Seri Kiprah KH. Hasyim Asy’ari #10

Oleh: M. Abror Rosyidin*

Kiai Hasyim Asy’ari memang bukanlah kiai yang faktual di bidang kesufian. Bidang itu geser ke arah Cukir diampuh sang murid, KH. Adlan Aly. Bahkan dalam beberapa literatur beliau mengkritik praktik sufi yang berlebihan. Tapi bukan berarti beliau anti. Bagi beliau semua sah-sah saja, asal tidak menyalahi syariat agama. 

Sebagai kiai khas, beliau sangatlah kental dengan ibadah yang kuat. Shalat malam, puasa, dzikir, shalat sunnah, dan beramal saleh. Walau tidak secara khusus bertarekat sebagaimana sang murid Kiai Romli Tamim dan Kiai Adlan yang menjadi mursyid tarekat, Qodiriyah Naqsabandiyah. 

Ada beberapa karomah beliau yang pernah dipersaksikan. Namun, sebelum berlanjut, pembahasan ini hanyalah untuk selingan, agar kita semakin yakin, bahwa beliau memang adalah kiai dengan banyak keutamaan. Bukan melulu keilmuan, kehidupan spiritualnya juga kuat, bahkan bisa dikatakan pas, tidak berlebih dan tidak berkurang. 

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Beberapa waktu lalu, penulis bersilaturahmi ke kediaman KH. Abu Bakar, santri Hadratussyaikh yang masih hidup. Tinggal di Bandung Diwek Jombang.  Sebenanya dua kali penulis ke sana, namun karena ada kesempatan, lebih tepatnya ada yang mengajak, akhirnya ke sana lagi.

Ada juga beberapa santri lain yang memberikan kesaksian. Berikut beberapa karomah Kiai Hasyim yang sekiranya kami himpun:

1. Mengetahui isi hati orang

Mengetahui isi hati orang lain, bukanlah sembarang pencapaian. Tentu kebersihan hati dan ketuguhan spiritual yang dapat sampai pada kemampuan itu. Kiai Hasyim menurut kesaksian Kiai Abu Bakar dapat mengetahui isi hati orang lain, padahal saat itu tidak pernah diceritakan hal tersebut kepada beliau.

Misalnya, sebagai santri kalong yang tidak menginap di pondok alias, Kiai Abu Bakar pulang pergi pondok dan rumah.  Suatu saat beliau berangkat dari rumah ke pondok jalan kaki melewati prostitusi dekat pondok, yang juga merupakan bentukan pemerintah Hindia Belanda melalui Pabrik Gula Tjoekir.

Beliau tiba-tiba menggumam dalam hati, kok bisanya tempat seperti ini ada dekat sekali dengan pondok.  Beliau melihat adanya perempuan-perempuan di pinggir jalan menjajakan diri, menawarkan diri pada lelaki hidung belang yang mungkin kebetulan lewat dan mau mampir. Saat itu beliau juga ditawari, dalam bahasa beliau bercerita ditarik-tarik.

Beliau berpikir negatif “kok bisanya dekat pondok Tebuireng, ditempati wanita-wanita seperti ini”. Saat itu usia beliau masih muda, jelas pikiran muda sekali kemana-mana.  Sesampainya di pondok, beliau tetap kepikiran tentang hal itu.

Tiba-tiba, pukul 08.00 seusai mengaji, Kiai Hasyim mengumpulkan santri, Abu Bakar muda ada di antara kumpulan santri itu. Beliau dawuh banyak hal. Namun pamungkasnya, beliau mengatakan perkataan yang cukup mencengangkan dalam benak Abu Bakar remaja.

“ngene ya leh yo, jeding iku ono cerene, lek gak ono cerene gak nduwe jeding” artinya “Begini ya nak, kamar mandi itu ada kalinya (untuk pembuangan), kalau tidak ada tempat pembuangan, bagaimana bisa punya kamar mandi”. 

Mendengar dawuh begitu, Abu Bakar muda ini tersentak seperti didawuhi di depan umum oleh Kiai Hasyim, padahal santri lain tidak tahu bahwa itu menyindir santri kalong bernama Abu Bakar. Sejak saat itu, Kiai Abu Bakar tidak mau berprasangka buruk lagi, tentang pondok dan keadaan masyarakat sekitarnya. 

Pengalaman kedua, masih sama. Pembelajaran kelas, biasanya berakhir menjelang dhuhur. Santri Abu Bakar yang merupakan santri kalong biasanya pulang setelah shalat dhuhur. Terbersit pikirannya untuk tidak ikut shalat jamaah dan hendak langsung lari pulang.

Tiba-tiba dijawil oleh Kiai Hasyim, diminta untuk tidak pulang terlebih dahulu, diminta shalat jamaah di pondok dulu. “Jok moleh sek, jamaah dhuhur sek,” kata beliau, artinya, “Jangan pulang dulu, jamaah dhuhur dulu”. Akhirnya Abu Bakar tadi, tidak jadi pulang, ikut shalat berjamaah plus dengan wiridnya. 

2. Identifikasi Kebohongan Orang Lain

Cerita selanjutnya datang dari penuturan almarhum Kiai Tahmid, guru Nahwu zaman Kiai Hasyim. Kang Tahmid ini santri senior asal Brebes Jawa Tengah. Cerita ini dari Kiai Abdul Haq Brebes yang mendengar langsung dari KH. Tahmid Jagalempeni saat mengaji. 

Kiai Tahmid yang saat itu santri kepercayaan Kiai Hasyim menerima tamu, pernah ditimbali Kiai Hasyim untuk melayani tamu yang datang. Pamannya, Kang Bahruddin yang juga santri senior di Tebuireng, diminta oleh beliau untuk memanggilnya.

Lalu Kang Tahmid bergegas ke Ndalem Kiai Hasyim dekat masjid pondok. Kang Bahruddin mengingatkan agar Kang Tahmid shalat dulu. Namun, Kiai Tahmid malah menundanya, nanti saja katanya. 

Saat di Ndalem Kiai Hasyim bertanya pada Kang Tahmid, apakah sudah shalat apa belum. Kang Tahmid berbohong mengatakan sudah. Kiai Hasyim lalu sontak meminta Kang Tahmid shalat dulu dengan nada separuh membentak dari tempat duduk beliau.

“Tahmiiid…. sana shalat dulu!!”.  Tahmid kaget bukan kepalang ternyata gurunya tahu kalau ia belum sholat. Ia gemetar, tak kuasa untuk berubah dari posisi bersimpuhnya. Ia ingin bergerak tapi tak kuasa. Alot dan rasanya panas dingin. Keringat ‘brayoh’ mengucur begitu derasnya.

Kemudian, Kiai Hasyim menghampiri Tahmid sambil menepuk-nepuk pundaknya. “Sana shalat dulu… lain kali jangan gugup dan ‘bohong’. Biar tamu ini aku ladeni sendiri.” Dan Tahmïd pun merasa badannya kembali enteng.

Segera ia menuju ke bilik kamarnya. Tentu saja bukan kebetulan Kiai Hasyim menabak-nebak. Karena beliau memang dikenal bisa mengindentifikasi kebohongan, entah dari fisik maupun metafisik. 

3. Digoyang-goyang, Rumah Doyong (Miring) Bisa Tegak Lagi

Kebetulan kami pernah mewawancarai seorang santri beliau, santri kalong juga ternyata. Rumahnya di Cukir, rumahnya sangat kecil dan memperihatinkan. Bahkan kita ketemu saja, karena tidak sengaja mengurus dokumentasi bakti sosial perbaikan MCK dalam rangka 120 tahun Tebuireng.

Beliau namanya Ahmad Thaib, jauh dari kesan kiai atau ahli agama, dengan pakaian biasa. Beliau ini bercerita tentang salah satu karomah Kiai Hasyim.  Suatu saat si Thaib muda merenung di senggangnya waktu.

Tiba-tiba Kiai Hasyim datang dan bertanya, “Ada apa, Nak, kok melamun?,”. Ahmad Thaib menjawab, “Itu, rumah saya doyong (miring)”. Akhirnya Kiai Hasyim mengajak Ahmad Thaib melihat rumahnya yang miring itu.

Sesampainya di sana, Kiai Hasyim hanya menggoyang-goyang salah satu bagian rumah yang miring. Dilalah, rumah itu lurus kembali, alias berdiri tegak lagi.  Ahmad Thaib terkejut sambil senang.

Terkejut karena seperti ajaib sekali, rumah digoyang-goyang saja, yang asalnya miring menjadi lurus. Karena kalau dibenarkan tukang bisa memakan biaya mahal dan tentunya selesai dalam berhari-hari.

Di balik semua itu, ia merasa senang dan gembira, rumahnya bisa berdiri tegak lagi. Kata Mbah Ahmad Thaib begitulah cara beliau menyenangkan santri, kadang tidak terduga. 

4. Menyumbat Mesin Giling Pabrik Gula Tjoekir

Satu lagi kesaksian Kiai Abu Bakar tentang karomah Kiai Hasyim Asy’ari. Santri pernah dibuat heran berkeping-keping, takjub, plus ngeri. Dalam bahasa Kiai Abu Bakar, “Kok bisa ya”.

Di depan Tebuireng pada masa penjajahan Belanda, ada rel kereta yang biasa dilalui kereta komersil Jombang-Kediri, Jombang Surabaya dll. Namun terkadang juga bisa dilalui oleh lori yang mengangkut tebu-tebu untuk digiling di Pabrik Tjoekir. 

Suatu saat lori yang mengangkut tumpukan tebu siap giling, terguling. Tebu-tebu berhamburan. Santri yang mengetahui itu, berhamburan mengambil tebu itu. Lalu mandor Belanda datang dan memukuli mereka.

Berita itu sampai di telinga Kiai Hasyim dan beliau merasa geram dan kesal.  Kiai Hasyim mendatangi pabrik tersebut dan menuju mesin penggilingannya. Saat giling memang sangat sibuk sekali pabrik. Pabrik Tjoekir termasuk pabrik yang paling besar di Jawa Timur.

Entah bagaimana Kiai Hasyim mengeluarkan kunyahan susur atau inang dalam bahasa melayunya dari mulut beliau. Lalu disumpelkan atau dimasukkan mesin penggilingnya.  Wallaua’lam, mesin berhenti dan padam.

Kiai Hasyim membiarkannya sampai 3 hari. Pabrik tidak bisa beroprasi, tentu rugi. Tebu-tebu yang datang mengantri untuk digiling, menjadi kering. Dibenarkan oleh teknisi tidak kunjung bisa menyala. Akhirnya pihak pabrik sowan kepada Kiai Hasyim dan meminta maaf.

Sejak saat itu, Belanda membiarkan santri mengambil tebu gratis dan dibiarkan saja. Hal itu berlangsung sampai Pabrik diambil alih Jepang, lalu dinasionalisasi oleh pemerintahan Soekarno. 

Terlepas dari semua karomah di atas, beliau adalah manusia biasa. Bedanya, adalah tingkatan kedekatan dengan Allah saja yang berbeda dengan kita.

Beliau adalah ahli ilmu dan ibadah. Percaya atau tidak percaya hal-hal seperti disaksikan oleh saksi hidup. Semoga bermanfaat dan menambah perbendaharaan kisah inspiratif kita dari sosok Kiai Hasyim Asy’ari. 

*Sumber dari wawancara dengan Kiai Abu Bakar dan Mbah Ahmad Thaib.

SebelumnyaTabarruk dan Ziarah Kubur Ala NU
BerikutnyaKenapa Diharamkan Puasa pada Hari Tasyrik?