifa’i Rif’an, setelah menulis buku bestseller-nya “Tuhan, Maaf, Kami Sedang Sibuk”, ia kembali menghasilkan buah karya motivasi yang berjudul “Live Simply Give Love Make History”. Hidup hanya sekali, maka jadikan ia sebagai petualangan. Jangan sampai hanya mengisinya dengan aktivitas yang tak berkesan. Bekerjalah lebih keras, nikmati pilihan hidup yang kamu percaya bisa menghebatkan masa depan. Dekati sang Pencipta. Dapatkan cinta-Nya. Begitu sebuah nasehat yang ia berikan dalam prolog buku ini.

Ahmad Rifa’i Rif’an membagi buku ini menjadi empat bagian. Bagian satu ia menyuguhkan beragam kisah nyata yang dikemas dalam satu tema hard work. Bagian dua berisi kisah-kisah dengan tema have fun. Bagian tiga yaitu hard pray, lalu disusul tema make history. Ia mencoba menggiring kita bagaimana menjadi aktor dalam panggung sejarah dengan cerita happy ending.

Kisah pertama yang ia sajikan ialah kisah seorang pemuda asal Jeddah, kelahiran Amerika Serikat. Sejak lahir ia telah divonis oleh dokter bahwa ia hanya bisa bertahan hidup hingga delapan tahun. Ia lahir dalam keadaan cacat. Seluruh tubuhnya lumpuh, kecuali lidah dan mata. Namun siapa disangka, ia berhasil meraih nilai tertinggi pada akhir semester perkuliahannya di Universitas King Abdul Aziz, Arab Saudi.

Kisah pemuda itu mengajarkan arti sebuah ketangguhan. Benar adanya, karena pendaki yang sampai ke puncak hanyalah yang tangguh. Begitu pula pejuang yang sampai pada kesuksesan hanyalah yang sabar. Kita diberi pilihan, menjadi manusia yang mudah rapuh oleh tantangan, atau menghebat seiring dahsyatnya rintangan. Percayalah, badai selalu menyisakan pohon-pohon terkuat.

Pilih Jadi Pahlawan atau Pecundang

Dunia ini adalah ujian bagi manusia. Manusia akan dihadapkan pada tantangan-tantangan. Banyak omongan orang yang akan membuat diri merasa tak percaya diri. Namun, jangan biarkan pikiran ini dibombardir dengan keyakinan-keyakinan yang salah. Jangan sampai masa depan kita dihancurkan karena dalam diri tertanam keyakinan yang salah pula. Janganlah menjadi orang yang menutup diri dari pengetahuan dan pengalaman baru. Jadilah gelas yang selalu kosong, yang siap menampung mata air hikmah dari mana pun dia berasal.

🤔  Harmoni Indonesia dan Islam, Perpaduan Agama dan Negara

Saat masalah hidupmu sudah sedemikian hebat itu pertanda kemudahan sudah mendekat. Maka kawanku, saat masalah hidupmu sudah memuncak, kau boleh sedih, kau boleh menangis. Tapi ingat satu hal, bahwa kau tak boleh menyerah, karena sebentar lagi hidupmu akan berubah (hlm. 52).

Masalah hidup adalah filter yang membedakan manusia kuat dan lemah. Masalah sengaja dihadirkan oleh Tuhan untuk menyaring siapa yang patut jadi pahlawan dan siapa yang pecundang. “Hidup ini seperti sepeda. Untuk tetap seimbang kita harus bergerak,” Albert Einsten (hlm. 101).

Tanpa kita sadari Tuhan telah memberikan pelajaran melalui alam. Di pagi yang dingin, mentari hadir untuk menghangatkan. Antara rintik dan mentari, kita saksikan hadirnya pelangi yang indah. Di malam yang sepi, bulan dan bintang hadir untuk menenangkan. Terkadang alam juga memberi petir untuk mengingatkan. Guntur hadir untuk menyadarkan, bahkan angin ribut datang untuk membersihkan. Agar bumi tak lalai, langit tak hanya memberi ketenangan namun terkadang juga peringatan. Begitu pula dengan manusia. Manusia tidak benarkan untuk berputus asa.

Dalam buku ini Ahmad Rifa’i menuangkan nasehat mutiara kebaikan. Walaupun pada dasarnya kita sadar, saat menasehatkan kekuatan cinta, bersiaplah jika cinta itu akan diuji. Saat kita menasehatkan kesabaran hidup, bersiaplah hidup kita akan digempur masalah. Saat kita menasehatkan tentang penguatan iman, bersiaplah iman kita akan diterjang beragam goda. Namun, pengarang buku ini justru semakin suka dengan hal itu. Baginya, menasehatkan kebaikan kepada orang lain memaksa kita untuk mengamalkannya. Itulah cara Tuhan meningkatkan kualitas hidup kita.

Jadilah Berharga

“Live Simply, Give Love, Make History”, tak hanya sebagai bahan refleksi diri, tetapi juga menggugah dan menyemangati. Manusia bukanlah apa-apa dan bukan siapa-siapa. Semua yang ada pada diri kita hanyalah milik-Nya semata. Merasa diri lebih hebat dari orang lain hanya akan berakibat angkuh, sedangkan merasa diri tak seberuntung orang lain berakibat ngeluh. Hidup ini adalah sebuah proses seleksi. Jangan sampai hidup kita tak memberi arti apapun bagi sesama. Hidup itu harus hebat. Hidup sekali, berarti, lalu mati. Satu hal yang perlu digaris bawahi, segala sesuatu akan dimudahkan oleh-Nya untuk apa yang untuknya ia diciptakan.


*Alumni Ponpes Attanwir Bojonegoro, Santri Ponpes YPMI Alfirdaus Semarang