Membayar Pedih dengan Puisi

233
Sumber gambar: kabartangsel.com

Oleh: Ana Saktiani Mutia*

Aku mengupas harapan dibalik ketidaktahuan, meluruhkan angan dengan senyuman. Dan tiada yang mampu menepis rasa cinta dalam duka. Aku telah lama berjibaku dengan rindu dan untuk kesekian kalinya, aku kembali merindukan senyum harumu ibu. Perempuan sepertimu bukan lagi perempuan biasa. Ketangguhan, kegigihan, serta kesabaranmu dalam menuai kebaikan untuk putra-putrimu adalah hal yang tak mampu ditukar dengan rupiah.

Jika aku mampu membeli sebidang tanah, maka aku tidak akan mampu membeli rasa bencimu padaku. Rasa cintamu padaku terpatri dengan kuat dan dengan cintamu itu akan sulit kutemukan rasa benci dalam hatimu ibu. Kerinduan seorang anak pada sang ibu, mungkin akan terasa saat tiada lagi yang menegur. Namun, jika kerinduan yang ibu peruntukan untuk anakmu ini tidak hanya saat kepergian buah hati, melainkan juga pada setiap doa yang ibu panjatkan saat bersimpuh menadahkan tangan di hadapanNya.

Ibu…

kau adalah tangan kedua Tuhan yang mampu mengarahkan setiap langkah putra-putrimu. Jika hati, lisan, nan harapan yang kau inginkan untuk kebaikan putra putri, maka Tuhan akan senantiasa mengamini setiap ucapanmu dalam doa. Tiada waktu yang dapat menghentikan setiap doa dan harapan seorang ibu pada anak.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Ibu…

izinkan putra-putrimu ini memeluk setiap pedihmu, mengusap peluh saat kau lelah. Bila tangan ini tiada mampu tuk membuatmu bangkit dari keterpurukan, sudilah ibu tuk terus mendoakan buah hatimu ini dengan setulus hati.

Tiada kebahgiaan lain yang dapat tersampaikan, hanya senyummu lah yang ku dambakan. Senyuman atas apa yang ingin ku perjuangkan untukmu ibu.


*Penulis adalah Mahasiswa PBSI Unhasy dan Santri di Pesantren Walisongo Jombang.

🤔  Hari Itu, Ibu