Oleh: Faizal Amin*

Untuk memahami sesuatu, tentunya kita butuh gambaran dengan hal yang mau dipahami tersebut. Ketika ingin bicara tentang buku, maka kita minimal harus tahu seperti apa bentuk dari buku tersebut. Ketika kita ingin bicara sisir, minimal kita pernah melihatnya. Ketika kita ingin bicara tentang handphone tentunya kita harus tahu gambarannya. Begitu juga jika kita mau bicara Islam atau ingin memahaminya, maka kita harus tahu gambaran dari Islam tersebut. Untuk melihat gambaran sisir, handphone dan lainnya mungkin bagi kita mudah. Namun bagaimana dengan gambaran Islam?

Semua gambaran Islam sebenarnya sudah ada dalam diri Nabi Muhammad Saw, jika kita ingin tahu Islam sebenarnya, maka cukup dengan tahu sosok baginda Nabi Saw. Seandainya Islam digambarkan, maka sosok dan perilaku Nabi sangat pas untuk menjadi sebuah gambaran. Rasulullah Saw, juga bisa disebut dengan al-Rosul hua al-Islam Mujassiman (Rasulullah adalah Islam yang berbentuk fisik). Seperti yang diutarakan oleh Yusuf al-Qordhowi dalam sebuah kitabnya Kaifa nata’amal ma’a al-sunah nabwiyah).

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Namun, semenjak wafatnya baginda Nabi, tentunya kita tidak bisa melihat sosok dan kepribadian Nabi Muhamad Saw. secara langsung. Maka dari itu, kita hanya bisa melihat dan mengetahuinya dengan cara memahami sunnah yang ada. Menurut Imam Qhordowi ada minimal lima hal yang bisa kita gambarkan dari sosok baginda Nabi Saw.

Pertama, Nabi memiliki sistem komperhensif atau disebut dalam bahasa Arab dengan manhaj syumuli. Sistem atau manhaj ini merupakan hal yang dimiliki Nabi, semua telah dicontohkan oleh baginda Rasulullah Saw, mulai dari tata cara berinteraksi dengan manusia, hewan dan cara berkehidupan sosial. Semua medan kehidupan sudah dicontohkan oleh beliau, tinggal kita gimana cara meniru hal tersebut.

Jika manhaj ini diperumpamakan seperti handphone, maka manhaj ini adalah handphone itu sendiri, dari handphone ini kita bisa mengunduh berbagai hal. Bila kita ingin baca al-Quran, maka kita tinggal mengunduhnya. Jika kita mau WhatApp-an, maka kita tinggal mengunduhnya. Begitu pun sunnah Nabi, kita juga tinggal meneladaninya. Ketika kita mau berjualan, maka kita tinggal meneladani bagaimana cara nabi jual beli. Bila kita ingin shalat, maka kita bisa meneladani bagaimana nabi shalat. Semua contoh kehidupan sebenarnya telah dicontohkan oleh baginda Nabi, tinggal kita mencari tahu dan meneladani hal tersebut.

Kedua, Nabi memiliki sistem keseimbangan, yang dalam bahasa Arab disebut dengan manhaj mutawazin. Manhaj ini adalah ‘manhaj paham pertengahan’, tidak berlebihan dalam beragama sehingga menjadi kaum ekstrim kanan (radikal) atau tidak terlalu kekurangan dan lalai hingga menjadi kaum ekstrim kiri (liberal). Maka dari itu Nabi Muhammad Saw, pernah mingingkari sahabatnya yang ingin puasa selama satu tahun, bangun malam tanpa tidur dan menjauh dari wanita hingga tidak menikah. Karena hal semacam ini sudah bisa dikatakan keterlaluan.

Pernah juga ketika Rasulullah melihat Abdullah Ibnu Umar yang selalu ibadah dan meninggalkan hak badannya bahkan keluarganya, Rasulullah menegurnya dan berkata, “Badanmu punya hak untuk istirahat, matamu juga punya hak untuk tidur begitupun keluargamu mereka juga punya hak untuk bersenang-senang dan ramah tamah bersamamu” (Mutafaqun alaih, dari Ibnu Umar).

Selain itu Nabi juga sering berdoa untuk kebaikan dunia dan akhiratnya. “Robbana atina fi-dunnya hasanah wa fil akhiroti hasanah waqina adzabannar”

“Ya Allah berikan kepadaku kebaikan baik di dunia dan akhirat.” Dalam artian Nabi juga ingin urusan dunia dan akhiratnya baik.

Rasulullah Saw, juga tidak lalai dalam beragama, tidak mengesampingkan ajaran dan syariatnya.
Dalam artian tidak menghalalkan segala cara demi terwujudnya suatu keinginan dunia.

Ketiga, Nabi memiliki sistem atau manhaj mutakamil (sistem integrasi), memadukan antar iman dan pengetahuan, antar wahyu dan akal, antar ilmu dan amal, antar kekuatan dan kebenaran, antar Quran dan kekuasaan. Maka dari itu Nabi selain punya pengetahuan belisu juga mengimani pengetahuan tersebut. Begitu banyak dari kita yang mempunyai ilmu tapi tidak masuk dalam hati (tidak mengimani), ilmu hanya untuk diperlihatkan dan dibuat sombong-sombongan.

Keempat, Nabi mempunyai sistem atau manhaj waqi’i (sistem realita), Nabi hidup dengan manusia tidak sama halnya dengan malaikat. Dalam artian belaiu juga makan juga ke pasar, mandi, punya kebutuhan, dan lain sebagainya. Maka jika manusia telah melakukan kesalahan hal itu adalah biasa, karena realitnya memang manusia bukanlah malaikat yang tidak punya dosa, tinggal bagaimana mereka mau bertaubat. Karenanya, agama sangatlah memberi kemudahan dalam berbagai hal. Rasulullah Saw bahkan bersabda:

“Apa yang telah dihalalkan Allah maka halal, dan yang diharamkan adalah haram, adapun yang tidak dijelaskan maka hal tersebut diampuni (dimaklumi), maka terimalah apa yang telah Allah ampuni karena sesungguhnya Allah tidak lupa mengenai hal tersebut, kemudian nabi membaca ayat

وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيَّا

Dan tidaklah Tuhanmu lupa.” (HR. Hakim)

 Dalam artian banyak kemudahan yang diberikan agama terhadap kita, bahkan agama sering mengalah demi melihat realita yang terjadi di diri manusia. Seperti ketika manusia dalam keadaan dharurat, agama atau baginda Nabi datang dan memberi kemudahan.

Kelima, Nabi memiliki sistem atau Manhaj muyassar (sistem memudahkan), dalam hal ini Nabi pernah bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَمْ يَبْعَثْنِى مُعَنِّتًا وَلاَ مُتَعَنِّتًا وَلَكِنْ بَعَثَنِى مُعَلِّمًا مُيَسِّرًا

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak mengutusku menjadi orang yang mempersulit (masalah) dan orang yang mencari-cari kesulitan, tetapi sebagai pendidik yang memudahkan.” (HR.Muslim)

Bahkan Nabi Saw, mengajarkan pada umatnya untuk mempermudah dalam urusan, Nabi bersabda:

Artinya: Anas bin Malik raḍiyallāhu ‘anhu- meriwayatkan secara marfū’ “Permudahlah dan janganlah kalian mempersulit. Gembirakanlah dan janganlah kalian menakut-nakuti”. (Muttafaq ‘alaih).

Bukti dari kemudahan tersebut juga bisa kita lihat dari berbagai syariat yang dibawa baginda Muhammad Saw. Dalam urusan shalat, ketika dalam perjalanan kita diperbolehkan meng-qosor atau men-jama’nya. Dalam hal bersuci selain Nabi mensyariatkan wudhu, beliau juga menyiapkan penggantinya yaitu tayamum (bersuci dengan debu). Ketika umatnya sakit, maka shalat yang awalnya wajib berdiri beliau memberi kemudahan dengan memperbolehkan shalat dalam keadaan duduk. Namun kemudahan yang diberikan nabi ini tidak keluar dari batas-batas agama yang telah ditentukan.

Dari sistem atau manhaj yang dicontohkan baginda Nabi, mulai dari manhaj syumuli, mutawazin, mutakamil, waqi’i dan muyassar bisa kita ketahui sosok baginda Nabi Muhamad yang sebenarnya dan gambaranan Islam sesungguhnya. Wallahualam


Sumber: kaifa nata’amal ma’a al-Sunah An-Nabawiyah lil Imam qordhowi


*Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari

SebelumnyaHarapan Gus Fahmi di Harlah ke-123 Tahun Pesantren Tebuireng
BerikutnyaSeminar UNHASY REBORN, Ungkap Sejarah dan Perjuangan