Oleh: Faizal Amin*

Orang bilang, kiai dan keluarga sangat bahagia dengan penghormatan dan amal yang mereka lakukan. padahal mereka sangatlah tidak bahagia dengan tanggung jawab yang diemban dan gerak-gerik yang diperhatikan seakan-akan tidak boleh melakukan kesalahan.

Orang bilang, Zaid yang kaya sangat bahagia dengan berbagai materi yang ia punya. Padahal mereka juga tidak bahagia dengan keresahan, kerugian, kesibukan yang selalu menghantuinya.

Ketika melihat pelajar orang bilang ‘Mereka bahagia, bisa bergelut dengan ilmu tidak sibuk dengan urusan dunia’. Padahal mereka sangatlah tidak bahagia dengan ketidak merdekaannya karena peraturan yang dibuat sekolah/pondok atau sistem yang diterapkan negara.

Orang bilang, naqis yang miskin sangat bahagia karena hisab mereka kelak di hari kiamat sangat ringan dan cepat, mereka selalu bahagia walaupun dengan hal-hal kecil. Padahal hidup mereka serba kekurangan dan kesengsaraan. Lalu sebenarnya apa itu kebahagiaan?

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Bahagia merupakan hal yang realistis, hampir setiap orang akan beda pandangan mengenai arti bahagia. Seperti ketampanan atau kecantikan, yang hampir setiap orang berbeda pandangan. Banyak orang yang bilang si A ganteng, tapi banyak juga yang bilang tidak demikian.

Itulah kebahagian, suatu yang realistis, tak dapat dikejar. Iya, tak dapat dikejar. Karena kebahagian, semakin dikejar semakin menunjukkan Anda sedang tidak bahagia. Hari ini, Anda berkata “Si Fulan sangat bahagia dengan prestasinya, saya harus bisa sepertinya”. Itu menujukkan Anda sedang tidak bahagia dengan keadaan yang Anda punya dan Anda akan berusaha menggapai seperti apa yang telah dicapai oleh orang yang Anda anggap bahagia. Ketika Anda menggapai seperti yang telah dicapai mereka, Anda akan bahagia beberapa saat hingga akhirnya kebahagian itu hilang dengan sendirinya dan Anda akan mengejar lagi kebahagiaan yang sama atau yang lainnya.

Hari ini Anda Bahagia. Anda dibicarakan dengan prestasi, gelar yang Anda miliki dan lain sebagainnya, lambat laun pembicaraan itu hilang dan Anda harus berusaha memperbarui kebahagiaan tersebut. Semua itu akan berputar dan Anda selalu sengsara karena harus mengejar bahagia yang sebenarnya itu hanyalah efek samping dari suatu tindakan yang layak dan baik untuk Anda lakukan.

Maka dari itu, kerjakan yang seharusnya dikerjakan dan carilah kebahagiaan di setiap langkah yang sedang Anda laksanakan. Syekh Mustofa Al-Ghulayaini dalam kitabnya Iddhotun – nasi’in (hal 123) mengatakan “Orang bahagia adalah orang yang memandang kebahagiaan dengan mata fikiran, memposisikan dirinya di tengah, tidak berlebihan (sederhana)”

Sederhana dalam makanan minuman, pangkal dari kebahagiaan karena menjaga kesehatan. Sederhana dalam meraih harta, pangkal dari kebahagiaan dari perkara yang tidak patut dilakukan. Sederhana dalam belajar, penyebab terjauhnya dari kebosanan dan bermalas-malasan.

Syekh Mustofa juga menegaskan, bahwa kebahagiaan ada di depan Anda, carilah dengan ilmu, amal kebajikan, akhlak yang baik dan sederhana lah dalam berbagai tindakan, maka rasakan kebahagiaannya.


*Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari

SebelumnyaKriteria Istri Salihah dalam Surah An-Nisa
BerikutnyaExpo Campus, Media Pengenalan Dunia Perkuliahan untuk Siswa